jatimnow.com - Blacius Subono maestro seniman asal Surakarta, meninggal dunia seusai pentas dalam kampanye pamungkas calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, di Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Pada pentas itu, ia berperan menjadi Semar yang memberikan sejumlah wejangan kepada pasangan Ganjar-Mahfud.
Baca juga: Lomba Pioneering Latih Kekompakan dan Mental Santri Nurul Jadid
Menurut pengamat budaya Univesitas Airlangga (Unair) Surabaya, Puji Karyanto, secara umum Semar dianggap sebagai salah satu dayang tanah Jawa. Selain itu, Semar menggambarkan sosok rakyat yang jujur dan bijaksana
"Banyak sekali ajaran agama yang sebenarnya ajaran klasik Jawa, tapi kemudian Disemarkan, seperti ojok dumeh, memayu hayuning bawono (menyatu, membuat dunia menjadi indah)," ujar Puji saat dimintai tanggapannya, Sabtu (10/2/2023) malam.
Dia menjelaskan, ketika Blacius Subono mengungkap hal itu pada saat kampanye Ganjar, seperti Hasto Broto atau profil pemimpin yang ideal.
Baca juga: Dewan Kesenian Surabaya Laporkan Dugaan Hilangnya Aset Budaya ke Polisi
Semar selalu mengingatkan agar jangan lupa bahwa tuan dari seorang kepala negara adalah rakyat. Jabatan yang dipegang merupakan mandat dari rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.
"Saya tidak tahu, apakah itu dalam konteks penyampaian harapan beliau ke pasangan Ganjar-Mahfud. Tapi pemimpin yang secara ideal itu memiliki ciri-ciri kepemimpinan Hasto Broto, mamayu hayuning bawono kan begitu toh," sambung dosen FIB Unair tersebut.
Namun, jika itu diucapkan oleh pendukung pasangan Ganjar-Mahfud, relasinya adalah Paslon tersebut diharapkan menjadi pemimpi seperti memayu hayuning bawono, yakni menyatukan semuanya, menjadi dunia semakin indah.
Baca juga: Polemik DKS Memanas, Seniman Surabaya Turun ke Jalan
"Semar ingin paslon tertentu (Ganjar - Mahfud) diharapkan menjadi pemimpin seperti memayu hayuning bawono,"pungkas Puji Karyanto.
Sepeti diketahui, seniman Bawono merupakan pendukung pasangan Ganjar-Mahfud ambruk lemas setelah tampil memainkan lakon wayang orang berdurasi pendek di hadapan Ganjar dan Mahfud, di depan Balai Kota Surakarta.
Editor : Endang Pergiwati