Rabu, 17 Jun 2026 19:24 WIB

Buntut Kekerasan Siswa, Penjelasan Kadispendik Jatim di Medsos Aneh

Halaman muka facebook milik Saiful Raachman
Halaman muka facebook milik Saiful Raachman

jatimnow.com - Kepala Dinas Pendidikan (Kedispendik) Jawa Timur Saiful Rachman diminta tidak bikin gaduh setelah kasus kekerasan siswa oleh kepala sekolah terjadi di SMKN 1 Surabaya.

Gubernur Soekarwo juga meminta Saiful Rachman tidak memperpanjang polemik di media sosial dengan menutup akun Twitter dan WhatssApp.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Mengapa Pakde Karwo minta Saiful Rachman tidak gaduh?

Dari penelusuran, akun facebook Saiful Rachman pada 26 September 2018 memuat status panjang tentang kejadian di SMKN 1 Surabaya.

Yang ditulis Saiful Rachman tersebut kontroversial. Ia menyangkal adanya siswa yang di jambak.

"Adanya siswa lainya dijambak atau dipukul, dari penjelasan tidak terjadi adanya prilaku itu", tulis Saiful Rachman.

Kemudian penjelasan Saiful Rachman yang bertolak belakang dengan fakta ada ia menyebut anak-anak keluar kelas saat ujian berlangsung, kemudian ditegur kepala sekolah.

"Kepala Sekolah memang menegur karena saat ujian berlangsung mereka sudah keluar kelas lebih dulu dan membuat gaduh yang bisa menanggu siswa lain", terangnya.

Penjelasan Saiful Rachman ini tentu akan memperpanjang masalah. Sebab Kepala Sekolah SMKN 1 Bahrun disaksikan Kapolsek Wokokromo Kompol Rendy Surya dan ketiga siswa yang jadi korban sudah mengakui perbuatannya dan minta maaf, bahkan menandatangani pernyataan bermaterai.

 

 

"Semua saat itu dengar jika mereka keluar kelas karena diminta guru. Yang sudah menyelesaikan bisa keluar kelas, tanya dong gurunya saat itu. Pak Saiful Rachman jangan ngawur," tegas Budi Sugiharto, orangtua RA yang kena tampar, Sabtu (29/9/2018). RA ini adalah siswa inklusi.

Selain itu, korban siswa yang dijambak itu bukan fiktif. Siswa yang dijambak dan dicubit dadanya ada ZA. Dia juga memberikan pernyataan di depan Bahrun dan kepolisian.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah Berawan

"Jadi aneh juga pernyataan Kadispendik Saiful Rachman ini. Coba deh, bapak konfirmasi ke Kapolsek Wokokromo Kompol Rendy Surya yang jadi saksi. Itu saksinya polisi lho pak, mosok sampean meragukan," kata Budi.

Baca Juga:

Untuk mengetahui jelas isi penjelasan Saiful Rachman di Facebook yang sampulnya dipajang foto Saiful Rachman saat bersama Kepala Sekolah SMKN 1 Surabaya Bahrun, inilah lengkapnya:

Assalamulaikum Wr. Wb. Hari ini viral di sosial media serta banyaknya WA dan Telpon ke saya terkait kabar Kepala Sekolah SMKN 1 Surabaya menampar seorang siswa inklusi.

Sebagai Kepala Dinas saya sudah memanggil kepala sekolah didampingi Kacab Pendidikan Surabaya. Untuk mendengarkna klarifikasi kasus itu.
Prinsipnya bahwa peristiwa itu memang terjadi, namun tidak dramatis sebagaimana diberitakan.

Tamparan itu bukan tamparan yang ada unsur sengaja mencelakan, melainkan bentuk penegakkan displin, dan tidak ada maksud mencederai siswa. Adanya siswa lainya dijambak atau dipukul, dari penjelasan tidak terjadi adanya prilaku itu.

Kepala Sekolah memang menegur karena saat ujian berlangsung mereka sudah keluar kelas lebih dulu dan membuat gaduh yang bisa menanggu siswa lain.

Bahkan, ketika hasil ujian diperiksa ternyata mereka tidak menyelesaikan soal soal ujian secara keseluruhan. Padahal, yang dibutuhkan adalah nilai maksimal.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah Berawan

Sehingga kepala sekolah menegur dan mengingatkan sebagai bentuk penegakan disiplin. Setelah saya mendengar itu, saya minta agar diselesaikan secepatnya.

Dan pihak kepala sekolah sudah menyampaikan permintaan maaf dan mengaku salah. Saya sudah minta kepada yang bersangkutan untuk menyelesaikan secara kekeluargaan.

Sebab, apapun tindakan akan berdampak persepsi negatif apalagi mereka yang tidak tahu peristiwa yang sebenarnya. Dan, Insya Allah sudah tuntas.
Terhadap keinginan bahwa kepala sekolah harus mundur. Saya perlu tegaskan bahwa itu domain Dinas Pendidikan. Sebab, Dindik memiliki paramater tersendiri dalam menilai kesalahan seorang guru atau kepala sekolah. Jadi, menuntut mundur bukan solusi.

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi semua guru di Jatim. Ambil hikamhnay untuk tetap hati hati dalam bertindak. Guru adalah membina dan mendidikan.

Mudah mudahan dengan penjelasan ini masyarakat memahami. Dan mari sama sama menjadikan Pendidikan di Jatim semakin berkualitas. Terima Kasih Mohon Maaf. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Editor : Erwin Yohanes
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.