Selasa, 16 Jun 2026 19:32 WIB

Mbediding: Suhu Dingin Menyergap Saat Kemarau, Waspadai Dampaknya!

  • Penulis :
  • | Sabtu, 19 Jul 2025 17:51 WIB
Cuaca dingin yang kerap terjadi di tengah langit cerah, rupanya menyimpan risiko tersembunyi.Foto ilustrasi: AI Generated Images
Cuaca dingin yang kerap terjadi di tengah langit cerah, rupanya menyimpan risiko tersembunyi.Foto ilustrasi: AI Generated Images

jatimnow.com - Fenomena mbediding, yaitu penurunan suhu udara secara tajam di malam hingga pagi hari selama musim kemarau, kembali dirasakan masyarakat.

Cuaca dingin yang kerap terjadi di tengah langit cerah, rupanya menyimpan risiko tersembunyi bagi kesehatan manusia dan keseimbangan lingkungan.

Baca Juga: Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Pakar Teknik Lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR), Wahid Dianbudiyanto bilang, fenomena mbediding terjadi karena berkurangnya awan yang biasanya menahan radiasi panas dari permukaan bumi saat malam hari.

“Permukaan bumi kehilangan panas lebih cepat karena tidak ada awan yang menahan radiasi balik ke atmosfer,” ujarnya.

Selain itu, angin muson timur dari Australia yang sedang mengalami musim dingin membawa massa udara dingin dan kering ke Indonesia bagian selatan. Kondisi ini menyebabkan suhu malam hari bisa turun drastis hingga mencapai 17 derajat Celcius, bahkan lebih rendah di dataran tinggi.

Fenomena ini diperkirakan akan berlangsung hingga September, mengikuti puncak musim kemarau. Meski merupakan siklus musiman alami, Wahid mengingatkan bahwa perubahan iklim global dapat memperburuk pola ini di masa depan.

Baca Juga: BTN Gandeng UNAIR, Perkuat Literasi Finansial dan Ekosistem Kampus Digital

Dampak dari suhu dingin yang ekstrem ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga berpotensi memicu gangguan kesehatan.

Menurut Wahid, suhu dingin dapat memicu penyakit pernapasan seperti influenza dan asma. Bagi sektor pertanian dan peternakan, kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dan berisiko menyebabkan kematian ternak.

Ia menambahkan bahwa meskipun belum ada laporan signifikan, risiko meningkat apabila fenomena ini berlangsung lebih lama.

Baca Juga: Fenomena Bromo Bersalju Pertama di 2026 Hipnotis Wisatawan

Untuk itu masyarakat diimbau untuk waspada terhadap dampak jangka pendek mbediding dengan mengikuti prakiraan cuaca secara rutin, memakai pakaian hangat, dan menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan sehat dan konsumsi vitamin.

“Fenomena ini bukan bencana, namun jika terus diabaikan bisa menjadi peringatan alam akan pentingnya kesiapsiagaan lingkungan,” tuturnya.

Meskipun belum ada rekomendasi kebijakan khusus, edukasi publik tentang fenomena alam mbediding perlu ditingkatkan guna mengantisipasi dampak yang mungkin timbul, terutama pada kesehatan dan lingkungan.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.

Curi Uang Kotak Amal Masjid, Pria di Blitar Diarak Warga

Pihak takmir masjid dan warga jemput pelaku di rumah, kini pelaku sudah diserahkan ke pihak berwajib.