Selasa, 16 Jun 2026 21:23 WIB

Mengulik Kesenian Tradisional Dongkrek di Kabupaten Madiun

  • Penulis :
  • | Kamis, 02 Nov 2023 18:25 WIB
Kesenian Dongkrek. (cakdurasim.com for jatimnow.com)
Kesenian Dongkrek. (cakdurasim.com for jatimnow.com)

jatimnow.com - Di kabupaten Madiun ada bentuk kesenian yang unik. Namanya kesenian Dongkrek.

Dongkrek adalah kesenian asli dari Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun.

Baca Juga: Bukan Pengosongan, Ketika Para Tokoh Berpikir Tentang Ibu Kota Provinsi Jatim

Diperkirakan, Kesenian Dongkrek lahir sekitar 1867 di Caruban, yang saat ini berganti nama menjadi Kecamatan Mejayan. Konon, kesenian ini lahir dari wabah penyakit yang menyerang masyarakat secara misterius atau yang biasa disebut pageblug.

Wabah itu meluas dan menelan banyak korban jiwa pada masa itu. Adalah Raden Lo Prawirodipoera yang menjabat sebagai Palang (pejabat yang membawahi lima desa) mendapatkan wangsit, untuk melakukan semedi atau meditasi di suatu gunung di selatan Caruban.

Dari hasil bisikan gaib, Mbah Palang sebutan Raden Lo Prawirodipoera, bisa mengusir pageblug setelah membuat sebuah kesenian, yang yang merupakan perpaduan seni tari, topeng, dan musik. Kesenian itu disebut Dongkrek.

Sudah banyak sumber yang menyebut tentang cerita dari Seni Dongkrek tersebut. Tokoh utama dalam cerita itu juga meninggalkan bukti nyata, yakni berupa rumah Palangan (tempat tinggal Raden Prawirodipoera) dan makamnya di wilayah Mejayan.

Ada pula sumber yang menyebutkan, bahwa nama Dongkrek diambil dari suara alat-alat musik yang digunakan, berupa bunyian “Dung” yang berasal dari beduk atau Kendang, sedangkan “Krek” yang berasal dari bebunyian berupa kayu berbentuk persegi. Pada salah satu sisinya terdapat tangkai kayu yang bergerigi sehingga saat digesek akan berbunyi “Krek”.

Dalam perkembangannya, digunakan pula alat musik lainnya berupa gong, kenong, kentongan, kendang, dan gong berry.

Dalam setiap pagelaran Dongkrek, ada 3 penari utama bertopeng, yang terdiri dari tiga jenis, yakni topeng Mbah Palang (orang tua), topeng Putri (Roro Ayu) dan topeng Genderuwo (Butho).

Baca Juga: ISI Surakarta Buka Perkuliahan di Banyuwangi, Catat Jadwal Pendaftarannya

Namun pengamat seni Kabupaten Madiun, Toto Widiarta mengatakan, ada pesan tersembunyi dari kesenian Dongkrek.

Menurut dia, kemunculan Dongkrek tidak lepas dari kondisi masyarakat Mejayan yang dijajah Belanda saat itu.

“Bisa jadi, Dongkrek merupakan kritik terhadap Pemerintah Belanda melalui kesenian,” ujar Toto beberapa waktu lalu.

Apalagi, pada periode 1831 hingga 1867 Van den Bosch yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda menerapkan sistem tenam paksa.

“Pagi sakit sore mati, sore sakit malam mati sepertinya kiasan tentang kondisi itu. Belum lagi (warga) yang ditembak mati,” ungkap Toto.

Baca Juga: Orde Gembok

Maka, untuk bisa selamat dibuatlah kesenian Dongkrek. Alat musik yang dimainkan, seperti korek, bedug menjadi sandi yang disepakati agar warga mengamankan diri. Ketika dibunyikan, maka sebaai tanda adanya pasukan Belanda tengah melintasi suatu wilayah.

“Ada topeng berwarna merah, saya kira itu kiasan dari orang Belanda yang memiliki kulit merah,” ungkap budayawan yang sering memandu program budaya di televisi lokal ini.

Sayangnya, kesenian Dongkrek dihubungkan dengan masa Gerakan PKI pada tahun 1965. Mengutip dari laman warisanbudaya.kemendikbud, pada masa itu Dongkrek dianggap sebagai bagian dari dari Lembaga Kesenian Rakyat yang disebut sebagai underbow atau organisasi sayap PKI.

Dongkrek pun mengalami kevakuman hingga beberapa tahun. Hingga akhirnya pada 1975 – 1980, kesenian asli Mejayan ini menggeliat kembali. Namun kini, kesenian unik ini terancam punah karena semakin jarang dipentaskan.

Editor : Endang Pergiwati
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.