Minggu, 21 Jun 2026 06:48 WIB

Tim Sapuangin ITS Sabet Juara 1 di DWC Inggris

Foto: Tim ITS saat berada di DWC 2018 yang digelar di Sirkuit Queen Elizabeth Olympic Park, London, Inggris. (istimewa)
Foto: Tim ITS saat berada di DWC 2018 yang digelar di Sirkuit Queen Elizabeth Olympic Park, London, Inggris. (istimewa)

jatimnow.com - Tim Sapuangin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil menyabet juara pertama di Shell Eco Marathon Drivers’ World Championship (DWC) 2018 yang digelar di Sirkuit Queen Elizabeth Olympic Park, London, Inggris.

Billy Firmansyah, Manajer Nonteknis Tim Sapuangin ITS melalui pesan online mengatakan, Final Race DWC 2018 ini dihelat pada siang hari di saat musim panas dengan suhu sekitar 30 derajad Celcius.

Baca Juga: 22 Lulusan SMA Santo Carolus Surabaya Berhasil Tembus PTN

Bagi sebagian peserta yang berasal dari negara empat musim tentunya hal ini menjadi masalah tersendiri. Namun bagi Tim Sapuangin dan tim dari Indonesia lainnya, hal ini tidak menjadi masalah.

"Pada final race ini, dengan trek sepanjang 6,7 km dan elevasi naik turun antara tiga hingga 12 meter, setiap tim tentu merancang strateginya masing-masing. Ada yang setia menjaga kecepatan dalam strategi yang terukur karena race berlangsung dalam 10 lap. Sapuangin termasuk salah satunya,” ungkap Billy Firmansyah.

Menurut Billy, Tim Sapuangin ITS sengaja memasang strategi dengan terus menggunakan kecepatan sedang di lap awal. Driver harus mengatur kecepatan yang tak boleh lebih dari 40 km/jam agar efisiensi energi menjadi seimbang.

Meski begitu, ITS selalu berada dalam posisi empat besar terdepan. Melihat kondisi bahan bakar yang masih memadai, Sapuangin tancap pedal gas dalam-dalam.

“Diputaran lap terakhir, Sapuangin akhirnya mampu menyalip mobil lawan dan berhasil menempati posisi terdepan,” tuturnya.

Hingga lap 10 berakhir, Sapuangin memimpin melintasi garis finish. Di giant screen monitor racing tertulis Rangking I Sapu Angin. Para anggota Tim Sapuangin pun sontak berpelukan dalam tangis haru. Namun, sempat terjadi kehebohan dibalik prestasi yang akhirnya mampu diraih ITS.

Secara sepihak, panitia tiba-tiba menyatakan ITS baru menyelesaikan sembilan lap. Padahal, terdapat 10 lap yang semestinya harus dilampaui. Alhasil, Sapuangin melorot posisinya hingga ranking 9.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Merasa dicurangi, Tim Sapuangin pun melancarkan protes ke panitia. Dibantu rekan seperjuangan dari Indonesia, yakni Tim Semar Urban UGM dan Tim Garuda UNY.

“Dalam protes, kami sertakan data dan video yang merekam selama lomba berlangsung. Setelah panitia berdiskusi dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang ada, akhirnya saat awarding di akhir acara, trofi Juara I DWC 2018 berhasil dibawa pulang Tim Sapuangin ITS," paparnya.

General Manager Tim Sapuangin ITS, Rafi Rasyad mengungkapkan rasa bahagianya setelah timnya berhasil menjuarai kompetisi adu cepat mobil hemat energi ini. Pasalnya, usaha dari tim dan para pembimbing selama berbulan-bulan terbayar lunas.

“Ini adalah pencapaian yang luar biasa. Kami merasa kerja keras tim dan dosen, karena dapat mempersembahkan prestasi terbaik, tidak hanya untuk almamater ITS melainkan juga untuk Indonesia," ungkapnya.

Sementara itu meski sebagai ujung tombak dari timnya, Moch Hafis Habibi, driver Tim Sapuangin ITS mengaku kesuksesan itu atas kerjasama yang baik antara anggota tim.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah Berawan

“Kami menjadi juara sebagai mobil tercepat dan terhemat, dan dapat mengalahkan tim Sask Eco UC dari Kanada dan tim INSA de Toulouse dari Perancis yang menempati posisi kedua dan ketiga itu karena kerjasama tim,” ujar Moch Hafis.

Diketahui, sebagai perwakilan wilayah Asia diajang balap mobil hemat energi ini, Indonesia mengirimkan tiga tim diantaranya dari ITS dengan sapuangin, tim Semar Urban dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan tim Garuda dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Reporter: Fahrizal Tito

Editor: Erwin Yohanes

Editor : Erwin Yohanes
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.