Kamis, 18 Jun 2026 17:01 WIB

Membaca Franz Kafka Tetap Relevan usai 100 Tahun Wafatnya Sang Pengarang

  • Penulis :
  • | Minggu, 23 Feb 2025 10:45 WIB
Yusri Fajar saat menyerahkan buku tentang karya Franz Kafka pada  Direktur Wisma Jerman di Surabaya, Mike Neuber . (Foto: Endang Pergiwati/jatimnow.com)
Yusri Fajar saat menyerahkan buku tentang karya Franz Kafka pada Direktur Wisma Jerman di Surabaya, Mike Neuber . (Foto: Endang Pergiwati/jatimnow.com)

jatimnow.com - Tak ada yang menyangka sebelumnya, bahwa keterasingan yang diungkap sastrawan Jerman, Franz Kafka, dialami oleh masyarakat masa kini, 100 tahun setelah sang sastrawan wafat.

Inilah salah satu alasan mengapa sosok dan karyanya masih relevan untuk dibahas di masa sekarang. Hal ini dipaparkan Direktur Wisma Jerman di Surabaya, Mike Neuber saat membuka kegiatan membaca Kafka yang bertema Membumikan Kafka di Tanah Nusantara di C2O Libraby and Collabtive di Surabaya.

Baca Juga: Teater Api Indonesia Berbagi Pengalaman Misi Budaya di Wisma Jerman Surabaya

"Dari kegiatan membaca kembali karya-karya Kafka di masa kini, kami berharap ada perspektif baru yang bisa kita peroleh. Absurditas dan keterasingan adalah beberapa tema yang dibawa Kafka yang masih relevan hingga kini, tidak terbatasi olek waktu dan lokasi. Bahkan menjadi inspirasi," ujar pria asli Jerman ini dengan Bahasa Indonesia yang fasih, Sabtu (23/2/2025).

Pembacaan Kafka ini juga digelar untuk memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional. Karena itu, selain membahas bagaimana gagasan Kafka dibaca, juga diulas perspektif baru yang diperoleh penterjemah karya Kafka ke berbagai bahasa daerah, di antaranya Bahasa Jawa dan Bahasa Madura.

Sementara dosen Sastra Inggris Universitas Brawijaya Malang, Yusri Fajar, menyebutkan bahwa karya yang ditulis Kafka adalah karya berpengaruh, karena mampu memberikan inspirasi sehingga tetap dibaca hingga di 100 tahun sesudah ia wafat.

"Kafka telah menempatkan tokoh dalam cerpennya sebagai simbol dehumanisasi. Misalnya dalam cerpen Di Depan Hukum, seseorang yang harus menjalani persidangan tanpa kesalahan yang jelas, dengan proses peradilan yang tidak jelas pula. Muatan universal ini masih relevan hingga saat ini di Indonesia," ucap Yusri Fajar.

Di sisi lain, Yusri juga mengungkapkan upaya memahami karya-karya Kafka, ia lakukan dengan melakukan napak tilas kehidupan Kafka.

Baca Juga: 7 Peraih Anugerah Sutasoma 2024 dari Balai Bahasa Jatim

"Kafka lahir di Kota Praha, Cekoslovakia. Saya melakukan perjalanan ke kota itu untuk merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di sana. Saya juga dapat merasakan semangat proses kreatif, bagaimana ia mengalami konflik dan merespons masyarakat di sekitarnya. Seorang pengarang tidak mungkin menulis hanya dengan berdiam diri di kamar sepanjang waktu, namun ia melakukan perjalanan dan berinteraksi dengan orang lain. Itulah wisata sastra dan sastra wisata," papar Yusri Fajar.

Yusri juga mengapresiasi kerja penterjemah berbagai bahasa, termasuk dalam bahasa lokal di Indonesia seperti bahasa Jawa dan Madura. Karya penterjemahan ini memungkinkan karya Kafka bisa dinikmati secara lebih luas.

Seperti yang diungkapkan Rizaldi AP, yang menerjemahkan cerpen Kafka dalam bahasa Madura dan Sugito Sostrosasmito yang menerjemahkan dalam bahasa Jawa. Masing-masing penerjemah memiliki tantangan berbeda, namun menemukan benang merah yang sama bahwa karya Kafka sangat relevan untuk dinikmati dalam keindahan sastra daerah, baik Jawa maupun Madura.

"Masalah hukum yang dialami tokoh dalam cerpen berjudul Di Depan Hukum, tak berbeda dengan yang dialami masyarakat di Madura," ucap Rizaldi mencontohkan.

Baca Juga: Diskusi Buku Mega Merger In The Pandemic Era: Referensi Perbankan Syariah

Bahkan Sugito memandang Kafka sebagai orang yang sangat njawani (berkarakter orang Jawa) ketika ia menghadirkan sosok miskin di tengah musim dingin, tak mampu membeli arang sebagai penghangat di rumahnya, meski ia bertetangga dengan orang kaya penjual arang.

"Si tokoh akhirnya memilih ingin mati di atas gunung bersalju, menjauh dari rumahnya yang bersebelahan dengan penjual arang yang kaya raya, tetapi tidak mau memberikan sedikit sisa arang untuk si tokoh. Karakter yang sangat njawani ada pada si tokoh yang tidak ingin menimbulkan fitnah, bila ia mati kedinginan di rumah, sementara ia bertetangga dengan penjual arang yang kaya raya," ucap Sugito.

Pembacaan kafka ini selanjutnya ditutup dengan dramatic reading oleh Sugito, Rizaldi, dan Ita Surajaya, pegiat aksara.

Editor : Endang Pergiwati
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.