Jumat, 12 Jun 2026 13:54 WIB

Ikhtiar Tenun Ikat Bandar Kidul Kediri Menolak Punah

  • Penulis : Yanuar Dedy
  • | Selasa, 20 Des 2022 08:38 WIB
Proses pembuatan Kain Tenun Bandar Kidul Kota Kediri. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Proses pembuatan Kain Tenun Bandar Kidul Kota Kediri. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Di tengah gempuran fesyen luar negeri yang terus berkembang di Tanah Air, kain tradisional Tenun Ikat Bandar Kidul, Kota Kediri menolak punah. Salah satu perajin tertua di sana, Ruqoyah mulai aktif melakukan regenerasi. Dia juga terus menciptakan motif-motif baru.

Ruqoyah merupakan generasi ketiga dari keluarga suaminya, yang menjalankan industri berlabel ‘Medali Mas’ sejak 1980an. Dia menjadi salah satu yang tertua di Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul, Kota Kediri.

Baca Juga: Ponpes Al Falah Kediri Ditetapkan Tuan Rumah Munas Alim Ulama dan Konbes NU

“Suami itu sekitar 1989-an, saya nikah 1991. Itu mulai,” kata Ruqoyah mengawali ceritanya tentang Tenun Ikat Bandar Kidul yang terus mengalami pasang surut, pada Selasa (20/12/2022).

Saat ini, menurut Ruqoyah, wastra khas Kota Kediri tersebut dalam tren positif. Permintaan terus berkembang seiring pemanfaatan kain oleh desainer-desainer ternama di Indonesia. Sebut saja Didiet Maulana dan Priyo Oktaviano.

Baru-baru ini Kain Tenun Ikat Bandar Kidul Kota Kediri juga dipakai oleh Presiden Joko Widodo hingga aktor tampan asal Korea Selatan, Song Kang.

Ruqoyah memastikan usahanya bersama 20-an perajin di Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul Kota Kediri tak terganggu oleh pandemi Covid-19.

“Permintaan besar wilayah Jawa Timur. Malang, Madiun, Magetan, Jombang. Paling banyak instansi,” terangnya.

Namun Ruqoyah sadar bahwa regenerasi penting untuk menjaga kelestarian ini. Saat ini ia mulai aktif melakukan transfer pengetahuan ke sekolah-sekolah, pondok pesantren hingga Lembaga Pemasyarakat Klas IIA Kediri. Dia bahkan meletakkan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di sana.

“Di sekolah-sekolah itu ada ekstrakulikuler menenun sekarang. Ini penting untuk regenerasi,” tegasnya.

Ada beberapa SMK di Kota Kediri yang sudah bekerja sama, termasuk Pondok Pesantren Ploso.

Ruqoyah juga berencana mengembangkan kain tenun ini di desanya di Nganjuk.

Ruqoyah mengenakan kain tenun dalam acara Dhoho Street Fashion 7. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)Ruqoyah mengenakan kain tenun dalam acara Dhoho Street Fashion 7. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Proses Kreatif Tiada Henti

Baca Juga: Razia Gabungan di Lapas Kediri, Petugas Amankan Barang Terlarang

Kreatif juga sangat dibutuhkan untuk menjaga bisnis ini. Selain tetap memproduksi motif khas Kota Kediri seperti ceplok, tirtotirjo, loong, salur, gunungan, dan kuncup, Ruqoyah juga terus menciptakan motif-motif baru.

“Buat saya, yang sudah dipesan instansi tertentu gitu ya, sudah tidak diproduksi lagi. Saya menghargai. Dan ketika kita mengulang desain yang sama itu jadinya nggak kreatif. Saya suka motif baru,” tegas Ruqoyah.

Ruqoyah sudah tak menghitung berapa motif yang ia ciptakan. Dia mengaku tak ingin ada dokumen yang justru membatasi proses berfikirnya dalam menciptakan motif baru.

“Ada kadang kita menerjemahkan keinginan pemesan. Atau nanti saya lihat apa gitu, digambar dikembangkan,” terangnya.

Saat ini total Ruqoyah punya 150 karyawan dengan 70 ATBM. Dengan kisaran produksi satu pekerja menghasilkan tiga potong kain dalam dua hari dengan masa kerja enam hari.

Khusus desain Ruqoyah yang langsung mengerjakannya.

Dia punya tiga bahan kain, katun Rp225.000, sutra Rp750.000, semi-sutra Rp450.000. Ada juga sarung kelas A Rp300.000, B Rp250.000, C Rp225.000.

Baca Juga: Khofifah Komitmen Jatim Garda Terdepan Penguatan Industri Gula Nasional

Sejarah Kain Tenun di Kediri

Sama halnya Tahu, Kain Tenun Ikat Bandar Kidul dikenalkan oleh etnis Tionghoa pada 1950 melalui perdagangan. Saat itu, sebagian masyarakat Bandar Kidul menjadi pekerjanya.

Barulah pada 1966, masyarakat di sana mulai memproduksi sendiri kain tenun, utamanya untuk sarung.

Dalam perkembangannya, produksi tenun ikat Kediri mengalami pasang surut. Periode 1984 – 1985, produksi tenun ikat Kediri sempat mengalami kemunduran akibat produk tekstil dari mesin.

Kondisi ini perlahan berubah ketika pemerintah memberikan pembinaan kepada para pemilik industri kecil. Sejak saat itu kain tenun ikat Bandar Kidul Kediri mengalami perkembangan sehingga mampu bersaing di tengah modernisasi industri.

 

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.