Kamis, 18 Jun 2026 14:34 WIB

Dadak Merak Berumur Ratusan Tahun Meriahkan Kirab Pusaka di Jember

Dadak merak berumur ratusan tahun yang akan diarak
Dadak merak berumur ratusan tahun yang akan diarak

jatimnow.com - Apresiasi terhadap kesenian tradisional rupanya cukup tinggi. Sejumlah orang hingga kini masih memberikan apresiasi yang tinggi terhadap komunitas seniman dan warga Ponorogo yang hidup di Jember atas keberhasilan menggelar Kirab Pusaka Reog untuk menggali nilai-nilai tradisi seputar kesenian reog.

Seorang budayawan asal Jember, Miftakhul Rahman yang dikenal dengan panggilan Mas Memet mengungkapkan, gelar budaya reog dan kirab pusaka reog asli Ponorogo yang digelar di Jember ini tidak lepas dari tangan dingin sosok mantan Pj Bupati Jember, periode 2010-2011, Zarkasih.

"Saya menganggap inisiasi ini sebagai upaya mengungkap nilai-nilai kultural adiluhung yang tersirat dalam kepribadian bangsa Indonesia," ungkap Mas Memet, Sabtu (23/3/2019).

Meski diwarnai hujan deras sejak sore hari, setelah reda sejenak, acara Kirab Pusaka asli Ponorogo berupa Kepala Barong Dadak Merak yang berumur ratusan tahun itu berhasil dilakukan dengan long march sejauh kurang lebih 2 km ke lokasi acara di pusat Kecamatan Balung, Kabupaten Jember.

Barisan Kirab Pusaka yang dipertunjukkan untuk kali pertama ke publik itu diawali para pendekar dan pesilat Cimande, para seniman Reog Ponorogo beserta warok dan pembarong serta grup jaranan dan pusaka Reog dan ditutup oleh barisan 25 perwakilan grup Reog yang ada di wilayah selatan Kabupaten Jember.



Dosen Fakultas Ilmu Budaya dan Bahasa Universitas Jember, Suharto menyatakan bahwa pertunjukan seni budaya reog di Jember ini sudah berurat berakar cukup lama, terbukti dengan keberadaan 25 grup reog di wilayah Jember selatan yang menunjukkan eksistensi sub kultur ponoragan- warga masyarakat Jember bagian selatan.

"Dengan adanya kirab pusaka reog serta kehadiran para seniman reog beserta para warog asli Ponorogo ke Jember ini sangat menggembirakan sekali. Faktanya tanggapan publik saat acara itu digelar meski sempat hujan sangat antusias hingga jalanan di Balung macet. Silaturahmi seniman ini mesti berlanjut terus," kata Suharto yang biasa dipanggil Mak Endon atau Mas Gendon itu.

Sejarawan Setyo Hadi yang saat ini getol meneliti dan menulis sejarah Sadeng-Jember yang juga Alumnus Universitas Indonesia itu memberikan tanggapan positif dengan rangkaian agenda seni warga Panoragan dan seniman reog asal Ponorogo khususnya keberadaan Kirab Pusaka Reog yang baru pertama kali terjadi itu.

"Saya sungguh sangat menyesal tidak bisa hadir karena ada acara di Malang, padahal peristiwa ini (Kirab Pusaka Reog asli Ponorogo) merupakan peristiwa langka," kata Setyo.

Pimpinan rombongan seniman reog Ponorogo, Langgeng Dwi mengatakan terkejut dengan adanya undangan dari warga Ponorogo yang ada di jember.

"Alhamdulillah dari Ponorogo ada 17 orang yag hadir ke Balung, terdiri atas beberapa warok dan seniman pembarong khususnya maestro pembarong Kembar Mbah Suwandi-Suwondo serta seniman yang tergabung dalam yayasan reog Indonesia," kata Langgeng seusai acara Sabtu malam (16/3/2019).

Baca Juga: Warga Mayang Jember Syok Temukan Kerangka Manusia Saat Panen Singkong



Langgeng menjelaskan bahwa sebenarnya sejumlah warok sepuh awalnya berkenan ingin ikut ke Jember seperti Mbah Bikang, Mbah Gani yang merupakan warok sepuh angkatannya alm Mbah Wo Kucing.

"Saat kami nyuwon restu untuk berangkat ke Jember sekaligus mengundang beliau-beliau (Mbah Bikang dan Mbah Gani) untuk ikut, beliau-beliau sangat antusias dan ingin ikut tetapi karena kondisi kesehatan saja yang menghalangi niat untuk turut ke Jember itu. Bahkan ada ungkapan menarik Kok Jember ya yang punya ide Kirab Pusaka Reog bukan dari Ponorogo," ungkap Langgeng.

Dalam kesempatan yang sama, Zarkasih yang nampak menyertai tamu, para warok dan pembarong asli Ponorogo itu mengungkapkan bahwa saya sangat memahami hubungan kultural masyarakat Jember dengan masyarakat Ponorogo.

"Hal itu saya rasakan ketika saya mesti mempertahankan eksistensi trayek khusus angkutan tranportasi Ambulu-Ponorogo yang seharusnya ditutup karena tidak masuk terminal Jember," kata Zarkasih seusai acara Kirab Pusaka.

Seperti diketahui acara Kirab Pusaka Asli Reog dan pentas kesenian serta diskusi publik yang digelar di Kecamatan Balung itu telah berhasil digelar pekan lalu dengan sukses meski gaungnya hingga kini tetap terasa.

Baca Juga: Ribuan Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Seabad Gontor

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.