Minggu, 21 Jun 2026 07:07 WIB

Alasan WNI Menikah dengan WNA, Hanya untuk Perbaikan Keturunan?

Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD. (Foto: Humas Unair for jatimnow.com)
Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD. (Foto: Humas Unair for jatimnow.com)

jatimnow.com - Di zaman yang serba majemuk seperti saat ini, ada fenomena sebagian orang yang terobsesi untuk menikah dengan warga negara asing. Salah satu latar belakang dari keinginan itu adalah perbaikan keturunan lewat perkawinan yang menghasilkan keturunan blasteran.

Kontruksi Kulit Putih

Baca Juga: Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD memberikan pendapatnya mengenai fenomena tersebut. Menurutnya, ambisi untuk memperoleh keturunan blasteran merupakan pengaruh pasca-kolonialisme yang masih melekat di masyarakat Indonesia.

“Anggapan bahwa kulit putih menandakan status sosial yang tinggi disebabkan oleh para penjajah barat yang berkuasa dan mengubah tatanan sosial dengan paham the construction of whiteness, dimana kulit putih memiliki kelas sosial yang lebih superior dari pada ras lainnya,” jelas Prof Diah. Rabu (15)2/2023)

Kepala Pusat Bahasa dan Multibudaya Unair melanjutkan, langgengnya konstruksi pada masyarakat modern saat ini membawa dampak bagi seseorang yang ingin mendapatkan keturunan blasteran. Pernikahan dengan warga negara asing adalah cara termudah untuk mendapatkan keturunan blasteran.

"Tidak hanya masyarakat Indonesia saja yang terobsesi menikah dengan warga negara asing dalam hal ini yang berkulit putih. Beberapa ras lain juga merasakan dampak yang sama. Hal ini diperkuat dengan fakta di masa lampau bahwa bangsa kulit putih sebagai penjajah di banyak wilayah," ungkap Prof Diah.

Konsep Kecantikan

Prof Diah melanjutkan salah satu pengaruh pasca-kolonialisme adalah label kecantikan dengan kulit putih, hidung mancung, badan tinggi dan tegap khas ciri fisik ras kaukasoid.

Baca Juga: Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

Adanya ciri fisik yang mirip dengan kelompok masyarakat blasteran akan memudahkan mereka untuk ‘diterima’. Padahal faktanya, penduduk asli Indonesia didominasi ras malayan-mongoloid, melanesoid, asiatic-mongoloid, dan weddoid yang memiliki ciri fisik sangat berbeda dengan ras kulit putih.
.
“Dampaknya, pasar produk pemutih kulit pada industri kecantikan sangat diminati. Karena bagi masyarakat, indikator utama kecantikan adalah kulit yang putih berseri yang mendambakan konsep kecantikan ideal barat,” ungkap Prof Diah.

Glorifikasi Masyarakat Barat di Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia, kelompok bule khususnya ras kaukasoid mampu menciptakan tren baru dan menjadi perhatian.

Secara historis, pada zaman penjajahan, ras kaukasoid dianggap sebagai musuh karena perawakannya seperti penjajah yang kerap disamakan sebagai objek yang negatif. Namun saat ini adanya glorifikasi bule di tengah masyarakat, menjadikan bule sebagai pusat perhatian.

Baca Juga: BTN Gandeng UNAIR, Perkuat Literasi Finansial dan Ekosistem Kampus Digital

“Saya mendengar cerita mahasiswa asing, khususnya mereka yang berasal dari Afrika dan India. Mereka cenderung sulit mendapatkan teman dan sulit bergaul dari pada mahasiswa internasional lainnya dengan kulit putih yang justru lebih sering diajak bercengkrama terlebih dahulu oleh mahasiswa Indonesia,” pungkas Diah.

 

 

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Curi Uang Kotak Amal Masjid, Pria di Blitar Diarak Warga

Pihak takmir masjid dan warga jemput pelaku di rumah, kini pelaku sudah diserahkan ke pihak berwajib.

Satresnarkoba Polres Gresik Ringkus 5 Pengedar Sabu dan Pil Koplo

Para tersangka biasa menjalankan operasinya di sekitaran Gresik dan Lamongan.