Jumat, 12 Jun 2026 21:31 WIB

Terasi Puger, Olahan Udang Rebon Khas Jember yang Istimewa

Penjual terasi Puger. (Foto: Ahaddiini HM for jatimnow.com)
Penjual terasi Puger. (Foto: Ahaddiini HM for jatimnow.com)

jatimnow.com - Daerah Puger Kecamatan Jember selain dikenal karena berbagai macam tempat wisatanya, juga terkenal dengan hasil olahan potensi sumber daya alamnya. Salah satunya adalah terasi khas Puger.

Muhammad Ma'rufi (31) warga Puger Wetan Jember, salah satu produsen terasi mengaku menggeluti usaha sejak 2009.

Baca Juga: Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

"Terasi Puger masih menggunakan sistem tradisional. Aromanya lebih dapat rasa manis udang keluar, perbandingan terasi dari rasa memang kuat terasi Puger," terangnya kepada jatimnow.com, Selasa (2/1/2024).

Ia melanjutkan, jenis udang yang digunakan untuk pembuatan terasi Puger menggunakan rebon khusus.

"Pakai udang rebon khusus Puger hanya ada di Puger, berbeda dengan lainnya, karena langsung dari laut, langsung jemur makanya rasanya kuat dan khas," imbuhnya.

Ma'ruf yang setiap hari berjualan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger ini menjelaskan teknik pembuatan terasi produksinya.

"Caranya, awal kita dapat rebon langsung dijemur, 80 persen kering kita tumbuk, diamkan satu malam. Esok harinya kita jemur, kemudian dijemur lagi, sampai kering didiamkam lagi semalam. Besoknya ditumbuk, dibentuk. Kalau sudah 3 hari diletakkan di tempat terbuka diangin-anginkan supaya keluar cairan dari terasi. Sebelum dikemas, cairan harus timbul dulu kemudian kita lap (dibersihkan ) dengan tisu, setelah itu di-packing siap jual," terangnya.

Baca Juga: Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Dalam sekali produksi, Ma'rufi menghabiskan 3 ton sekali proses dalam seminggu dan didistribusikan di wilayah sekitar pulau Jawa, Bali hingga Papua.

"Dijual mulai harga Rp20 ribu berat 250 gram, Rp35 ribu 500 gram kalau yang paling besar Rp80 ribu, Rp90 ribu hingga Rp125 ribu. Kalau lagi mahal-mahalnya bisa sampai Rp175 ribu ketika gak ada barang dan permintaan banyak," tuturnya.

Ia juga menyampaikan ketika bahan baku udang rebon Puger sedang tidak tersedia, harus memutar otak agar usahanya tetap berproduksi.

Baca Juga: Kerja Sama Sister City Jember-Jinhua Tuai Pujian Akademisi UB

"Solusi ketika tidak ada udang rebon Puger karena sedang tidak musim, kita ambil rebon daerah lain, seperti Kenjeran Surabaya, Pangandaran hingga Jambi. Namun karena belum bisa menyamai kualitas udang rebon Puger, sehingga berpengaruh ke kualitas yang kurang maksimal dan jualnya jadi lebih murah karena beda rasa dengan rebon udang khas Puger sebagai bahan dasar terasi," tuturnya.

Ma'rufi juga membocorkan tips agar terasi Puger tetap awet dan tetap beraroma khas. Caranya, terasi dikukus, setelah itu sangrai kering, dan masukkan kulkas.

 

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.

Umat Buddha di Tulungagung Ikuti Ritual Atthami Puja di Candi Sanggrahan

Ritual tersebut merupakan perayaan penting dalam agama Buddha yang menghormati kelahiran, pencerahan, dan parinirvana Sang Buddha Gautama.