Petani Tembakau Terhimpit, Gus Lilur Dorong Industri dari Bawah
- Penulis : Ali Masduki
- | Senin, 30 Mar 2026 05:50 WIB
jatimnow.com - Ketimpangan dalam industri tembakau Indonesia kembali jadi sorotan. Di tengah harga rokok yang terus naik, petani tembakau justru masih berkutat pada harga jual rendah dan ketidakpastian pasar.
Kondisi tersebut mendorong munculnya gagasan membangun industri rokok berbasis UMKM agar lebih dekat dengan petani dan menciptakan distribusi keuntungan yang lebih adil.
Baca Juga: Gus Lilur: MBG Pasti Meroket Jika Tanpa Copet
HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, pendiri Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup), menilai persoalan utama industri bukan terletak pada petani, melainkan pada struktur yang timpang sejak lama.
“Petani hanya ditempatkan sebagai pemasok bahan baku. Mereka tidak punya kendali atas harga, sementara nilai tambah justru terkonsentrasi di level industri,” ujarnya.
Menurutnya, situasi ini menciptakan paradoks. Daerah penghasil tembakau seperti Madura memiliki kontribusi besar terhadap industri rokok nasional, namun masih tertinggal dalam indikator kesejahteraan.
Pengusaha yang disapa Gus Lilur itu melihat jurang antara pabrik dan ladang bukan sekadar masalah distribusi, melainkan persoalan sistemik.
Selama ini, kata dia, petani menjual tembakau dengan harga rendah, lalu membeli kembali produk rokok dengan harga tinggi. Siklus ini terus berulang tanpa perubahan berarti.
“Dalam satu rantai produksi, petani selalu berada di posisi yang dirugikan,” kata Gus Lilur.
Untuk itu ia menawarkan pendekatan berbeda, yakni membangun industri dari bawah melalui ribuan pabrik rokok skala UMKM di daerah sentra tembakau. Model ini diharapkan memangkas rantai distribusi sekaligus mendekatkan produsen dengan petani.
Dengan pabrik yang berada dekat sumber bahan baku, harga tembakau dinilai bisa lebih kompetitif dan transparan.
Di sisi lain, biaya produksi yang lebih efisien memungkinkan harga rokok tetap terjangkau bagi konsumen, yang sebagian besar berasal dari kelompok menengah ke bawah.
Baca Juga: Optimis Menanam, Petani Bondowoso Minta Perlindungan Regulasi Tembakau
Kenaikan harga rokok legal hingga kisaran Rp20 ribu per bungkus, menurutnya, telah menciptakan tekanan pasar. Kondisi ini membuka ruang bagi peredaran rokok ilegal.
Gus Lilur melihat fenomena tersebut sebagai gejala dari sistem yang tidak seimbang, bukan sekadar pelanggaran hukum.
“Ketika produk legal tidak terjangkau, pasar akan mencari alternatif sendiri. Tapi solusi bukan membiarkan ilegalitas tumbuh, melainkan menghadirkan produk legal yang lebih adil dan terjangkau,” tuturnya.
Gus Lilur mengklaim telah memulai langkah tersebut melalui pengembangan pabrik rokok berbasis UMKM.
Ia optimistis jika model ini diperluas secara masif, struktur industri tembakau nasional bisa berubah secara mendasar, dari yang terpusat menjadi tersebar, dari yang timpang menjadi lebih inklusif.
Baca Juga: Gus Lilur Tagih Janji KEK Tembakau Madura demi Berantas Rokok Ilegal
Dalam skema ini, petani tidak lagi berada di pinggir rantai produksi, melainkan menjadi bagian penting dari ekosistem industri.
“Petani harus menjadi subjek, bukan objek. Mereka harus ikut menikmati nilai tambah,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa peran negara tidak berhenti pada regulasi, tetapi perlu hadir sebagai fasilitator untuk mendorong pemerataan ekonomi di sektor tembakau.
Bagi Gus Lilur, upaya ini bukan sekadar strategi bisnis. Ia menyebutnya sebagai langkah untuk mengembalikan keseimbangan dalam industri yang selama ini dinilai tidak berpihak pada fondasinya sendiri.
“Industri tidak boleh hanya dinilai dari besarnya keuntungan, tetapi dari seberapa adil manfaat itu dibagikan,” ucapnya.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-83375-petani-tembakau-terhimpit-gus-lilur-dorong-industri-dari-bawah