Kamis, 18 Jun 2026 12:17 WIB

5 Fakta Santri Gadungan Jual Kalender Ponpes Bodong: Berakhir Damai

Yusuf (tengah), penggagas aksi penipuan berkedok kalender Ponpes memegang surat pernyataan. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Yusuf (tengah), penggagas aksi penipuan berkedok kalender Ponpes memegang surat pernyataan. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kasus penipuan oleh santri gadungan asal Demak di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri berakhir damai. Para pelaku mengakui perbuatannya dan menandatangani surat pernyataan untuk tidak lagi melakukan aksi tipu-tipu dengan mengatasnamakan pondok pesantren.

Ada 5 fakta menarik tentang kasus ini. Mulai penggunaan foto palsu, pemaksaan hingga meminta amal jariyah.

Baca Juga: Ponpes Al Falah Kediri Ditetapkan Tuan Rumah Munas Alim Ulama dan Konbes NU

1. Gunakan Foto Palsu, Keberadaan Pondok Pesantren Fiktif

Kalender yang dijual oleh pelaku dengan mengatasnamakan Pondok Pesantren Nurul Musthofa dipastikan palsu.

Pelaku menggunakan foto-foto palsu. Karena keberadaan pondok di Sragen seperti yang disebut dalam desain kalender 2023 itu fiktif. Pihak Nurul Musthofa yang hadir dalam pemeriksaan di Balai Desa Tugurejo membantah adanya pondok pesantren putra-putri seperti yang disebut oleh para pelaku.

"Sejak kemarin malam sudah saya pastikan itu bukan pondok karena di sana tidak ada pondok putra-putrinya. Yang ada hanya musala dan ruangan-ruangan. Hari ini mbah kiai juga menyampaikan, mereka hanya rintisan pondok. Tapi pondoknya belum ada,” ujar Kepala Desa Tugurejo, Agung Witanto.

2. Bukan Santri, Hanya Pekerja

Berdasarkan hasil pertemuan hari ini, juga dipastikan bahwa mereka yang menjual kalender ini bukan santri. Delapan orang itu hanya karyawan yang direkrut oleh Yusuf, penggagas bisnis tipu-tipu ini. Satu di antaranya bertugas sebagai koordinator lapangan yang langsung bekerja di bawah Yusuf. Satu lainnya sebagai sopir.

Mereka mengenakan sarung dan kopyah layaknya santri pondok pesantren dan menawarkan kalender itu dari rumah ke rumah. Dalam praktiknya mereka kerap memaksa warga untuk membeli. Jika tidak, mereka tak sungkan meminta amal jariyah.

3. Sewa Hotel di Kediri, Untung Puluhan Juta

Selama di Kediri mereka menyewa hotel dan mobil. Keuntungannya tak main-main. Mereka membawa sekitar 1.000 kalender yang dijual dengan harga Rp25.000. Rinciannya, Rp6.000 untuk biaya cetak, Rp19.000 keuntungannya dibagi Rp12.000 untuk penjual dan Rp7.000 untuk koordinator lapangan.

Berdasarkan pemeriksaan awal, 5 hari di Kediri, mereka sudah menjual sekitar 500 kalender. Jika ditotal, keuntungan mereka mencapai Rp9.500.000.

Baca Juga: Razia Gabungan di Lapas Kediri, Petugas Amankan Barang Terlarang

Jumlah itu dipotong biaya sewa hotel dan mobil yang dibayarkan dari fee penjual.

Jika aksi ini terus berjalan bukan tak mungkin mereka masih untung lebih karena saat diamankan masih ada tumpukan kalender yang banyak.

4. Kerja Sama dengan Musala Nurul Musthofa Hanya Kedok

Agung memastikan ada kerja sama antara Musala Nurul Musthofa dan pihak penjual kalender. Untuk membantu donasi melalui cara ini.

Namun nyatanya, nominal yang diberikan ke pihak musala hanya sedikit. Hanya Rp300 ribu-Rp1 juta perbulan.

“Ya ada memang kerja sama tapi yang dilakukan oleh kelompok ini sudah di luar konteks atau perjanjian. Yang ditasarufkan hanya sedikit, padahal kita tanya pendapatannya bisa puluhan juta setiap minggunya,” tambahnya.

Baca Juga: Sindikat Mobil Bodong dan STNK Palsu Jaringan Pasuruan-Surabaya Dibongkar

5. Damai dengan Surat Pernyataan

Kasus penipuan oleh santri gadungan asal Demak di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri berakhir damai. Para pelaku mengakui perbuatannya di depan tiga pilar termasuk pengurus NU ranting setempat.

Yusuf selaku penggagas juga sudah menandatangani surat pernyataan untuk tidak lagi melakukan aksi tipu-tipu dengan mengatasnamakan pondok pesantren.

Mereka kemudian dilepas setelah menjalani pemeriksaan panjang.

Pihak desa mengimbau untuk warga cermat jika ada aksi meminta sumbangan seperti kelompok Yusuf.

“Kami mengimbau untuk warga Desa Tugurejo dan umumnya Kabupaten Kediri mohon hati-hati bilamana ada penjual kalender atau meminta bantuan apapun agar cermat. Kalau memang betul-betul monggo silakan. Tapi pastikan dulu,” tandasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.