Rabu, 22 Jul 2026 13:38 WIB

Menko PMK Ingatkan BPOM Turut Awasi Obat Sirop Impor

Menko PMK Muhadjir Effendy. (foto: Fahrizal Tito/jatimnow.com)
Menko PMK Muhadjir Effendy. (foto: Fahrizal Tito/jatimnow.com)

jatimnow.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta Badan Pengawas obat dan makanan (BPOM) terlibat dalam pengawasan obat-obatan impor.

Permintaan ini disampaikan di sela wisuda Universitas Muhammadiyah di Dyandra Convention Center, Sabtu (29/10/2022). Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2016-2019 berharap BPOM mengawasi bahan baku sirop impor yang menyebabkan gagal ginjal akut pada anak.

Baca Juga: Jangan Tergiur Warna! Ini Panduan Pilih Kudapan Idul Fitri yang Berkualitas

“BPOM perlu dilibatkan dalam pengawasan obat bahan baku impor untuk obat obatan dan makanan. Jadi tidak bisa hanya Kementerian Perdagangan saja,” kata Muhadjir Effendy.

Menurutnya, BPOM perlu melakukan uji petik setiap produksi dari pabrik per batch. Sehingga tidak hanya menyetujui dalam sekali uji. Karena di setiap batch bisa jadi menggunakan bahan baku yang berbeda.

Untuk saat ini, pencegahan dilakukan sesuai instruksi presiden dengan segera menarik dan menghentikan peredaran sirup, yang diduga terbukti menyebabkan gangguan ginjal akut pada anak.

Baca Juga: Universitas Kadiri Perkuat Target Daya Saing Internasional Berbekal Akreditasi Unggul

“Ada rapat kabinet terbatas, dan arahan agar obat, terutama sirop, yang di dalamnya mengandung empat bahan penolong harus ditarik semua. Tidak boleh diedarkan. Kemudian untuk yang tidak mengandung tiga sampai empat bahan penolong harus diumumkan di masyarakat,” lanjutnya.

Presiden,lanjutnya, memberikan arahan pencegahan obat yang mengandung cemaran. Harapannya agar masyarakat mengetahui secara persis obat apa saja yang dilarang.

Baca Juga: Rempah Indonesia Lolos Uji Radiasi, 174 Ton Meluncur ke Amerika

Dan proses produksi obat yang ditemukan cemaran bahan pelarut di atas ambang batas, seperti masalah etilen glikol (EG) dietilen glikol (DEG), dietilen glikol butil eter, dan bahan berbahaya lain, harus dihentikan produksinya.

“Tidak semua obat mengandung cemaran, hanya batch tertentu atau rombongan produksi tertentu itu saja yang dihentikan. Untuk yang lain bisa jadi batch sebelumnya atau sesudahnya sudah aman,” ungkapnya.

Editor : Rochman Arief
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.