Senin, 08 Jun 2026 00:25 WIB

Berani Malu yang Penting Laku

Yuli Zulaikha, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Yuli Zulaikha, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Ini bukan pertamakalinya Aldi Taher bikin ulah nyeleneh. Dulu, Aldi pernah memasang komen berbau agama di semua postingan teman artisnya, dan selalu mengirimkan hastag juga ke teman-teman artis.

Nyebelin banget, memang. Teman-teman artisnya pada nggak suka, tapi dia tetap saja melakukannya. Hasilnya, nama Aldi Taher yang kala itu mulai dilupakan orang, mendadak jadi populer lagi, meskipun dengan jalan yang ‘nyebelin’.

Baca Juga: Ada Apa dengan Film Pesta Babi?

Kali ini, strategi yang sama diulanginya lagi ketika dia berusaha mempromosikan dagangannya, Aldis Burger. “Aldis Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya juicy lucy mahalini rizky febian bisa pesan online”.

Setidaknya ada 3 artis yang disenggol, dan semuanya punya penggemar masing masing : grup band Juicy Luicy, Mahalini dan Rizky Febian.

Kalimatnya juga bertebaran di X dan thread, nongol tiba-tiba sebagai komen di postingan orang. Nyebelin? Iya. Tapi berhasil mencuri perhatian.

Di era media sosial, kadang yang paling diingat publik bukan produk terbaik, melainkan produk yang paling berhasil merebut perhatian.

Di titik inilah strategi marketing ala Aldi Taher menarik untuk dibahas. Bagi sebagian orang, gayanya terasa nyeleneh, bahkan cenderung memalukan.

Mungkin Aldy sempat merasa malu juga, siapa tahu? Tetapi dari sudut pandang branding digital, justru di situlah letak kekuatannya, Aldi Taher paham bahwa di ekonomi atensi, perhatian adalah pintu pertama menuju penjualan.

Aldi Taher tidak menjual burger semata. Ia menjual persona. Nama, gaya bicara, tingkah laku, hingga aura tidak jaim. menjadi bagian dari paket branding. Dalam logika digital, ini sangat efektif. Audiens media sosial tidak selalu mencari komunikasi yang rapi dan elegan.

Mereka justru tertarik pada sesuatu yang terasa absurd, spontan, lucu, dan mudah dibagikan ulang. Konten yang membuat orang berkata, “Ini apaan sih?” sering kali punya peluang lebih besar untuk viral dibanding promosi yang terlalu formal.

Dari perspektif pemasaran digital, setidaknya ada tiga kekuatan dalam gaya marketing Aldi Taher.


Foto: froyonion.com

Pertama, ia memiliki personal branding yang sangat kuat. Banyak brand kecil gagal dikenal karena tidak punya wajah yang menonjol. Aldi sebaliknya.

Baca Juga: Viral Wisatawan Asal China Diintimidasi Oknum Ojek Pangkalan di Probolinggo

Ia memanfaatkan betul namanya yang sudah dikenal publik menjadi mesin promosi utama. Ia tidak membangun jarak antara pemilik usaha dan konsumen.

Ia hadir langsung sebagai konten, sebagai narasi, dan sebagai hiburan. Ini membuat brand terasa hidup, bukan sekadar logo atau nama toko.

Kedua, ia paham logika viralitas. Di media sosial, konten yang mudah diingat biasanya punya elemen kejutan, repetisi, dan emosi. Gaya promosi Aldi memadukan ketiganya. Ia membuat orang tertawa, heran, geleng-geleng kepala, sebel, tetapi tetap menikmatinya.

Dalam bahasa branding, ini penting karena awareness lahir lebih dulu sebelum consideration dan conversion. Orang mungkin awalnya datang karena penasaran, tetapi rasa penasaran itulah yang membuka peluang transaksi.

Ketiga, ia berhasil mengubah rasa malu menjadi diferensiasi. Banyak brand takut dianggap norak, takut terlihat terlalu jualan, takut dikomentari negatif. Aldi Taher justru masuk ke ruang itu tanpa banyak beban.

Hasilnya, ia memiliki posisi yang unik. Di tengah lautan promosi kuliner yang seragam, gaya nyeleneh justru membuat brand lebih mudah dikenali. Dalam pasar digital yang padat, berbeda sering kali lebih berharga daripada sempurna.

Meski demikian, strategi seperti ini tetap punya risiko. Viral tidak selalu sama dengan reputasi jangka panjang. Brand yang terlalu bertumpu pada sensasi bisa cepat naik, tetapi juga cepat lelah jika tidak dibarengi kualitas produk dan pengalaman pelanggan yang baik.

Baca Juga: Wakil Ketua Ansor Jatim Respons Perseteruan Rizieq Shihab dan Dudung

Karena itu, pelajaran utama dari Aldi Taher bukan sekadar membikin heboh supaya laku, tetapi bahwa branding digital hari ini menuntut keberanian membaca budaya internet.

Netizen menyukai keaslian, hiburan, keanehan, dan karakter yang kuat. Aldi Taher memanfaatkan itu dengan sangat sadar.

Ia tahu bahwa dalam lanskap digital, yang terlalu rapi kadang justru tenggelam, sedangkan yang cukup berani tampil apa adanya bisa mencuri panggung.

Pada akhirnya, gaya berani malu yang penting laku ala Aldi Taher semakin memperkuat pendapat bahwa konsumen modern tidak hanya membeli barang, tetapi juga cerita, karakter, dan pengalaman sosial yang bisa mereka bicarakan. Aldi Taher menunjukkan bahwa ia sedang memainkan gaya marketingnya dengan caranya sendiri.

Dalam dunia branding digital, yang paling diingat memang bukan yang paling sopan, melainkan yang paling sulit diabaikan.

Penulis: Yuli Zulaikha
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Dr. Soetomo

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Melihat Jejak Soekarno di Surabaya Melalui Pameran "Aku Arek Suroboyo"

Tema "Aku Arek Suroboyo" dipilih untuk menegaskan identitas Bung Karno sebagai putra daerah yang tumbuh dan ditempa di Surabaya sebelum menjadi tokoh besar Indonesia.

1.232 Atlet Taekwondo Bertarung di Ksatria Nusantara PBTI Series Kediri

Para atlet diharapkan dapat menjadi bibit-bibit terbaik Indonesia yang akan mewakili bangsa pada berbagai ajang internasional.

Menkop Bantah Isu Jual Beli Titik Koperasi Merah Putih, Sempat Viral di Kediri

Menkop Ferry menargetkan seluruh bangunan Koperasi Merah Putih, gerai usaha, serta fasilitas pendukung koperasi desa dapat selesai pada Agustus mendatang.

Turnamen Gerindra Cup U17 di Kediri Dimulai, Wadah Pembinaan Pesepakbola Muda

“Saya berharap dari stadion (Brawijaya) ini akan lahir pemain-pemain handal yang nantinya bisa memperkuat Indonesia," kata Anwar Sadad.

Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi nyata antara koperasi, petani, dan pelaku industri.

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.