Kamis, 18 Jun 2026 15:48 WIB

3 Cerita Rakyat Kediri Bertema Penolakan Cinta, Relate Gak dengan Kisahmu?

  • Penulis : Yanuar Dedy
  • | Minggu, 23 Okt 2022 15:01 WIB
Foto: Situs Calon Arang di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Foto: Situs Calon Arang di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kabupaten Kediri memiliki banyak cerita rakyat yang menarik untuk disimak. Sedikitnya ada tiga cerita rakyat yang berlatar belakang kisah penolakan cinta dewi dan raja berujung petaka.

Ada kematian dua raja yang sedang berjuang mendapatkan cinta Dewi Kilisuci, hingga ratu penebar teror penyakit mematikan saat cinta anaknya ditolak sang raja.

Baca Juga: Ponpes Al Falah Kediri Ditetapkan Tuan Rumah Munas Alim Ulama dan Konbes NU

Berikut 3 cerita rakyat di Kabupaten Kediri yang hingga kini mitosnya diyakini sebagian masyarakat.

1. Gunung Kelud

Gunung Kelud di Kabupaten Kediri diyakini masyarakat lahir dari pengkhianatan Dewi Kilisuci terhadap dua raja yang sedang berjuang untuk mendapatkan cintanya.

Konon, saat itu Dewi Kilisuci dilamar oleh dua orang raja, Lembu Suro dan Mahesa Suro.

Dewi Kilisuci sebenarnya ingin langsung menolak lamaran tersebut. Namun putri anak Jenggolo Manik itu lebih dulu memberikan tantangan kepada dua raja yang bukan dari bangsa manusia tersebut.

Isi tantangannya, sang raja harus membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, dengan bau amis dan bau wangi. Dewi Kilisuci meminta sumur tersebut dikerjakan selama satu malam.

Dengan kesaktiannya, Lembu Suro dan Mahesa Suro berhasil membuat sumur tersebut bahkan sebelum ayam jantan berkokok.

Sang dewi yang memang tidak mau menerima keduanya, kemudian meminta Lembu Suro dan Mahesa Suro untuk membuktikan kedua sumur tersebut benar-benar berbau amis dan wangi, dengan meminta mereka masuk ke dalam sumur.

Saat itu juga, Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun sumur tersebut dengan batu. Akhirnya matilah Lembu Suro dan Mahesa Suro di atas Gunung Kelud tersebut.

2. Calon Arang

Cerita rakyat berikutnya, adalah Calon Arang di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Legenda ini juga berlatar belakang penolakan cinta.

Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang dan masuk menjadi warisan budaya tak benda tersebut tokoh Calon Arang hidup di zaman Raja Airlangga.

Ratu Calon Arang atau Nyai Girah merupakan penebar teror penyakit mematikan kepada penduduk Kahuripan pada abad ke-11.

Baca Juga: Razia Gabungan di Lapas Kediri, Petugas Amankan Barang Terlarang

Menurut ceritanya yang dilindungi oleh UU Nomor 5 Tahun 2017 tersebut, dia adalah seorang ibu yang sakit hati karena putrinya Ratna Manggali batal dinikahi Raja Airlangga. Calon Arang yang murka menebar penyakit ke seluruh wilayah.

Situs Calon Arang ada di Kecamatan Gurah dan dilindungi oleh UU Nomor 11 Tahun 2010 sebagai cagar budaya. Di sana, ditemukan berupa batu umpak, dorpel dan komponen batu lainnya.

3. Totok Kerot

Kisah penolakan cinta juga datang dari situs Totok Kerot, di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Konon, Totok Kerot merupakan perwujudan putri cantik dari Lodaya Blitar yang dikutuk oleh Sri Aji Jayabaya.

Dalam ceritanya, dia bersikeras ingin diperistri oleh Sri Aji Jayabaya yang punya kesaktian tak tertandingi. Padahal keinginannya tersebut ditentang oleh sang ayah.

Karena tidak mendapatkan restu dari orang tuanya, sang putri nekat datang ke Kediri dan terlibat peperangan dengan pasukan dari kerajaan, dimana dikisahkan pihaknya menang dalam perang tersebut.

Sebagai tuntutannya, sang putri ingin ditemui oleh Sri Aji Jayabaya.

Baca Juga: Khofifah Komitmen Jatim Garda Terdepan Penguatan Industri Gula Nasional

Tuntutan sang puteri terkabulkan, dimana saat berhasil bertemu dengan Sri Aji Jayabaya dia kembali menyampaikan keinginannya untuk diperistri.

Namun sang raja tetap menolak dan terjadi perang tanding di antara keduanya. Setelah sang putri terdesak, Sri Aji Jayabaya mengeluarkan kutukan dengan menyebut sang putri memiliki kelakuan seperti buto.

Maka jadilah Totok Kerot dengan rambut terurai, duduk jongkok dengan kaki kiri melipat ke dalam, mata melotot, mengenakan mahkota dan kalung tengkorak. Satu lengan sebelah kiri putus.

Temuan pertama kali Arca Totok Kerot ini disebutkan oleh Mas Soema-sentika dari Distrik Sukareja pada 1865. Yang kemudian ditulis ke dalam buku yang diterbitkan 1902.

Dalam literasi lain, arca ini kemudian berhasil diangkat pada tahun 1970. Ini yang diduga menjadi penyebab putusnya lengan kiri Arca Totok Kerot tersebut.

Itu tadi cerita rakyat Kediri yang berkisah tentang penolakan cinta di era kerajaan yang berujung petaka.

 

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.