jatimnow.com - Jual beli tokek dengan nilai transaksi yang fantastis nyaris saja menjadi kenyataan. Tidak disangka, transaksi batal karena tokek berubah menjadi mahluk astral.
Kholis (bukan nama sebenarnya), warga Kecamatan Gambiran, Banyuwangi. Pemuda berusia 35 tahun ini harus legowo mengubur kembali hasratnya menjadi orang kaya baru.
Baca juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang
"Ada pembeli dari Surabaya berani harga Rp 1 miliar. Syaratnya, tokek harus panjang satu kilan lebih," katanya, Sabtu (30/3/2019).
Kebetulan, lanjut Kholis, dia pernah melihat tokek seukuran yang diminta pembeli tersebut. Tokek itu berkeliaran di kebun yang tidak jauh dari rumahnya. Selama ini hal itu dirahasiakan.
"Saya bayar orang yang ahli menangkap tokek," ujarnya.
Singkat cerita, tokek itu akhirnya berhasil ditangkap hidup-hidup dan tanpa cacat. Kholis lantas menghubungi pembeli yang kemudian dirinya diminta untuk segera membawa tokek ke Surabaya.
"Saya masukkan ke karung bekas, saya bawa ke pembeli di Surabaya," katanya.
Selama perjalanan, Kholis sudah berangan-angan akan segera menjadi orang kaya baru. Deretan nama mobil mahal masuk dalam daftar belanjanya. Ia juga berencana, akan membagikan sejumlah uang kepada para sahabatnya.
Baca juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran
"Belum terima uangnya saja saya sudah seperti orang kaya," katanya lalu tertawa.
Imajinasi itu pun buyar, saat karung yang di dalamnya ada tokek raksasa dibuka. Hewan yang kulitnya bercorak bintik-bintik merah hitam tersebut berubah wujud.
"Ternyata tokek jadi-jadian, wujudnya jadi aneh dan hitam legam. Kata paranormal kenalan saya, tokek peliharaan genderuwo yang saya tangkap," ujarnya.
Karena ketakutan, pria yang bekerja di kebun jeruk tersebut mengembalikan tokek jadi-jadian tersebut ke tempat semula. Dan mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.
Baca juga: Banyuwangi Jadi Pilot Project, PTPN I Tanam 10 Ribu Kelapa Genjah demi Hilirisas
"Kerja yang pasti saja, kalau memang saatnya kaya juga akan kaya," pungkasnya.
Editor : Sandhi Nurhartanto