Minggu, 14 Jun 2026 07:13 WIB

Satu Juta Nyawa PMI Terancam, SP IMPPI: Negara Jangan Lambat Evakuasi!

Ketua Umum SP IMPPI, William Yani Wea. (Foto: Dok SP IMPPI/jatimnow.com)
Ketua Umum SP IMPPI, William Yani Wea. (Foto: Dok SP IMPPI/jatimnow.com)

jatimnow.com - Eskalasi konflik bersenjata antara Iran vs Israel yang melibatkan Amerika Serikat memicu alarm bahaya bagi satu juta Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Timur Tengah.

Serikat Pekerja Informal, Migran dan Pekerja Profesional Indonesia (SP IMPPI) melayangkan peringatan keras agar Pemerintah RI segera mengaktifkan status darurat demi menghindari jatuhnya korban jiwa.

Baca Juga: Pulang dari Malaysia, Fauzi Bangun Layanan Keuangan Warga Kangean

Ketua Umum SP IMPPI, William Yani Wea, mengatakan bahwa situasi di kawasan tersebut sudah sangat mencekam akibat aksi saling serang udara.

Ia menegaskan, pemerintah tidak punya kemewahan waktu untuk sekadar memantau perkembangan tanpa aksi nyata di lapangan.

"PMI bukan sekadar mesin penyumbang devisa. Mereka adalah warga negara yang keselamatannya dijamin konstitusi. Negara dilarang menunggu jatuh korban baru mulai bergerak," tegas sosok yang akrab disapa Willy ini, Senin (2/3/2026).

Kandidat Doktor di IPDN itu juga menyoroti kerentanan posisi pekerja migran di tengah kecamuk perang.

 

"Dalam situasi perang, pekerja migran menempati posisi paling rawan. Sedikit saja negara terlambat bertindak, konsekuensinya bisa fatal," lanjut pemerhati kebijakan publik tersebut.

Data menunjukkan populasi PMI di Timur Tengah mencapai satu juta orang yang tersebar di titik panas seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, Yordania, hingga Mesir.

Baca Juga: Delegasi Pekerja Indonesia di Jenewa Soroti Nasib Rohingya

Bagi Serikat Pekerja IMPPI, lambatnya respons pemerintah saat ini merupakan bentuk pengabaian terhadap kedaulatan nyawa warga negara.

Putra tokoh buruh internasional Jacob Nuwa Wea ini memperingatkan bahwa evakuasi yang dilakukan setelah tragedi pecah adalah sebuah kegagalan fatal.

"Keselamatan mereka adalah ujian keberanian negara. Kami akan terus mengawal agar pemerintah hadir di sana sekarang juga, bukan saat semuanya sudah terlambat," pungkas Willy.

Kementerian Luar Negeri dan seluruh perwakilan RI di Timur Tengah diminta segera mengeksekusi empat langkah taktis:

Baca Juga: William Yani Wea dan Tonny Pangaribuan Wakili Indonesia di ILC 114

1. Aktivasi Protokol Evakuasi: Segera petakan jalur aman keluar dari zona terdampak.

2. Pendataan Real-Time: Memberikan informasi transparan dan berkala kepada keluarga di tanah air untuk meredam kepanikan.

3. Proteksi Hak Ekonomi: Memastikan upah tetap dibayarkan dan mencegah penelantaran oleh majikan di tengah kekacauan.

4. Skenario Reintegrasi: Koordinasi cepat dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia untuk proses pemulangan massal.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Mandi Bareng Teman, Pelajar Sragen Tewas Tenggelam di Bengawan Solo Ngawi

Jasad korban berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan pada radius sekitar 50 meter dari titik awal ia dilaporkan tenggelam di kawasan Desa Mantingan, Kecamatan Mantingan.

Penyegaran Organisasi, Kasat dan Kapolsek Probolinggo Dimutasi

Kapolres mengajak seluruh jajaran Polres Probolinggo untuk terus menjaga profesionalisme dan menjunjung tinggi nilai-nilai Presisi.

Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

Pelaku diketahui merupakan komplotan pembobolan toko lintas kota dan provinsi.

Cuaca Akhir Pekan Jatim: 4 Daerah Diminta Waspada Hujan Lebat

Peta peringatan dini ini merepresentasikan nilai akumulasi curah hujan harian paling tinggi dalam skala satu kabupaten atau kota.

Gol Larin Selamatkan Kanada dari Kekalahan Saat Melawan Bosnia-Herzegovina

Tuan rumah Kanada harus puas bermain imbang 1-1 di laga pembukan grup B Piala Dunia 2026.

Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Waspadai potensi turunnya hujan dengan intensitas ringan di beberapa wilayah.