Jumat, 12 Jun 2026 14:06 WIB

Ritual Tanda Merah di Jidat Sapi ala Warga Sumbergondo, Ikhtiar Tolak Wabah PMK

Tanda merah dari daun jati yang diyakini jadi tolak balak penyakit pada hewan ternak. (Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)
Tanda merah dari daun jati yang diyakini jadi tolak balak penyakit pada hewan ternak. (Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)

Batu - Saat ini banyak peternak yang kebingungan dengan merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan peliharannya, terutama pada sapi dan kambing.

Untuk mencegah itu ada salah satu ritual khusus yang diyakini bisa menjauhkan wabah atau penyakit tidak menyerang.

Baca Juga: Audit Sampah Ungkap Sachet Kuasai Limbah Rumah Tangga Batu

Seperti yang disampaikan oleh Trisno warga RT 4 RW 3, Dusun Tegalsari, Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji. Caranya yaitu mengoleskan tanda merah yang terbuat dari daun jati, pada bagian kepala sapi.

"Ini merupakan keyakinan kami secara turun temurun dari leluhur. Selain adanya pendampingan dari pemerintah, setidaknya ini wujud ikhtiar kita memohon perlindungan kepada Sang Pencipta," ujar pemilik 13 ekor sapi, Jumat (13/5/2022).

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Batu, Sugeng Pramono menerangkan sampai dengan hari ini memang ada tambahan, namun belum terupdate.

Dari data terakhir Kamis (12/5/2022), total sudah ada 42 sapi terkonfirmasi positif.

Baca Juga: Pemuda Mojokerto Lompat dari Jembatan Cangar Batu, Ini Dugaan Motifnya

"Sekarang Satgas PMK fokus melakukan tracing pada semua peternak, khususnya Desa Sumbergondo karena banyak yang terpapar di sini," ujar Sugeng.

Bila ada indikasi petugas langsung melakukan penyemprotan di area kandang. Begitu juga sapi akan diberi vitamin dan antibiotik.

Disinggung awal PMK di Kota Batu, Sugeng menjawab berasal dari luar kota.

Baca Juga: Mikutopia, Destinasi Wisata Alternatif di Kota Batu

"Jadi awalnya salah satu peternak di Dusun Tegalsari membeli sapi dari pedagang yang berasal dari Mojokerto. Ternyata sapi itu membawa virus PMK kemudian menyebar di kandang pemilik tersebut dan merebak di sini," ujarnya.

Untuk dampak, tambah Sugeng, memang cukup terasa bagi peternak antara lain sapi lesu sehingga produksi susu menurun drastis.

"Namun yang perlu digarisbawahi PMK tidak menular ke manusia. Begitu juga daging dan susunya tetap bisa dikonsumsi dengan pengolahan yang benar. Misalnya daging dimasak pada suhu 75-80 derajat dan susu melalui proses pengolahan pasteurisasi," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.