Selasa, 23 Jun 2026 21:16 WIB

Perjuangan Pemkab Ponorogo Jadikan Reog Sebagai Warisan Tak Benda Unesco

Pertunjukan reog di depan Pendopo Ponorogo (Foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)
Pertunjukan reog di depan Pendopo Ponorogo (Foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)

Ponorogo - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo terus mengupayakan agar Reog Ponorogo masuk dalam Itangible Cultural Heritage (ICH) atau warisan tak benda Unesco.

"Kami saat ini mengundang fasilitator dari Unesco, untuk bagaimana memberikan arahan, memberikan penilaian, sebelum naskah kita kirim ke Unesco," ujar Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, Rabu (22/12/2021).

Baca Juga: Satu Abad Gontor: Wamenag Puji Peran Pesantren Cetak Generasi Mendunia

Sugiti mengaku mulai mempersiapkan semua yang diminta oleh Unesco. Mulai dari bagaimana reog apakah berdampak ekonomi, apakah reog menjadi budaya rakyat dan bagaimana bahan bakunya.

"Bagaimana mencukupi selera Unesco, maka kami undang tenaga ahli," terang dia.

Sementara Fasilitator ICH-UNESCO untuk Asia Pasifik, Harry Waluyo menjelaskan, ada beberapa hal yang menjadi penyebab gagalnya Reog jadi ICH Unesco. Di antaranya penggunaan burung merak dan kulit harimau yang digunakan untuk ornamen Reog.

"Tapi ini ada solusinya dan semua harus komit. Bagaimanapun juga Unesco telah menetapkan penilaian," papar Harry.

Harry menyebut, solusinya adalah kulit harimau diganti dengan kulit hewan lain yang tidak dilindungi. Sedangkan untuk burung merak, sudah terjawab dengan adanya penakaran.

Dia berharap upaya Pemkab Ponorogo kali ini bisa berhasil. Karena pada 2009 silam, Reog Ponorogo pernah diklaim oleh negara tetangga. Isu yang sama juga mencuat pada 2017.

Baca Juga: Ribuan Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Seabad Gontor

"Dulu waktu diusulkan bareng dengan tiga elemen lain, yaitu gamelan, kulintang dan sebuah lukisan," tambah dia.

Menurut Harry, penilaian terhadap Reog Ponorogo sebenarnya tidak buruk. Hanya selisih tidak jauh dibanding gamelan yang terlebih dahulu sudah diakui Unesco.

Terkait peluang, Harry menyebut masih fifty-fifty (50-50).

"Penilaian tetap fair, tidak hanya skala nasional. Karena ada yang lain juga maju," pungkasnya.

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Punggawa Reog PonorogoPunggawa Reog Ponorogo

 

 

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.