Selasa, 16 Jun 2026 11:13 WIB

Jaranan Hingga Bedhil-Bedhilan Meriahkan Festival Permainan Tradisional

  • Penulis :
  • | Sabtu, 23 Jul 2022 13:25 WIB
Festival Permainan Tradisional di Banyuwangi.(Foto: Humas Pemkab Banyuwangi)
Festival Permainan Tradisional di Banyuwangi.(Foto: Humas Pemkab Banyuwangi)

Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggelar "Festival Memengan Tradisional" alias Festival Permainan Tradisional. Sebanyak 750 pelajar SD terlihat asyik memainkan 25 macam “memengan” (permainan) tradisional untuk memperingati Hari Anak Nasional.

Festival Memengan berlangsung di Taman Blambangan, Sabtu (23/7/2022). Ragam permainan tradisional dimainkan dan didefilekan ratusan anak. Mulai dari egrang, congklak, bakiak, jaranan, hoola hoop, hingga bedhil-bedhilan (tembak-tembakan).

Baca Juga: Pemenang Puteri Indonesia 2025 Firsta Yufi Ternyata Jebeng Banyuwangi 2019

Selain bermain, mereka juga terlihat sibuk menyiapkan mainannya sendiri. Ada yang membuat mobil-mobilan berbahan bambu, kayu dan sabut kelapa untuk kemudian mereka tampilkan bersama.

Larut dalam keceriaan anak-anak, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani ikut bermain bersama mereka. Ipuk bermain bakiak dan balapan bersama anak-anak. Apa yang dilakukan anak-anak rupanya menarik wisatawan yang tengah berada di sana untuk ikut mencoba. Turis dari AS pun turut mencoba balapan bakiak dengan anak-anak.

"Menyenangkan sekali, ingat masa kecil dulu. Balap bakiak ini menguji ketangkasan dan kekompakan. Festival Memengan Tradisional ini bagian dari usaha kami mengajak anak melakukan aktivitas fisik," kata Bupati Ipuk.

Festival Permainan Tradisional di Banyuwangi.(Foto: Humas Pemkab Banyuwangi)Festival Permainan Tradisional di Banyuwangi.(Foto: Humas Pemkab Banyuwangi)

Ipuk membeberkan data dengan mengacu sebuah riset pada 2021 bahwa 89,99 persen anak usia 5 tahun ke atas mengakses internet untuk media sosial. Rata-rata bahkan ada yang menyebut anak-anak menggunakan gadget hingga 4 jam per hari. Ada riset di kota besar di Indonesia, 8 dari 10 anak kurang gerak.

“Mengakses internet tidak ada masalah. Namun tetap harus terpantau karena bagaimana pun anak-anak mungkin belum bisa mengontrol apa yang dilihat di internet. Panduan-panduan konten internet ramah anak harus dipahami orang tua," ujarnya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat di Banyuwangi Dibuka Juli 2025, Ini Persiapannya

"Terpenting jangan kemudian anak hanya lihat gadget terus. Sehingga mempengaruhi berkurangnya aktivitas anak yang bisa menimbulkan gaya hidup kurang sehat pada anak. Anak hanya ‘mager’ alias malas bergerak di rumah. Maka permainan-permainan tradisional harus dihidupkan sebagai bagian dari katakanlah detoks gadget,” imbuh Ipuk.

Untuk itu, lanjut Ipuk, Pemkab Banyuwangi menggelar festival permainan tradisional. Festival yang mengajak anak-anak untuk membuat dan memainkan aneka ragam permainan tradisional yang sarat dengan olah fisik, penuh filosofi/makna, dan berbiaya relatif murah.

"Tak hanya itu, permainan tradisional ini juga sarat dengan hal positif. Kami diajarkan untuk kreatif mengolah barang yang ada di sekitar untuk dijadikan mainan. Jika melihat permainan bakiak raksasa tadi, kami jadi belajar gotong royong, bekerja sama dengan jalan beriringan dengan kawan belakang. Ini adalah intisari yang diajarkan leluhur kita dalam bentuk permainan tradisional," kata Ipuk.

Festival juga dihadiri Aktivis Dolanan dari Kampung Dolanan Kenjeran Surabaya, Mustafa Sam. Hadir secara virtual Pejabat Fungsional Madya Direktorat Pendidikan SD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Kurniawan.

Baca Juga: Bupati Ipuk Ajak Ikawangi Perkuat Soliditas Membangun Banyuwangi

Plt Kepala Dinas Pendidikan Suratno menambahkan, Festival Memengan Tradisional telah digelar rutin Pemkab Banyuwangi sejak 2017. Festival diadakan untuk melestarikan beragam permainan tradisional bangsa Indonesia yang diyakni banyak mengandung hal positif.

"Permainan tradisional ini patut kami lestarikan karena salah satu tradisi dan budaya leluhur bangsa. Banyak hal-hal positif yang terkandung di dalamnya. Mulai bagaimana berkreasi memanfaatkan barang bekas yang ada di sekitar, mengajarkan kekompakan dan sportivitas, hingga aktivitas fisik yang sehat,” kata Suratno.

 

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.