Rabu, 22 Jul 2026 12:26 WIB

Limbah Medis Naik Empat Kali Lipat di Masa Pandemi Covid-19

Menko PMK Muhadjir Effendy saat meninjau pabrik pengelohan limbah medis B3 di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto
Menko PMK Muhadjir Effendy saat meninjau pabrik pengelohan limbah medis B3 di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto

jatimnow.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meninjau PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) di Mojokerto, Selasa (16/2/2021).

PT PRIA merupakan pabrik pengelohan limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga: Telapak Temukan Dugaan Pencemaran Kali Porong Mojokerto, Bakal Lapor Menteri LH

"Kapasitas bisa 1000 ton per jam karena ada dua mesin isinerator yang bekerjanya 24 jam dan dia (PT PRIA) bisa mengcover limbah medis seluruh wilayah Indonesia bagian timur," ujar Muhadjir.

Pantauan di lokasi, Menko PMK Muhadjir Effendy bersama Manajer PT PRIA Mujiono, Sekda Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin meninjau tempat pengolahan limbah dengan memakai baju hazmat, bermasker, pelindung kepala dan kacamata.

Mantan Menteri Pendidikan itu menjelaskan, pada masa Pandemi Covid-19, ada kenaikan limbah medis sampai empat kali lipat dibanding sebelumnya.

Baca Juga: Meimura Bawa Ludruk Besutan ke Kampus, Sentil Eksploitasi Alam Mojokerto

"Tadi saya sudah diskusi untuk memahami lebih jauh kira-kira apa saja hal-hal yang harus diperbaiki dalam kaitan limbah medis. Adanya wabah Covid-19 ini ada kenaikan empat kali lipat limbah medis dibanding sebelumnya," bebernya.

Menurut Muhadjir, harus ada pemikiran serius dalam pengolahan limbah medis dan memberikan kemudahan pendirian pabrik pengelohan limbah medis.

"Kalau pengolahan limbah ini tidak banyak dan pendiriannya tidak dipermudah, kita khawatir nanti limbah-limbah medis dibuang begitu saja tanpa ada tanggungjawab," terangnya.

Baca Juga: Angkat Isu Situs, Ludruk Besutan Bakal Masuk Kampus UNIM Mojokerto

Masih kata Muhadjir, di wilayah-wilayah terpencil juga harus ada mesin pengolahan limbah medis sendiri dan tidak harus jauh-jauh.

"Kalau jauh cukup beresiko. Apalagi ada ketentuan bahwa 24 jam pabrik ini harus sudah mengolah limbah yang datang. Kalau nanti sampai melebihi kapasitas kita khawatirkan tidak optimal penanganannya. Ini adalah perusahaan pengolahan yang representatif menurut saya, kapasitas besar, pengelolanya sangat profesional dan tingkat keamanan sangat diperhatikan," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.