Kamis, 18 Jun 2026 15:46 WIB

Krisis Air Bersih di Wilayah Jawa Timur Masih Belum Teratasi

Droping air bersih ke wilayah kekeringan/Foto: Dok
Droping air bersih ke wilayah kekeringan/Foto: Dok

jatimnow.com - Musim kemarau yang terjadi di tahun 2018 ini membuat kekeringan di beberapa wilayah provinsi Jawa Timur. Krisis air bersih dampak kekeringan ini dirasakan oleh warga.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi Jatim, Suban Wahyudiono mengatakan, jika saat ini pihaknya sudah mengupayakan semaksimal mungkin membantu masyarakat untuk mendapatkan distribusi air bersih.

Kekeringan sendiri dibagi menjadi tiga tingkatan yakni, kekeringan langka terbatas, kekeringan langka dan kekeringan kritis.

"Untuk kekeringan langka terbatas dan kekeringan langka pihak kami sudah mengatasinya dengan cara mengebor dan membangun embung air. Nantinya masyarakat bisa memanfaatkan dan mengakses air dari potensi-potensi yang sudah kita bor itu," terang Suban ketika dihubungi jatimnow.com, Minggu (16/9/2018).

Untuk kondisi daerah yang mengalami kekeringan kritis sudah tidak ada potensi air di daerah tersebut. Dalam hal ini pemerintah tidak dapat mengebor atau membuat saluran air disekitar daerah tersebut untuk mengatasi kekeringan.

Saat ini pihak BPBD Jatim sudah membangun saluran air di 126 desa yang berarti 25 persen dari daerah terdampak sudah teratasi. Untuk mengatasi kekeringan mendatang pihaknya juga akan membangun saluran air untuk 97 desa. Desa-desa tersebut bukan merupakan desa dengan kekeringan kritis.

"Daerah kekeringan kritis bukan prioritas utama pembangunan saluran air karena sumber air cukup jauh mendapatkannya. Seperti contoh salah satu desa di Madura yang sumber airnya berjarak 15 km diatas gunung, itu memerlukan biaya yang cukup besar. Jadi kita kerjakan yang mudah dulu, daerah kritis menunggu semua teratasi " kata Suban.

Dengan dikerjakannya yang mudah terlebih dahulu bukan berarti pihak BPBD menelantarkan daerah terdampak kekeringan kritis. Pihaknya selalu memberikan air (dropping) dalam tangki air 6000 liter untuk keperluan air rumah tangga di daerah yang terdampak kekeringan kritis.

"Hingga kini kami sudah dropping 1.670 tangki air yang masing-masing 6.000 liter. Hujan nanti akan mulai turun pada bulan November, itu berdasarkan perkiraan BMKG ya. Kayaknya kekeringan ini akan usai pada akhir Oktober. Kita doakan saja supaya kemarau segera usai sehingga daerah yang terdampak kekeringan dapat teratasi," harapnya.

Baca Juga: Puluhan Tandon Air Disiapkan BPBD Tulungagung Untuk Antisipasi Kekeringan

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.