Rabu, 24 Jun 2026 15:02 WIB

Hormati Leluhur, Umat Kong Hu Chu Gelar Ritual King Hoo Ping

  • Penulis : CF Glorian
  • | Jumat, 31 Agu 2018 19:50 WIB
Membakar uang mainan dan lain sebagainya dalam ritual King Hoo Ping
Membakar uang mainan dan lain sebagainya dalam ritual King Hoo Ping

jatimnow.com - Ritual King Hoo Ping atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah rebutan, merupakan satu ritual yang ditujukan untuk menghormati para leluhur bagi para umat Kong Hu Chu. Ritual ini dilakukan umat Kong Hu Cu setiap tanggal 15 bulan Tujuh Imlek.

Di Klenteng Poo An Kiong, ritual ini diikuti oleh sekitar seratus orang keturunan Tionghoa. Para umat tampak khidmat mengikuti ritual yang ditujukan bagi para pendahulu yang sudah meninggal dunia.

Baca Juga: Ziarah ke Makam Bung Karno, Kapolri Listyo Sigit Serap Nilai Kepemimpinan Bangsa

"King Hoo Ping dilaksanakan pada Qi Yue Imlek (Bulan ke Tujuh tahun Imlek). Pada tanggal 15 ritual sudah dilakukan setiap rumah dan tanggal 21 dilakukan serentak di sini (Klenteng Poo An Kiong)," kata XS Titis Tri Warsi, Rohaniah Kong Hu Chu, Jumat (31/08/2018).

Ritual King Hoo Ping diawali dengan berdoa kepada Tuhan. Setelah itu dilanjutkan dengan mendoakan para suci dan dilanjutkan dengan doa kepada para malaikat bumi.

"Karena kita itu meninggal dan dikembalikan ke bumi. Makanya ini sebagai rasa terimakasih kepada malaikat bumi," papar dia.

Usai doa kepada para malaikat bumi, para umat kemudian mulai mendoakan para leluhurnya. Sebagai penyempurnaan sembahyang, ada ritual Ming Zi. Dalam ritual ini, umat membakar benda berharga sebagai tanda agar dinikmati oleh para pendahulu.

Mulai dari pakaian, perhiasan dan uang, semuanya dimasukkan ke dalam kotak dan dibakar. Namun yang dibakar adalah uang mainan dan perhiasan imitasi. Pembakaran benda berharga itu dilakukan didepan kelenteng.

Baca Juga: Jenazah Santriwati Asal Kediri yang Terseret Ombak di Blitar Ditemukan

"Ini hanya sebagai simbol saja. Agar nanti bisa dinikmati juga oleh para leluhur. Leluhur itu bisa neneknya, atau ayah dan ibu yang sudah meninggal," ujar wanita berkacamata tersebut.

Bulan hantu ini kemudian diakhiri dengan pembagian beras, dan makanan ringan kepada anak-anak. Bila dulunya acara ini dilakukan dengan cara berebut, namun kini diubah dengan sistem kupon.

"Dulu memang rebutan. Tapi karena dampaknya juga ndak baik ada yang terinjak dan terjepit, sekarang pakai kupon. Toh mereka juga menerimanya dan dampaknya lebih baik," pungkasnya.

Reporter: CF Glorian
Editor: Erwin Yohanes

Baca Juga: Curi Uang Kotak Amal Masjid, Pria di Blitar Diarak Warga

 

 

 

Editor : Erwin Yohanes
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.