Selasa, 23 Jun 2026 14:09 WIB

Gus Lilur: Muktamar NU ke-35 Harus Hidupkan Semangat Piagam Jakarta

Gus lilur bersama Prof. KH Nazaruddin Umar. (Foto: NBI for jatimnow.com)
Gus lilur bersama Prof. KH Nazaruddin Umar. (Foto: NBI for jatimnow.com)

jatimnow.com - Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, mengingatkan peserta Muktamar NU ke-35 agar menjadikan forum tertinggi organisasi tersebut sebagai ajang memperkuat peran kebangsaan, bukan sekadar perebutan jabatan.

Menurut kiai asal Situbondo, Jawa Timur, hasil pemilihan dalam muktamar akan menentukan arah NU sebagai penjaga persatuan nasional di tengah tantangan geopolitik global dan dinamika sosial-politik dalam negeri.

Baca Juga: NBI Usulkan Duet Kiai dan Intelektual Muda Pimpin PBNU 2026-2031

“Muktamar ke-34 Lampung harus jadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin, dampaknya sangat fatal bagi NU, organisasi bisa terpecah, terseret arus korupsi dan nafsu kuasa,” kata Gus Lilur, Jumat (19/6/2026).

Ia menilai pengalaman Muktamar NU ke-34 di Lampung pada 2021 menunjukkan bagaimana pertarungan kepentingan dapat memicu konflik internal yang berkepanjangan. Karena itu, peserta muktamar diminta mengedepankan kapasitas keulamaan dan kepemimpinan dalam menentukan pilihan.

Bagi Gus Lilur, setiap keputusan strategis NU tidak dapat dilepaskan dari kepentingan bangsa. Sebagai organisasi yang ikut melahirkan Republik Indonesia dan memiliki jutaan warga, NU memikul tanggung jawab besar menjaga keutuhan negara.

“NU adalah bagian dari pendiri republik ini. Maka setiap keputusan besar NU harus selalu ditanyakan, apa artinya bagi keutuhan bangsa?” ujarnya.

Gus Lilur kemudian mengaitkan semangat Muktamar NU ke-35 dengan peristiwa Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945. Ia menilai keputusan para tokoh Islam saat itu untuk menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta merupakan contoh keteladanan dalam mendahulukan kepentingan nasional.

“Semangat Piagam Jakarta adalah cara berpikir seorang pemimpin Islam, memilih kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan diri dan golongannya. Semangat itu yang harus hadir di bilik pemilihan muktamar,” katanya.

Dalam pandangannya, pemimpin NU yang terpilih nantinya juga perlu mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Baca Juga: Menag Janjikan Insentif Guru Madrasah Non ASN Cair Akhir Juni 2026

Ia beralasan pasangan Prabowo-Gibran berhasil meredam berbagai polarisasi politik yang sempat muncul di masyarakat, termasuk rivalitas kelompok pendukung dalam pemilu maupun ketegangan antarunsur keamanan negara.

“Kita sudah melihat jejaknya, polarisasi antara yang disebut cebong dan kampret, serta rivalitas antarinstitusi keamanan negara, yaitu TNI dan Polri. Prabowo dan Gibran menyatukan itu semua. Demi persatuan bangsa, pemimpin NU pun harus seseorang yang mendukung keberlanjutan itu,” ujar Gus Lilur.

Atas pertimbangan tersebut, ia secara terbuka menyatakan dukungan kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk menduduki kursi Ketua Umum PBNU. Sementara posisi Rais Aam dinilainya layak diisi KH Said Aqil Siradj.

Menurutnya, kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan rekam jejak yang dapat memperkuat posisi NU di tingkat nasional maupun internasional.

Baca Juga: Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama

“Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan NU di panggung global. NU kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” katanya.

Gus Lilur juga mengkritik kemunculan figur yang memanfaatkan simbol kesantrian untuk membangun pengaruh politik tanpa ditopang kapasitas keilmuan yang memadai.

Ia menegaskan Muktamar NU ke-35 merupakan momentum penting yang akan menentukan arah organisasi pada masa mendatang.

“Ini bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan, itulah yang sedang dipertaruhkan,” pungkasnya.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.