Pakar Ungkap Efek Domino Konflik AS vs Iran, Sinyal Bahaya bagi Ketahanan Energi Indonesia
- Penulis : Dadang Kurnia
- | Kamis, 12 Mar 2026 13:33 WIB
jatimnow.com - Eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran tidak bisa dipandang sebelah mata sebagai benturan militer semata. Lebih dari itu, ketegangan ini memicu ancaman serius bagi urat nadi ekonomi global, termasuk stabilitas harga energi dan rantai pasok di Indonesia.
Pakar hubungan internasional Universitas Airlangga (Unair) Probo Darono Yakti menyebut, posisi geografis Iran yang terletak di kawasan Teluk menjadikannya pemegang kunci dalam sistem distribusi logistik dunia.
Baca Juga: Waspadai Jebakan Geopolitik, Bamsoet Minta Pemerintah Jaga Rupiah
"Setiap eskalasi konflik di Iran hampir selalu berimplikasi pada ekonomi politik global. Negara yang mampu mengamankan pasokan energi dan mengendalikan rute logistik akan memiliki leverage (daya ungkit) ekonomi yang lebih besar," kata Probo, Kamis (12/3/2026).
Menurut Probo, bukan tanpa alasan konflik Iran disebut memiliki bobot sistemik, bukan sekadar konflik regional. Titik paling krusial dalam krisis ini adalah Selat Hormuz.
Jalur sempit ini merupakan rute super-vital bagi lalu lintas perdagangan energi dunia. Setidaknya 20 juta barel minyak per hari (setara 20 persen dari total konsumsi minyak global) melewati selat ini. Tak hanya itu, hampir seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga bergantung pada jalur yang sama.
Probo mengingatkan, pasar energi sangat sensitif. Harga minyak dunia tidak hanya digerakkan oleh ketersediaan pasokan riil, tetapi juga oleh persepsi risiko. Kekhawatiran akan penutupan atau pembatasan akses Selat Hormuz, gangguan pada kapal tanker, hingga perlambatan produksi telah memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan.
Lonjakan harga energi ini menciptakan efek domino yang menjalar cepat ke berbagai sektor krusial. Naiknya harga bahan bakar otomatis mendongkrak biaya industri pelayaran dan logistik, yang pada akhirnya memicu kenaikan tarif listrik hingga melambungkan harga pangan global.
Kondisi ini juga memukul aktivitas industri manufaktur di kawasan Asia yang sangat bergantung pada kelancaran pasokan energi dan bahan baku petrokimia.
Baca Juga: Geopolitik Global Memanas, Pertamina Siagakan 345 Kapal Distribusi
"Ketika jalur energi terganggu, dampaknya tidak hanya pada minyak mentah, tetapi juga LPG, fuel oil, hingga bahan baku industri lainnya," tegas Probo.
Selain sektor riil, pasar keuangan global turut terguncang. Ketidakpastian geopolitik membuat investor memindahkan modalnya (capital flight) ke aset-aset safe haven (minim risiko). Di sisi lain, lonjakan harga energi memicu ancaman inflasi impor yang membebani negara berkembang.
Bagi Indonesia, ketegangan di Timur Tengah ini merupakan lampu merah. Sebagai negara yang masih berstatus net-importir energi (pengimpor minyak), Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan ekonomi domestik Indonesia sangat rentan terhadap guncangan harga minyak global.
"Ketika jalur energi terganggu, dampaknya tidak hanya pada minyak mentah, tetapi juga LPG, fuel oil, hingga bahan baku industri lainnya," ucapnya.
Baca Juga: Duka Prajurit Perdamaian, Dua Anggota TNI Gugur dalam Tugas di Lebanon
Negara berkembang seperti Indonesia menghadapi risiko ganda, ketergantungan energi yang tinggi di tengah ruang fiskal yang terbatas. Oleh karena itu, langkah mitigasi harus segera diambil.
Probo pun menyarankan agar Pemerintah Indonesia tidak hanya melihat konflik ini dari kacamata diplomasi politik, tetapi juga dari perspektif geoekonomi.
"Keamanan energi, keamanan maritim, dan stabilitas ekonomi global kini saling terhubung. Strategi diversifikasi sumber energi, menjaga stabilitas ekonomi domestik, serta mempercepat transisi energi mutlak diperlukan oleh Indonesia untuk meredam guncangan ini," tutupnya.
Editor : Ni'am Kurniawan