Hisab atau Rukyat? Menanti 1 Syawal Tak Harus Berujung Konflik
- Penulis : Ali Masduki
- | Kamis, 19 Mar 2026 17:10 WIB
jatimnow.com - Kepastian jatuhnya 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri di Indonesia kerap memicu diskusi hangat di tengah masyarakat.
Perbedaan metode antara hisab yang berbasis perhitungan astronomi presisi dengan rukyatul hilal yang mengandalkan verifikasi empirik melalui pengamatan hilal, seringkali dipandang sebagai sebuah keretakan.
Baca Juga: Jangan Biarkan Kasus MBG Tenggelam
Namun, Ketua ICMI Jawa Timur, Ulul Albab, melihat fenomena ini dari sudut pandang yang lebih jernih.
Menurutnya, potensi perbedaan tanggal Lebaran tahun ini seharusnya menjadi cermin kematangan spiritual umat, bukan justru menjadi pemicu friksi sosial.
"Perbedaan penetapan 1 Syawal itu akar sejarahnya sangat kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Ini adalah bentuk ijtihad yang sah. Hisab menawarkan prediksi jauh hari, sementara rukyat mengedepankan kehati-hatian lewat verifikasi langsung," ujar Ulul Albab dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/3/2026).
Ia menyayangkan jika selama ini publik terjebak dalam cara pandang yang dangkal. Seringkali, perbedaan tanggal hari raya langsung dicap sebagai tanda perpecahan.
Padahal, dinamika ini merupakan dialektika antara perkembangan sains modern dengan otoritas keagamaan yang masih terjaga.
Bagi Ulul, momen menanti hilal adalah waktu yang tepat untuk menguji toleransi intra-umat. Keseragaman tidak bisa menjadi satu-satunya indikator persatuan.
Baca Juga: MBG, Korupsi dan Kegagalan Tata Kelola Kebijakan
Kebenaran dalam ranah ijtihad memiliki banyak perspektif yang semuanya memiliki landasan teologis serta ilmiah yang kuat.
"Idul Fitri itu bukan cuma soal menyamakan kalender. Ini soal bagaimana kita tetap satu barisan meski berbeda jalan menuju hari kemenangan. Tidak ada tempat untuk saling menyalahkan dalam wilayah ijtihad," tegasnya.
Negara dan organisasi masyarakat (ormas) Islam memegang tanggung jawab besar untuk memberikan literasi keagamaan yang mencerahkan.
Tujuannya agar masyarakat tidak bingung saat pemerintah menggelar sidang isbat sementara kelompok lain sudah menetapkan hari raya lebih awal.
Baca Juga: Dimanakah Ibukota Indonesia yang Sebenarnya?
Transformasi diri setelah sebulan penuh berpuasa dianggap jauh lebih krusial dibandingkan meributkan selisih hari.
Ulul mengingatkan bahwa esensi Ramadhan adalah membentuk pribadi yang bertakwa.
"Apa maknanya Idul Fitri datang lebih cepat atau lambat kalau hati kita belum kembali bersih? Mau beda hari pun, kita tetap menghadap kiblat yang sama dan mengucap takbir yang sama," pungkasnya.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-83190-hisab-atau-rukyat-menanti-1-syawal-tak-harus-berujung-konflik