Besut Jajah Deso, Mengusik Keserakahan Juragan Tambak Lewat Ludruk Garingan
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Sabtu, 11 Apr 2026 11:08 WIB
jatimnow.com - Panggung Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) mendadak panas pada Jumat (10/4) malam. Dua juragan tambak, yang satu penguasa udang dan satunya raja bandeng, terlibat adu mulut hebat.
Keduanya menutup mata dari kemiskinan tetangga dan sibuk mencaplok lahan demi mempertebal kantong pribadi.
Baca Juga: Menata Kebudayaan dengan Helm Proyek atau Tikar Musyawarah?
Kegaduhan ini bukan realita di lapangan, melainkan lakon dalam pentas Ludruk Besutan bertajuk "Besut Jajah Deso Milangkori".
Pertunjukan ini menjadi potret getir mengenai pudarnya semangat berbagi di tengah masyarakat yang kian individualis.
Tokoh Besut, yang diperankan oleh seniman kawakan Meimura, tampil sebagai penengah di tengah ego besar sang juragan.
Meimura tidak hanya berakting. Ia membuka dialog dengan membawa obor dan daun pisang, merapalkan kidung serta ngudoroso tentang keresahannya terhadap kondisi sosial di Sidoarjo.
"Yang salah itu negara, pemerintah, dan masyarakat sendiri," cetus Esthi Susanti, salah satu penonton yang mendadak ditarik naik ke panggung oleh Besut untuk ikut mengadili pertikaian tersebut.

Suasana semakin pecah saat Robet Bayonet (juragan udang) dan Didik Jogoyudo (juragan bandeng) saling lempar banyolan spontan. Meski memerankan karakter rakus, chemistry keduanya memancing gelak tawa penonton.
Robet, yang dikenal sebagai mantan punggawa Ludruk Luntas, dan Didik, sutradara berpengalaman dari Teater Lecture, menunjukkan kelasnya dalam berimprovisasi meski hanya memiliki waktu persiapan singkat.
Pentas ini bukan sekadar hiburan. Meimura sedang mengemban misi "Pemberdayaan Ruang Publik" dari Kementerian Kebudayaan RI.
Baca Juga: Bukan Pengosongan, Ketika Para Tokoh Berpikir Tentang Ibu Kota Provinsi Jatim
Sidoarjo menjadi persinggahan kedua dari total sepuluh kota yang akan ia datangi, setelah memulai perjalanan di Surabaya awal April lalu.
Ketua Dekesda, Ribut Wiyoto, menilai model "ludruk garingan" atau minimalis yang diusung Meimura adalah solusi konkret.
Saat ini, banyak kelompok ludruk bertumbangan karena terjebak pakem konvensional yang mahal dan rumit.
"Masyarakat sebenarnya masih suka ludruk. Masalahnya, banyak kelompok hanya jadi 'papan nama' karena terlalu kaku harus main dengan personel besar dan gamelan lengkap. Meimura memberikan tawaran kreatif agar ludruk tetap bernapas tanpa harus menyerah pada keadaan," ujar Ribut dalam sesi diskusi.

Nada serupa datang dari Arif Rofiq, penggiat seni asal Jombang. Ia memuji konsistensi Meimura dalam menyuarakan pesan simbolik lewat seni tradisi.
Baca Juga: Bangunan Sakti Itu Bernama Balai Pemuda Surabaya
Menurut Rofiq, ludruk seharusnya bisa mandiri tanpa harus terus-menerus menggantungkan nasib pada bantuan pemerintah.
Senada dengan itu, pengamat seni dari STKW Surabaya, Warmin, mengingatkan bahwa esensi pelestarian bukan hanya menjaga bentuk fisiknya, melainkan nilai-nilai moral di dalamnya.
"Kecerdasan itu perlu, tapi kesadaran jauh lebih utama. Yang harus selamat bukan cuma keseniannya, tapi nilai-nilai yang terkandung di sana agar sampai ke hati penonton," pungkas Warmin.
Kolaborasi antara Sanggar Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), Komunitas Seni Budaya BrangWetan, dan Dekesda ini membuktikan bahwa ludruk masih punya taji untuk menyentil realita sosial sekaligus beradaptasi dengan zaman.
Selanjutnya, rombongan Besut akan melanjutkan perjalanan menyapa warga di Jombang dan Nganjuk sebelum berakhir di Jember.
Editor : Ali Masduki