Kamis, 23 Jul 2026 03:06 WIB

Beban Utang dan Gurita Korupsi, Akar Masalah Kemiskinan Dua Dekade

Mahardika Harilinawan memaparkan hasil penelitiannya di Untag Surabaya, Senin (09/2/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Mahardika Harilinawan memaparkan hasil penelitiannya di Untag Surabaya, Senin (09/2/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com – Angka kemiskinan di Indonesia dalam dua dekade terakhir ternyata tidak hanya soal angka pertumbuhan ekonomi semata.

Riset terbaru dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya membongkar, bahwa korupsi dan pengelolaan utang luar negeri memegang kendali utama dalam menentukan seberapa banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Baca Juga: Karier Febrie Andriansyah Tamat, Kejaksaan dan Kepolisian Kian Erat

Melalui Tugas Akhirnya yang berjudul "Pengaruh Korupsi dan Utang Luar Negeri Terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 2003-2022", Mahardika Harilinawan, peneliti dari Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB Untag Surabaya, mengungkap hasil yang mengejutkan. Yakni kebocoran anggaran akibat praktik lancung para pejabat secara langsung mencekik akses rakyat terhadap kesejahteraan.

"Pengendalian korupsi bukan sekadar urusan etika atau moral di pemerintahan. Ini adalah faktor kunci untuk memastikan bantuan sosial benar-benar sampai ke tangan orang yang membutuhkan dan pembangunan tidak hanya menumpuk di segelintir kelompok," ujar Mahardhika di Untag Surabaya, Senin (09/2/2026).

Analisis data yang dihimpun dari Bank Dunia dan Transparency International menunjukkan bahwa variabel korupsi dan utang luar negeri memiliki pengaruh hingga 93,6 persen terhadap fluktuasi angka kemiskinan.

Secara khusus, penurunan tingkat korupsi terbukti secara signifikan mampu menekan jumlah penduduk miskin di tanah air.

Selain korupsi, perhatian tertuju pada tumpukan utang luar negeri. Selama periode 2003 hingga 2022, utang luar negeri menjadi instrumen yang "bermuka dua".

Di satu sisi, ia menjadi suntikan modal pembangunan, namun di sisi lain, pengelolaannya yang buruk justru bisa menjadi beban yang memperpanjang rantai kemiskinan.

Baca Juga: Inspiratif! Santri Jalanan Ini Raih Gelar Doktor dari Untag Surabaya

Riset ini menemukan bahwa utang luar negeri baru bisa berdampak positif menurunkan angka kemiskinan jika dialokasikan untuk sektor produktif.

Mahardhika menjelaskan bahwa dana pinjaman tersebut wajib masuk ke sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang menciptakan lapangan kerja.

Tanpa itu, utang hanya akan menjadi angka yang harus dibayar oleh generasi mendatang tanpa memberi perbaikan taraf hidup.

Berdasarkan temuan tersebut, pemerintah didorong untuk segera melakukan langkah ekstrem dalam memutus mata rantai korupsi.

Baca Juga: Kejari Kota Probolinggo Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi Lampu Hias RTH

Salah satu usulan yang mencuat adalah digitalisasi total pada seluruh layanan publik. Langkah ini dianggap mampu meminimalisir interaksi manusia yang seringkali menjadi celah terjadinya pungutan liar dan suap.

"Pemerintah perlu memperkuat transparansi melalui sistem digital. Selain itu, keteladanan pemimpin dalam penegakan hukum yang konsisten menjadi harga mati jika kita benar-benar ingin menghapus kemiskinan," tambahnya.

Penelitian ini menjadi alarm bagi pembuat kebijakan. Tanpa adanya pembersihan sistem birokrasi dari praktik korupsi dan kebijakan utang yang lebih strategis, target pengentasan kemiskinan ekstrem di Indonesia bakal sulit tercapai dalam waktu dekat.

Editor : Tim Jatimnow
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.