Senin, 22 Jun 2026 11:20 WIB

Ratusan Massa di Jember Desak Bupati Hendy Tanggung Jawab atas Penghentian JPK

  • Penulis : Sugianto
  • | Kamis, 09 Jan 2025 17:46 WIB
Ratusan masyarakat Jember demo kantor Dinas Kesehatan. (Foto: Sugianto/jatimnow.com)
Ratusan masyarakat Jember demo kantor Dinas Kesehatan. (Foto: Sugianto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Penghentian program J-Keren atau Jember Pasti Keren (JPK) membuat masyarakat Jember melakukan demontrasi. Ratusan massa meminta Bupati Hendy Siswanto bertanggung jawab.

"Gak usah macak (berlagak) ren makeren Dy Hendy. Rakyat miskin kebingungan sekarang kalau sakit," kata Koordinator Aksi, Kustiono saat orasi di depan Kantor Dinas Kesehatan Jember, Kamis (9/1/2025).

Baca Juga: Kader NasDem Jember Desak Dewan Pers Sanksi Majalah Tempo

Sebelumnya, Bupati Hendy memiliki program J-Keren dan tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 39 tahun 2022 dan hingga sekarang belum dicabut oleh Bupati.

Namun, Kepala Dinas Kesehatan Jember dr. Hendro Soelistijono 30 Desember 2024 menghentikan program J-Keren di 3 rumah sakit daerah (RSD) dan 50 Puskesmas di Jember. Pasalnya, program J-Keren menyisakan hutang sebesar Rp160 miliar pada 3 RSD dan masuk skema ganda serta tidak bisa dianggarkan tahun 2025.

Padahal, menurut Kustiono saat rancangan Perbup tidak diperkenankan Pemkab Jember melaksanakan rancangan Perbup, namun tetap saja dijalankan.

Sehingga saat ini, masyarakat Jember yang kategori tidak mampu mulai 2025 tidak dapat dilayani dengan J-Keren.

Baca Juga: Foto: Aksi Dramatis Korps Marinir Guncang Jakarta

"Karena belum dicabut, bukan kah ini masuk kategori penyalahgunaan wewenang dan sewenang-wenang oleh Kepala Dinas Kesehatan dr. Hendro Soelistijono," ungkapnya.

Kustiono mendesak Bupati Hendy mempertanggung jawabkan kepada publik, tentang kegagalan program J-Keren dan mencabut Perbup terlebih dahulu.

Sedangkan, Kepala Dinas Kesehatan dr. Hendro Soelistijono mengatakan, penggentian J-Keren karena tidak tersedianya anggaran.

Baca Juga: Dalang Kerusuhan Jakarta Terungkap? Mantan Kepala BIN Ungkap Ini

"Sebetulnya, dengan tidak tersedia anggaran, rumah sakit bersurat kepada dinas kesehatan, terkait terhentinya layanan karena penganggaran operasional terganggu belum terbayarnya program JPK," sebutnya.

Hendro menegaskan, terkait dengan pencabutan Perbup, itu bukan kewenangan kepala dinas, melainkan kewenangan dari Bupati.

"Itu bukan urusan kami. Program itu (JPK) berjalan kalau ada anggaran. Perbup itu payung yang memayungi program itu sah. Tapi program itu tidak bisa berjalan kalau tidak ada anggaran. Karena tidak ada maka kita hentikan," ujarnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.