Minggu, 21 Jun 2026 03:21 WIB

Massa Gelar Demo Kawal Putusan MK di Surabaya, Ini 3 Tuntutannya

Massa berunjuk rasa di Tugu Pahlawan. (Foto-foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)
Massa berunjuk rasa di Tugu Pahlawan. (Foto-foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)

jatimnow.com - Sejumlah massa berpakaian serbahitam menggelar demonstrasi di Tugu Pahlawan Surabaya, Kamis (22/8/2024).

Mereka turun ke jalan menyerukan untuk mengawal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan mengecam serangkaian upaya pembangkangan konstitusi yang dilakukan rezim Joko Widodo dan kroni partai pendukungnya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Dalam aksinya massa menuntut 3 hal yakni yang pertama menuntut Presiden dan DPR untuk menghentikan pembahasan mengenai revisi UU Pilkada dan mematuhi putusan MK nomor 60/PUU-XXII/2024 dan putusan MK nomor 70/PUU-XXII/2024.

Kemudian, yang kedua massa aksi juga mendesak agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk segera menindaklanjuti putusan MK tersebut.

Selanjutnya jika pembahasan RUU Pilkada tetep dilanjutkan maka masa mengancam bakal menggelar aksi yang lebih besar dan melakukan pembangkangan sipil untuk melawan tirani dan oktokrasi rezim Presiden Jokowi dan partai politik pendukungnya dengan memboikot Pilkada 2024.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah Berawan

Narahubung aksi Thanthowi mengungkapkan bahwa aksi kali ini respons dari masyarakat yang sudah jengah dan resah dengan kelakuan penguasa dan para elite politik yang ingin melanggengkan dan memuluskan kepentingan mereka sendiri.

"Sesuai dengan tiga tuntutan kami, bahwa tidak boleh ada kelompok orang, atau keluarga yang harus diutamakan dengan membolak-balikan peraturan untuk melanggengkan kepentingan mereka," ujar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair tersebut.

"Kami juga menolak dinasti politik manapun, bahwa setiap warga negara dan anak bangsa mempunyai hak yang sama terhadap akses politik, ekonomi maupun sosial," sambungnya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah Berawan

Kemudian, Thanthowi juga menyerukan untuk menolak RUU Pilkada yang mana hal itu dinilai sebagai upaya untuk melanggengkan tirani kekuasaan rezim.

"Kita tidak boleh diam, aksi hari ini murni kami bergerak tidak mewakili apa pun dan siapa pun. Bahwa masyarakat harus melek dan sadar dengan apa yang terjadi di negeri ini, karena hal ini akan berdampak pada keberlanjutan anak cucu kita dimasa depan," tutupnya

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.