Minggu, 07 Jun 2026 19:42 WIB

Berburu Burung Hantu di Daerah ini Akan Dilarang

Burung Hantu/Foto: Istimewa
Burung Hantu/Foto: Istimewa

jatimnow.com - Mungkin langkah ini perlu ditiru daerah lain.  Untuk mengurangi hama tikus yang memangsa padi petani,  burung hantu  menjadi predator yang ampuh.

"Pengendalian dengan burung hantu itu cukup efektif, karena satu ekor burung hantu bisa memakan lima sampai 10 ekor tikus," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Pemkab Bantul Pulung Haryadi, Sabtu (27/10/2018).

Baca Juga: Rakyat Desa Memang Tidak Memegang Dollar, Tetapi Tetap Menanggung Dampaknya

Pemkab Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menyusun peraturan bupati mengenai larangan berburu atau menembak burung hantu yang sudah dilepasliarkan pemerintah di kawasan Sedayu.

Ia mengatakan, peraturan itu disiapkan untuk menjaga populasi burung dan pengendalian hama tikus di Sedayu tetap efektif.

"Rubuha (rumah burung hantu) sudah cukup bagus (tingkatkan populasi burung hantu) karena sudah ada perkembangan, sudah beranak kemudian bercucu dan sebagainya, tinggal nanti kita buat perbup supaya tidak ditembak itu," katanya.

Sejak beberapa tahun lalu, menurut dia, instansinya sengaja melepasliarkan burung hantu jenis Tyto Alba di wilayah Kecamatan Sedayu, sebagai upaya pengendalian hama tikus yang terus menyerang dan merusak lahan pertanian di daerah itu.

Ia mengatakan, kemudian pemerintah bersama dengan kelompok tani setempat membangun rubuha-rubuha sebagai tempat burung hantu tinggal di titik-titik strategis sekitar hamparan sawah, agar populasi spesies tersebut bertambah.

Baca Juga: Kekerasan di Daycare, Psikolog Ingatkan Bahaya Trauma Anak dan Mom-Shaming

"Sehingga nanti ke depan legalitas (peraturan bupati) untuk tidak berburu burung hantu ini yang kita harus segera tindaklanjuti. Saya kira itu langkah kita terkait dengan (pengembangan) burung hantu," katanya.

Apalagi, menurut dia, pengendalian hama tikus yang selama ini menjadi momok bagi petani di wilayah Sedayu sulit ditumpas, sehingga paling tidak bisa lebih efektif selain upaya 'gropyokan' tikus yang sering dilakukan petani Sedayu.

Untuk itu, lanjut dia, ke depan pemda bersama pihak terkait akan terus melepasliarkan burung hantu terutama di Sedayu.

Baca Juga: Gak Perlu Jemur di Jalan Lagi, Mahasiswa Surabaya Ciptakan Alat Pengering Padi

"Saat ini (populasi burung hantu) masih terbatas, masih ratusan belum sampai ribuan, tapi kita akan kembangkan terus," katanya.

 

Sumber: Antara

Editor : Budi Sugiharto
Berita Terbaru

Melihat Jejak Soekarno di Surabaya Melalui Pameran "Aku Arek Suroboyo"

Tema "Aku Arek Suroboyo" dipilih untuk menegaskan identitas Bung Karno sebagai putra daerah yang tumbuh dan ditempa di Surabaya sebelum menjadi tokoh besar Indonesia.

1.232 Atlet Taekwondo Bertarung di Ksatria Nusantara PBTI Series Kediri

Para atlet diharapkan dapat menjadi bibit-bibit terbaik Indonesia yang akan mewakili bangsa pada berbagai ajang internasional.

Menkop Bantah Isu Jual Beli Titik Koperasi Merah Putih, Sempat Viral di Kediri

Menkop Ferry menargetkan seluruh bangunan Koperasi Merah Putih, gerai usaha, serta fasilitas pendukung koperasi desa dapat selesai pada Agustus mendatang.

Turnamen Gerindra Cup U17 di Kediri Dimulai, Wadah Pembinaan Pesepakbola Muda

“Saya berharap dari stadion (Brawijaya) ini akan lahir pemain-pemain handal yang nantinya bisa memperkuat Indonesia," kata Anwar Sadad.

Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi nyata antara koperasi, petani, dan pelaku industri.

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.