Minggu, 14 Jun 2026 10:06 WIB

Menengok Kampung Gerabah di Probolinggo, Harga Cobek hanya Segini

  • Penulis : Haryo Agus
  • | Jumat, 17 Mei 2024 15:31 WIB
Warga Desa Alas Kandang, Besuk, Kabupaten Probolinggo yang menjadi pengrajin gerabah (Foto-foto: Haryo Agus/jatimnow.com)
Warga Desa Alas Kandang, Besuk, Kabupaten Probolinggo yang menjadi pengrajin gerabah (Foto-foto: Haryo Agus/jatimnow.com)

jatimnow.com - Salah satu kekayaan budaya di Kabupaten Probolinggo, dapat ditemukan di Desa Alas Kandang, Besuk. Di sana, terdapat sentra kerajinan gerabah.

Saking banyaknya warga yang membuat gerabah, Desa Alas Kandang juga disebut sebagai kampung gerabah.

Baca Juga: Tragis! Nenek di Probolinggo Tewas Tertemper Kereta Api Blambangan Ekspres

Hampir 80 persen warga di Dusun Nangger, Alas Kandang, bekerja sebagai pengrajin gerabah. Salah satunya Muhammad.

Muhammad belajar membuat gerabah dari orang tuanya, dan usahanya itu sudah turun temurun dari nenek moyangnya terdahulu.

Awalnya dia hanya membuat cobek dan tungku. Hingga akhirnya Muhammad belajar membuat patung di Bali untuk mengembangkan kemampuannya membuat gerabah.

"Saat ini sudah menjadi lokasi tempat edukasi para siswa untuk membuat gerabah," kata Muhammad pada jatimnow.com, Jumat (17/5/2024).

Bahkan, kemampuan Muhammad dalam membuat kerajinan gerabah sudah diakui di tingkat provinsi, terbukti dia mampu manyabet juara di lomba kerajinan tingkat provinsi.

Baca Juga: Siswi SD Asal Probolinggo Wakili Jatim di Ajang Duta Anak Indonesia 2026

"Saya belajar membuat patung sampai ke Bali, Jember, dan kota lain untuk meningkatkan kemampuan," ujarnya.

Pembuat gerabah yang lain, Arif, mampu menjual gerabahnya hingga ke luar daerah Probolinggo. Bahkan Arif mampu menjual puluhan ribu cobek dan tungku setiap bulan.

"Setiap bulan saya ngirim ke Madura itu satu truk, jumlahnya sekitar 6000 biji. Kalau ke Jember 2000, Pasuruan juga sekitar 3000an. Belum kota yang lain," kata Arif.

Baca Juga: Terima SK, DPC PPP Kota Probolinggo Pasang Target Raih Lima Kursi DPRD

Arif mengatakan, dirinya dibantu oleh 20 pekerja untuk memenuhi permintaan pembeli. Sebab, proses pembuatan gerabah, khususnya cobek dan tungku membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Ini dibuat dari tanah liat dibasahi terus dicampur pasir. Kemudian dicetak dan dijemur selama seminggu kalau cuacanya bagus. Kemudian di bakar selama 3 jam," ucapnya.

Arif menuturkan, dirinya menjual cobek dengan harga yang cukup murah. Untuk cobek yang ukuran kecil, Arif menjual dengan harga Rp3 ribu. Sedangkan untuk yang ukuran sedang Rp5 ribu, dan yang besar sekitar Rp10 ribu.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.