Rabu, 22 Jul 2026 06:39 WIB

Hisab atau Rukyat? Menanti 1 Syawal Tak Harus Berujung Konflik

Ketua ICMI Jatim Ulul Albab mengajak umat Islam sikapi potensi perbedaan 1 Syawal dengan dewasa. (Foto/Dok Pribadi)
Ketua ICMI Jatim Ulul Albab mengajak umat Islam sikapi potensi perbedaan 1 Syawal dengan dewasa. (Foto/Dok Pribadi)

jatimnow.com - Kepastian jatuhnya 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri di Indonesia kerap memicu diskusi hangat di tengah masyarakat.

Perbedaan metode antara hisab yang berbasis perhitungan astronomi presisi dengan rukyatul hilal yang mengandalkan verifikasi empirik melalui pengamatan hilal, seringkali dipandang sebagai sebuah keretakan.

Baca Juga: Ustazah AI TikTok Viral, ICMI Jatim Buka Suara

Namun, Ketua ICMI Jawa Timur, Ulul Albab, melihat fenomena ini dari sudut pandang yang lebih jernih.

Menurutnya, potensi perbedaan tanggal Lebaran tahun ini seharusnya menjadi cermin kematangan spiritual umat, bukan justru menjadi pemicu friksi sosial.

"Perbedaan penetapan 1 Syawal itu akar sejarahnya sangat kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Ini adalah bentuk ijtihad yang sah. Hisab menawarkan prediksi jauh hari, sementara rukyat mengedepankan kehati-hatian lewat verifikasi langsung," ujar Ulul Albab dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/3/2026).

Ia menyayangkan jika selama ini publik terjebak dalam cara pandang yang dangkal. Seringkali, perbedaan tanggal hari raya langsung dicap sebagai tanda perpecahan.

Padahal, dinamika ini merupakan dialektika antara perkembangan sains modern dengan otoritas keagamaan yang masih terjaga.

Bagi Ulul, momen menanti hilal adalah waktu yang tepat untuk menguji toleransi intra-umat. Keseragaman tidak bisa menjadi satu-satunya indikator persatuan.

Baca Juga: Jangan Biarkan Kasus MBG Tenggelam

Kebenaran dalam ranah ijtihad memiliki banyak perspektif yang semuanya memiliki landasan teologis serta ilmiah yang kuat.

"Idul Fitri itu bukan cuma soal menyamakan kalender. Ini soal bagaimana kita tetap satu barisan meski berbeda jalan menuju hari kemenangan. Tidak ada tempat untuk saling menyalahkan dalam wilayah ijtihad," tegasnya.

Negara dan organisasi masyarakat (ormas) Islam memegang tanggung jawab besar untuk memberikan literasi keagamaan yang mencerahkan.

Tujuannya agar masyarakat tidak bingung saat pemerintah menggelar sidang isbat sementara kelompok lain sudah menetapkan hari raya lebih awal.

Baca Juga: MBG, Korupsi dan Kegagalan Tata Kelola Kebijakan

Transformasi diri setelah sebulan penuh berpuasa dianggap jauh lebih krusial dibandingkan meributkan selisih hari.

Ulul mengingatkan bahwa esensi Ramadhan adalah membentuk pribadi yang bertakwa.

"Apa maknanya Idul Fitri datang lebih cepat atau lambat kalau hati kita belum kembali bersih? Mau beda hari pun, kita tetap menghadap kiblat yang sama dan mengucap takbir yang sama," pungkasnya.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.