Minggu, 21 Jun 2026 14:27 WIB

Faktor Ekonomi Jadi Pemicu Bayi Berkelamin Ganda di Surabaya Tak Bisa Operasi

Surahman, ayah Fitriyah, bayi berkelamin ganda di Surabaya yang butuh pertolongan. (Foto: Ni'am Kurniawan/jatimnow.com)
Surahman, ayah Fitriyah, bayi berkelamin ganda di Surabaya yang butuh pertolongan. (Foto: Ni'am Kurniawan/jatimnow.com)

Surabaya - Laila Fitriyah (1,5) terus merintih menahan sakit saat ditemui di rumahnya di Jalan Tanjungsari, Jaya Bakti no 57, Surabaya. Bayi berkelamin ganda itu, tak bisa dioperasi lantaran mengidap gizi buruk.

Tubuh kurusnya menandakan asupan gizinya tak terpenuhi baik. Keterbatasan ekonomi orang tuanya, menjadi dasar penanganan terhadap bocah mungil itu menjadi terhambat.

Baca Juga: Dukung Dunia Pendidikan, SIER Bantu Pelajar Tebus Ijazah yang Tertahan

Baca juga: Pilu Bayi Berkelamin Ganda di Surabaya, Tak Bisa Operasi karena Kurang Gizi

Didampingi ayahnya, Surahman (41) dan ibunya, Yuliani (34), Fitriyah sesekali nampak terduduk lesu di pangkuan sang ibu. Menurut Surahman, anaknya itu sudah diperiksa dokter dan tergolong CAH (Congenital Adrenal Hyperplasia) yakni penyakit keturunan yang membuat penampilan fisik perempuan tampak lebih maskulin (ambigous genitalia).

Kelainan itu, membuat pertumbuhan hormon Fitriyah tak stabil, sehingga membuatnya merasa kesakitan dan harus mengonsumsi obat setiap harinya.

"Jadi beda sama anak-anak lain, ini utamanya dia tergolong hormonnya kurang bekerja dengan baik jadi harus minum obat terus," ujar Surahman saat ditemui di rumahnya, Rabu (2/2/2022) malam.

Selama itu pula, Fitriyah harus keluar masuk rumah sakit setiap dua minggu. Tujuannya untuk melakukan kontrol kesehatan agar segera mendapat penanganan. Namun selama hampir dua tahun upaya itu tak kunjung membuahkan hasil.

"Selama pengobatan dia harus kontrol selama dua minggu sekali setelah itu kalau kondisinya agak membaik mungkin nunggu dokter tindakannya gimana," tambah Surahman.

Surahman menyebut dirinya terkendala ekonomi lantaran berpenghasilan tak tetap setiap harinya. Di usia anaknya yang membutuhkan gizi baik, pun tak bisa dipenuhinya karena keterbatasan tersebut.

Baca Juga: Mendikdasmen Pantau TKA Hari Kedua di Surabaya

Hingga saat ini, lanjutnya, dokter tak berani melakukan operasi terhadap Fitriyah karena kondisi berat badan yang kurang.

"Sekarang lagi nggak kerja, (kerja) bangunan kadang ya kerja kalau ada, kalau nggak ada ya nggak kerja. Kalau bangunan sehari paling dapat seratus (ribu)," katanya.

Kondisi keluarga Fitriyah cukup memprihatinkan. Bersama kakaknya yang berusia 12 tahun, bocah lucu ini tinggal di rumah petak seluas 3x3 meter.

Sementara itu, Rosmiani, Ketua RT setempat mengatakan, pihaknya telah berulang kali berupaya agar warganya segera mendapat bantuan dari pemerintah kota.

Tak sekali Rosmiani berkonsultasi dengan lurah hingga camat setempat. Bulan lalu pun, ia menerima kunjungan dari kecamatan dan Dinas Sosial Surabaya terkait kasus Fitriyah.

Baca Juga: Cuaca Jatim Hari Ini, Hujan Petir Mengancam 12 Daerah

"Tapi sampai detik ini setelah kunjungan satu bulan lebih dari Pak Camat, Dinsos nggak ada tindak lanjut lagi," ujar Rosmiani.

Saat ini yang dibutuhkan Fitriyah hanyalah asupan gizi cukup agar pertumbuhannya lekas membaik sehingga bisa segera menjalani operasi, sehingga bocah malang itu tak perlu lagi merasa kesakitan akibat hormon yang tidak stabil.

"Yang paling saya butuhkan itu sebenarnya itu gizi, itu menambah berat badan, jadi kalau berat badannya dengan usianya nggak seimbang, otomatis dokternya juga nggak berani untuk ngoperasi, memang persyaratannya harus begitu. Usianya sekarang dua tahun kurang dengan berat badan segitu ndak bisa. Jadi solusinya ya penambahan gizi, susu, obatnya jangan telat, sayur, itu harus itu. Nah kalau nggak punya dana ya ngikutin ibunya makannya seadanya," jelasnya.

"Jadi biar cepat operasi. Jadi ini jangan sampai ada keterlambatan pengobatan," tandas Bu Ros sapaan akrabnya.

Editor : Arina Pramudita
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.