Rabu, 22 Jul 2026 06:16 WIB

DBD Ancam Warga Kabupaten Kediri, 2 Anak Meninggal

  • Penulis :
  • | Senin, 01 Apr 2024 13:01 WIB
Pelayanan di Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Pelayanan di Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Demam Berdarah Dengue (DBD) mengancam warga Kabupaten Kediri, pada awal 2024 ini. Hingga akhir Maret sudah ada ratusan orang terjangkit, dua di antaranya meninggal dunia akibat gigitan nyamuk aedes aegypti

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Kediri, dr. Bambang Triyono Putro mengatakan, dua korban merupakan anak berusia empat dan enam tahun. Mereka meninggal dunia dalam perawatan di rumah sakit.

Baca Juga: PBNU Kirim Tim Survey Lokasi Muktamar ke Ponpes Lirboyo Kediri, Ini Hasilnya

"Dua pasien meninggal dalam kondisi DSS dan dibawa ke rumah sakit saat fase kritis. Ada keterlambatan," ungkap dr. Bambang Triyono, pada Selasa (1/4/2024).

Masih kata dr. Bambang, terkadang orang tua kurang waspada. Saat anak mereka mengalami gejala panas tidak segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

"Saat anak mengalami gejala panas 2-3 hari tidak segera dibawa ke fasilitas kesehatan, tetapi hanya diberi obat, lalu panasnya turun. Nah, panas pada hari ke-4 dan ke-5 itulah fase kritis,” terang dr. Bambang.

Baca Juga: Mahasiswa Unair Ciptakan Malaiscope, Alat Deteksi Cepat Malaria

Tidak hanya faktor cuaca hujan, tingginya kasus DB di Kabupaten Kediri ini juga dipengaruhi oleh tingkat aktifasi kader juru pemantau jentik (jumantik) dan masyarakat. Hal ini berbanding lurus dengan angka bebas jentik.

dr. Bambang mengakui angka bebas jentik di Kabupaten Kediri di bawah ideal. Hasil pemantauan petugas sampai akhir 2023 menunjukkan angka bebas jentik baru 80 persen.

"Diakui angka bebas jentik kita di bawah rata rata. Idealnya 95 persen. Kita masih 80 persen. Ini tugas kader dan peran pemdes," ungkap dia.

Baca Juga: Dukung UMKM Go Global, BI Kediri Gelar Karya Kreatif Mataraman x DIGIMAFest

Untuk meningkatkan angka bebas jentik nyamuk ini, kata dr. Bambang, bisa dilakukan dengan berbagai program. Mulai dari gerakan satu rumah satu jumantik, program abatisasi (pemberian obat abate) juga program ikanisasi (pemberian ikan sebagai predator jentik nyamuk).

"Ada program ikanisasi. Tetapi itu diambil oleh desa. Lalu, gerakkan satu rumah satu jumantik. Termasuk ke sekolah-sekolah. Karena kalau dilihat dari usia penderita DB ini diantara 4-14 tahun. Sehingga kita dorong sekolah untuk berperan aktif," tandasnya.

Editor : Yanuar D
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.