Pola Makan Instan Ancam Kesehatan Keluarga
- Penulis : Ali Masduki
- | Jumat, 27 Mar 2026 15:33 WIB
jatimnow.com - Gempuran makanan instan dan olahan kian mendominasi meja makan keluarga. Pola konsumsi praktis tersebut memicu kekhawatiran terhadap kualitas gizi, terutama bagi anak-anak yang sedang tumbuh.
Di Lamongan, perubahan pola makan terasa di tengah gaya hidup serba cepat. Menu harian banyak diisi gorengan, makanan olahan, hingga minuman berpemanis. Kondisi itu beririsan dengan meningkatnya risiko gizi buruk, stunting, hingga obesitas.
Baca Juga: Indomobil eMotor QT Meluncur di Surabaya, Motor Listrik Stylish Rp16 Jutaan
Dahlina Rosyida, mantan atlet balap sepeda yang kini aktif sebagai pelari, memilih jalur berbeda. Ia menjaga asupan makanan untuk menopang aktivitas fisiknya.
“Kalau tidak diimbangi makanan bernutrisi, risiko cedera bisa menghentikan aktivitas olahraga,” ujarnya.
Perempuan yang akrab disapa Nana itu rutin mengonsumsi sayur, telur rebus, dan buah segar. Pola makan dijaga disiplin, termasuk membatasi waktu makan terakhir pada sore hari. Kebiasaan tersebut ia tularkan kepada anak-anaknya.
Menurut Nana, menjaga kesehatan bukan soal latar belakang atlet, melainkan kemauan.
“Semua kembali ke kesadaran masing-masing. Pola hidup sehat bisa dimulai dari rumah,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Timur, dr. Andriyanto. Ia menyebut keluarga, terutama ibu, memegang kendali utama dalam membentuk pola konsumsi.
“Edukasi gizi perlu diberikan kepada ibu yang memiliki balita dan anak dalam masa pertumbuhan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, masalah kesehatan tidak selalu berasal dari satu jenis makanan. Gorengan, makanan instan, maupun minuman berpemanis tetap bisa dikonsumsi selama porsinya terjaga.
“Masalah muncul ketika konsumsi berlebihan dan terus-menerus,” kata Andriyanto.
Di sisi lain, kebutuhan energi saat beraktivitas membuat sebagian orang tetap mengonsumsi minuman tertentu.
Baca Juga: Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA 2026
Kristiono, pelari trail asal Surabaya, mengaku sesekali minum minuman berkarbonasi saat membutuhkan tambahan kalori.
“Saya tidak rutin. Biasanya saat kondisi tertentu, misalnya cuaca panas atau jeda makan terlalu lama,” ujarnya.
Perubahan gaya hidup sehat mulai menguat sejak pandemi Covid-19. Aktivitas olahraga dan konsumsi makanan sehat menjadi bagian dari rutinitas masyarakat. Namun, pergeseran tersebut belum sepenuhnya diikuti perubahan pola makan di semua lapisan.
Industri makanan dan minuman menghadapi tekanan untuk beradaptasi. Deputy Head for Agriculture, Food and Beverage EuroCham Indonesia, Dhedy Adi Nugroho, mengakui produsen tengah menyesuaikan komposisi produk.
“Produsen melakukan reformulasi, seperti mengurangi gula. Prosesnya panjang dan membutuhkan biaya besar,” katanya.
Selain itu, produsen mulai menerapkan pengendalian porsi dan memperbanyak edukasi komposisi produk kepada konsumen. Produk dengan kandungan gula rendah hingga tanpa gula juga mulai diperluas.
Baca Juga: Mobile Gaming Kian Populer, Higgs Games Island Bidik Pengguna Harian
“Produksi minuman zero sugar sudah mencapai sekitar 10 sampai 20 persen dari total produksi,” ujar Dhedy.
Meski begitu, selera masyarakat masih menjadi tantangan. Rasa manis dan gurih tetap mendominasi preferensi konsumsi.
Di tengah perdebatan soal makanan kemasan, data menunjukkan sumber gula terbesar justru berasal dari gula rumah tangga dan sirup. Minuman kemasan berada di posisi lebih rendah karena komposisinya terukur dan tercantum jelas pada label.
Andriyanto mengingatkan, solusi tidak cukup berhenti pada regulasi atau industri. Perubahan harus dimulai dari ruang makan keluarga.
“Komunikasi tentang makanan sehat harus dibangun di rumah. Pendekatan berbasis kebiasaan dan budaya akan lebih mudah diterima,” ujarnya.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-83336-pola-makan-instan-ancam-kesehatan-keluarga