Selasa, 16 Jun 2026 11:21 WIB

Terapi Energi Polisi RW Aiptu Ony Kristiyan Bantu Sembuhkan Warga Sakit di Kediri

  • Penulis : Yanuar Dedy
  • | Selasa, 29 Agu 2023 07:59 WIB
Aiptu Ony Kristiyan saat menerapi ojek online. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Aiptu Ony Kristiyan saat menerapi ojek online. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Aiptu Ony Kristiyan, salah satu Polisi RW di Kediri memiliki kemampuan lain di luar tugasnya sebagai penegak hukum. Dia bisa melakukan pengobatan dengan metode terapi menggunakan energi alam untuk membantu penyembuhan warga di wilayah binaannya, sakit gigi hingga kesurupan.

Aiptu Ony Kristiyan saat ini berdinas di Satuan Pembinaan Masyarakat (Satbinmas) Polres Kediri Kota. Dia menekuni ilmu ini sejak empat tahun lalu.

Baca Juga: Ponpes Al Falah Kediri Ditetapkan Tuan Rumah Munas Alim Ulama dan Konbes NU

Terapi itu ia berikan untuk warga di wilayah binaannya. Termasuk di sekitar stasiun tempat mangkal para pengemudi ojek online. Dia pun siap membantu bila Ojol ini sedang mengalami keseleo, sakit gigi, maupun lainnya.

"Ya biasanya sambang di desa binaan saya sebagai polisi RW, di tongkrongan ojek online atau apa gitu. Nongkrong sambil ngobrol santai. Kalau ada yang mau diterapi ya saya terapi,” katanya, Senin (28/8/2023).

Polisi yang tinggal di Perumahan Jenggolo Indah Gogorante, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini menceritakan, mulai menekuni metode pengobatan terapi menggunakan energi alam ini kurang lebih empat tahun lalu.

Awalnya, dia yang juga menjadi pembina Pramuka ketika melakukan kegiatan di luar ruangan atau jelajah ada kejadian siswa kesurupan. Dari situlah, ia merasa bingung apa yang harus dilakukan sehingga bertanya-tanya kepada para seniornya Pramuka.

Ony kemudian melakukan praktik terapi pengobatan pertamanya di keluarga dan temannya di antaranya keseleo, pusing, hingga sakit gigi. Ketika hasilnya baik, ia memilih untuk berani menerapi orang lain baik bertemu orang lain di pinggir jalan maupun teman kerja. Meski demikian, dia menawarkan terapi terlebih dahulu kepada mereka tanpa biaya apapun alias gratis.

"Saya tidak memaksa kalau mereka mau diterapi atau tidak, yang jelas prinsip saya bisa membantu mereka," ungkap polisi berusia 45 tahun ini.

Ini tidak mengganggu tugasnya sebagai seorang polisi. Hal itu dikarenakan, proses terapi tersebut dilakukan dengan waktu yang tidak lama.

Baca Juga: Razia Gabungan di Lapas Kediri, Petugas Amankan Barang Terlarang

Namun demikian, ia kerap menerapi orang dengan posisi masih memakai seragam dinas polisi. Baginya, hal tersebut tidak bermasalah karena tujuannya adalah bisa membantu orang yang sedang membutuhkan.

"Saya juga siap datang ke rumah pasien untuk menerapi terus sampai orangnya sudah merasa baik baru selesai," bebernya.

Bapak dua anak itu mengaku bersyukur karena selama ini tidak merasa kesulitan dalam melakukan terali pengobatan. Tak hanya di Kediri, dia juga pernah menerapi hingga ke Tulungagung, Nganjuk, Magetan hingga Pasuruan.

Baginya, semua pasien yang diterapi selama ini sangat berkesan karena tidak ada yang sama. Apalagi, ia tertarik dengan dunia gaib yang menjadi hal baru karena tidak pernah menemui seperti itu.

"Yang terpenting saat mau menerapi pasien saya sampaikan harus pasrahkan diri sepenuhnya kepada tuhan untuk minta kesembuhan dan dilarang memberikan imbalan apapun kepadanya atau orang menerapi, baik uang maupun barang," tambahnya.

Baca Juga: Khofifah Komitmen Jatim Garda Terdepan Penguatan Industri Gula Nasional

Paling banyak yang diterapi selama ini adalah pasien dewasa yang mengalami keseleo, retak, hingga patah tulang. Dalam pengobatan itu, polisi yang juga menjadi pembina Pramuka Saka Bhayangkara tersebut mempunyai dua konsep terapi baik tatap muka maupun jarak jauh.

Ada kelebihan ketika menerapi tatap muka karena bisa mensugesti pasien dengan tujuan utama untuk bisa mengubah pola fikir pasien agar lebih baik salah satunya berfikir positif sekaligus guna mengetahui reaksi sakitnya seperti apa dan langkah yang diambil. Dia juga kerap diminta untuk menerapi orang kesurupan.

Bahkan, ia juga menerapi massal bersama dengan timnya karena untuk mengantisipasi atau membantu reaksi pasien seperti menangis, meraung-raung maupun lainnya.

"Di Kediri sendiri sudah banyak (orang menerapi), kadang bilamana saya tidak bisa menerapi maka saya sampaikan kepada teman-teman," pungkas Aiptu Ony Kristiyan.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.