Sabtu, 13 Jun 2026 13:26 WIB

Insan Pertanian Harus Peka dengan Climate Change

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, saat pelatihan penyuluh dan petani. (Foto: dok Kementerian Pertanian/jatimnow.com)
Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, saat pelatihan penyuluh dan petani. (Foto: dok Kementerian Pertanian/jatimnow.com)

Ciawi - Kementerian Pertanian, melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), mengajak para insan pertanian agar peka terhadap perubahan iklim (climate change).

Ajakan itu disampaikan Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, saat pelatihan penyuluh dan petani, Adaptasi dan Mitigasi Pertanian Terhadap Perubahan Iklim, Rabu (23/2/2022).

Baca Juga: Pakar Sebut Akuakultur Jadi Solusi Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim

Pelatihan sejuta petani yang diselenggarakan, 23-25 Februari 2022, menggunakan metode pelatihan secara blended learning online dan offline serta tersebar di seluruh indonesia.

"Kita akan dan sedang terus berlanjut didera Climate Change atau perubahan iklim. Perubahan iklim adalah adanya variabel iklim yang berubah. Salah satu contoh perubahan iklim di antaranya permukaan bumi suhunya semakin panas," katanya.

Menurutnya, data menunjukan dalam jangka waktu 1 abad ini peningkatan suhu permukaan bumi semakin meningkat. Bumi semakin panas sangat berpengaruh pada isi bumi, khususnya sektor pertanian.

"Akibat suhu semakin panas, maka proses fotosintesis terganggu. Proses respirasi terganggu, proses anabolisme akan menurun sehingga fotosintesis akan berkurang maka produktivitas menurun," jelasnya.

Dijelaskannya, kenaikan suhu 5 derajat celcius saja dapat memporak-porandakan produksi pertanian. Dampak perubahan iklim luar biasa, bukan hanya mengganggu sistem produksi, akan tetapi secara tidak langsung berdampak pada curah hujan yang tidak terprediksi, fenomena alam El-Nino, badai La-Nina serta serangan hama. Akibatnya kita bisa gagal tanam hingga gagal panen, distribusi hingga pemasaran.

"Kami harap poktan, gapoktan, P4S, Petani Milenial, Petani Andalan peka terhadap climate change. kita harus meneliti, memahami dan peka terhadap perubahan iklim yang semakin massif," tegasnya.

Baca Juga: Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Pertanian, lanjut Dedi, bisa melalui ini asalkan bisa mengantisipasi dampak perubahan iklim, antisipasi kebanjiran, antisipasi kemarau panjang, antisipasi hama, antisipasi naiknya permukaan air laut. Sehingga lahan pertanian yang ada di pesisir harus meminimalisir naiknya permukaan air laut.

"Untuk melakukan antisipasi terhadap perubahan iklim, kita harus beradaptasi terhadap perubahan iklim, adaptasi terhadap kekeringan atau kemarau panjang, adaptasi terhadap kebanjiran, adaptasi terhadap kenaikan permukaan air laut, adaptasi hama dan penyakit dengan cara mengembangkan dan implementasikan varietas unggulan dan tahan terhadap perubahan iklim," urainya.

Dedi menambahkan, pertanian harus menerapkan inovasi dan teknologi yang efisien. Kurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan intensitas karbon rendah, lakukan mitigasi dan pencegahan dampak perubahan iklim.

Cara mengurangi efek gas rumah kaca di antaranya yaitu menggunakan varietas unggulan yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca yang rendah. Selain itu, intermittent irrigation atau pengairan lahan berimbang, pemupukan berimbang yaitu meningkatkan efisiensi pemupukan dan pemanfaatan pupuk guna mengurangi dampak emisi gas rumah kaca.

Baca Juga: Cara Unik Tempat Nongkrong Surabaya Ajak Gen Z Peduli Isu Lingkungan

"Solusi climate change ini adalah climate smart Agriculture yaitu pertanian cerdas iklim atau pertanian yang sesuai dengan kondisi iklim. Di dalam climate smart agriculture, ada inovasi teknologi rendah karbon. Rendah emisi karbon dan rendah emisi gas dengan cara gunakan varietas unggulan, gunakan sistem pengairan terpadu, gunakan pemupukan berimbang, gunakan pestisida nabati," ujarnya.

Sebelumnya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan dalam kondisi apapun pertanian tidak boleh berhenti. 

"Produksi pangan tidak boleh terganggu perubahan iklim, maka dari itu kementan harap insan tani terus berjuang antisipasi dan adaptasi serta mitigasi terhadap dampak perubahan iklim," katanya.

Menurutnya, pelatihan ini bertujuan agar SDM pertanian dapat adaptif dengan perubahan iklim sehingga produktivitas terjaga.

Editor : Arina Pramudita
Berita Terbaru

Mandi Bareng Teman, Pelajar Sragen Tewas Tenggelam di Bengawan Solo Ngawi

Jasad korban berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan pada radius sekitar 50 meter dari titik awal ia dilaporkan tenggelam di kawasan Desa Mantingan, Kecamatan Mantingan.

Penyegaran Organisasi, Kasat dan Kapolsek Probolinggo Dimutasi

Kapolres mengajak seluruh jajaran Polres Probolinggo untuk terus menjaga profesionalisme dan menjunjung tinggi nilai-nilai Presisi.

Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

Pelaku diketahui merupakan komplotan pembobolan toko lintas kota dan provinsi.

Cuaca Akhir Pekan Jatim: 4 Daerah Diminta Waspada Hujan Lebat

Peta peringatan dini ini merepresentasikan nilai akumulasi curah hujan harian paling tinggi dalam skala satu kabupaten atau kota.

Gol Larin Selamatkan Kanada dari Kekalahan Saat Melawan Bosnia-Herzegovina

Tuan rumah Kanada harus puas bermain imbang 1-1 di laga pembukan grup B Piala Dunia 2026.

Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Waspadai potensi turunnya hujan dengan intensitas ringan di beberapa wilayah.