Balai Pemuda, Surat Pengosongan, dan Teori Pintu Terbuka
- Penulis : Ali Masduki
- | Selasa, 12 Mei 2026 10:14 WIB
jatimnow.com - Di negeri birokrasi yang kadang lebih teatrikal daripada panggung teater itu sendiri, Surabaya baru saja menyuguhkan satu pertunjukan kolosal: seniman berdemo, Satpol PP berjaga, gamelan diangkut, lalu wali kota tampil dengan pernyataan teduh: “Balai Pemuda terbuka untuk semua seniman.”
Kalimat itu indah. Teduh. Nyaris seperti kutipan pembuka festival kebudayaan. Masalahnya, publik telanjur melihat gamelan diangkut oleh sekelompok personel Satpol PP, didahului apel pasukan di Balai Pemuda.
Baca Juga: BKPSDM Tulungagung Periksa Anggota Satpol PP yang Berjaga di Kantor Disbudpar
Di sinilah komunikasi politik bekerja dengan cara yang menarik. Dalam teori komunikasi modern, ada yang disebut framing, cara kekuasaan membingkai peristiwa agar perhatian publik bergeser dari “apa yang terjadi” menuju “apa yang sebaiknya diingat”.
Publik tadinya melihat: surat pengosongan, ketegangan, pengosongan paksa, gamelan diangkut, kantor dikosongkan.
Lalu narasi baru muncul: “Balai Pemuda terbuka untuk semua.” Maka fokus perlahan dipindahkan dari pengusiran menuju keterbukaan. Dari pertanyaan “mengapa dikosongkan?” menjadi “bukankah semua boleh memakai?”
Ini seperti orang kehilangan rumah, lalu diberi penjelasan bahwa trotoar kota sebenarnya milik bersama. Padahal yang dipersoalkan para seniman bukan sekadar boleh masuk atau tidak masuk Balai Pemuda. Yang dipersoalkan adalah ingatan sejarah kebudayaan.
Sebab Dewan Kesenian Surabaya, Bengkel Muda Surabaya, Sanggar Merah Putih, hingga Warung Ning bukanlah penyewa musiman seperti stan bazar UMKM kuliner.
Mereka tumbuh di sana selama puluhan tahun, menjadi ekosistem kebudayaan: tempat lahir diskusi, latihan, pertunjukan, pertengkaran estetika, jatuh cinta antaraktivis teater, sampai tempat ngopi sambil “memfitnah” sutradara lain secara artistik.
Lima puluh tahun di Balai Pemuda bukan sekadar “menempati ruangan”. Itu sudah seperti akar pohon beringin. Kalau dicabut mendadak, yang roboh bukan hanya meja dan kursi, melainkan juga kenangan.
Yang paling ironis tentu peristiwa pengangkutan gamelan pelog dan slendro pemberian Ibu Tuti Aziz. Gamelan itu bukan benda mati biasa.
Dalam kebudayaan Jawa, gamelan adalah napas ruang. Ia bukan hanya alat musik, melainkan penanda peradaban. Mengangkut gamelan tanpa sensitivitas budaya kadang terasa seperti memindahkan makam leluhur dengan forklift.
Baca Juga: Dewan Kesenian Surabaya Laporkan Dugaan Hilangnya Aset Budaya ke Polisi
Maka publik marah bukan semata karena ruangan kosong. Publik marah karena melihat cara memperlakukan kebudayaan seperti inventaris gudang kecamatan.
Namun wali kota tampaknya memahami satu hal penting dalam komunikasi massa: ketika situasi memanas, pemimpin harus hadir dengan narasi peneduh.
Ini dekat dengan teori Image Restoration dari William Benoit. Saat institusi terkena kritik, strategi yang dipakai bukan selalu menyangkal, melainkan mengurangi kesan negatif dengan pernyataan yang lebih besar, lebih normatif, dan lebih universal.
“Balai Pemuda terbuka untuk semua seniman” adalah kalimat universal. Sulit ditolak. Siapa yang berani menentang keterbukaan?
Persis seperti slogan: “udara segar untuk semua warga.” Padahal warga sedang protes karena pohonnya ditebang.
Baca Juga: Belasan Reklame Rokok Ilegal Dicopot Satpol PP Tulungagung
Di titik ini, seniman Surabaya justru sedang memainkan fungsi sosialnya yang paling penting: menjadi alarm budaya. Seniman sering dianggap ribut karena memang tugasnya meributkan hal-hal yang dianggap biasa oleh birokrasi. Kalau semua diam, kota bisa berubah menjadi deretan gedung rapi tanpa jiwa.
Dan menariknya, demonstrasi seniman di Surabaya hampir selalu punya unsur ludruk: ada satire, ada humor, ada simbol. Bahkan ketika marah, seniman Surabaya masih sempat menggoda kekuasaan dengan jenaka. Ini warisan panjang dari semangat Cak Durasim yang percaya bahwa kritik paling tajam justru bisa datang lewat tawa.
Karena itu, publik perlu memahami: demonstrasi kemarin bukan perang melawan pemerintah kota. Itu lebih mirip anak lama rumah budaya yang protes karena tiba-tiba pintunya diganti gembok baru.
Dan mungkin, di sinilah paradoks paling lucu itu lahir. Balai Pemuda disebut “terbuka untuk semua”, tetapi yang pertama kali merasakan pintu tertutup justru mereka yang selama puluhan tahun menjaga nyala lampunya.
Oleh: Meimura
Budayawan Surabaya
URL : https://jatimnow.id/baca-84461-balai-pemuda-surat-pengosongan-dan-teori-pintu-terbuka