Rabu, 22 Jul 2026 13:49 WIB

Petani Tembakau Terhimpit, Gus Lilur Dorong Industri dari Bawah

Pekerja memilah tembakau. Petani tembakau masih berkutat pada harga jual rendah dan ketidakpastian pasar. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Pekerja memilah tembakau. Petani tembakau masih berkutat pada harga jual rendah dan ketidakpastian pasar. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Ketimpangan dalam industri tembakau Indonesia kembali jadi sorotan. Di tengah harga rokok yang terus naik, petani tembakau justru masih berkutat pada harga jual rendah dan ketidakpastian pasar.

Kondisi tersebut mendorong munculnya gagasan membangun industri rokok berbasis UMKM agar lebih dekat dengan petani dan menciptakan distribusi keuntungan yang lebih adil.

Baca Juga: Gus Lilur: Muktamar NU ke-35 Harus Hidupkan Semangat Piagam Jakarta

HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, pendiri Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup), menilai persoalan utama industri bukan terletak pada petani, melainkan pada struktur yang timpang sejak lama.

“Petani hanya ditempatkan sebagai pemasok bahan baku. Mereka tidak punya kendali atas harga, sementara nilai tambah justru terkonsentrasi di level industri,” ujarnya.

Menurutnya, situasi ini menciptakan paradoks. Daerah penghasil tembakau seperti Madura memiliki kontribusi besar terhadap industri rokok nasional, namun masih tertinggal dalam indikator kesejahteraan.

Pengusaha yang disapa Gus Lilur itu melihat jurang antara pabrik dan ladang bukan sekadar masalah distribusi, melainkan persoalan sistemik.

Selama ini, kata dia, petani menjual tembakau dengan harga rendah, lalu membeli kembali produk rokok dengan harga tinggi. Siklus ini terus berulang tanpa perubahan berarti.

“Dalam satu rantai produksi, petani selalu berada di posisi yang dirugikan,” kata Gus Lilur.

Untuk itu ia menawarkan pendekatan berbeda, yakni membangun industri dari bawah melalui ribuan pabrik rokok skala UMKM di daerah sentra tembakau. Model ini diharapkan memangkas rantai distribusi sekaligus mendekatkan produsen dengan petani.

Dengan pabrik yang berada dekat sumber bahan baku, harga tembakau dinilai bisa lebih kompetitif dan transparan.

Di sisi lain, biaya produksi yang lebih efisien memungkinkan harga rokok tetap terjangkau bagi konsumen, yang sebagian besar berasal dari kelompok menengah ke bawah.

Baca Juga: NBI Usulkan Duet Kiai dan Intelektual Muda Pimpin PBNU 2026-2031

Kenaikan harga rokok legal hingga kisaran Rp20 ribu per bungkus, menurutnya, telah menciptakan tekanan pasar. Kondisi ini membuka ruang bagi peredaran rokok ilegal.

Gus Lilur melihat fenomena tersebut sebagai gejala dari sistem yang tidak seimbang, bukan sekadar pelanggaran hukum.

“Ketika produk legal tidak terjangkau, pasar akan mencari alternatif sendiri. Tapi solusi bukan membiarkan ilegalitas tumbuh, melainkan menghadirkan produk legal yang lebih adil dan terjangkau,” tuturnya.

Gus Lilur mengklaim telah memulai langkah tersebut melalui pengembangan pabrik rokok berbasis UMKM.

Ia optimistis jika model ini diperluas secara masif, struktur industri tembakau nasional bisa berubah secara mendasar, dari yang terpusat menjadi tersebar, dari yang timpang menjadi lebih inklusif.

Baca Juga: Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama

Dalam skema ini, petani tidak lagi berada di pinggir rantai produksi, melainkan menjadi bagian penting dari ekosistem industri.

“Petani harus menjadi subjek, bukan objek. Mereka harus ikut menikmati nilai tambah,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa peran negara tidak berhenti pada regulasi, tetapi perlu hadir sebagai fasilitator untuk mendorong pemerataan ekonomi di sektor tembakau.

Bagi Gus Lilur, upaya ini bukan sekadar strategi bisnis. Ia menyebutnya sebagai langkah untuk mengembalikan keseimbangan dalam industri yang selama ini dinilai tidak berpihak pada fondasinya sendiri.

“Industri tidak boleh hanya dinilai dari besarnya keuntungan, tetapi dari seberapa adil manfaat itu dibagikan,” ucapnya.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.