Sabtu, 06 Jun 2026 16:08 WIB

Anak SD di NTT Nekat Akhiri Hidup, Pakar UNAIR Desak Evaluasi Sosial

Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Bagong Suyanto. (Foto: Humas Unair/jatimnow.com)
Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Bagong Suyanto. (Foto: Humas Unair/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kematian tragis YBR, bocah berusia 10 tahun asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu keprihatinan mendalam dari kalangan akademisi.

Siswa kelas IV SD tersebut ditemukan tak bernyawa di sebuah pohon cengkeh pada akhir Januari lalu, sebuah peristiwa yang dianggap sebagai sinyal darurat bagi kesehatan mental anak di daerah pelosok.

Baca Juga: Stikes Maharani Malang Edukasi Pelajar Lawan Cyberbullying

Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Bagong Suyanto, menilai tragedi ini merupakan akumulasi dari tekanan ekonomi dan minimnya sistem pendukung (support system) di lingkungan pedesaan.

YBR yang dikenal pendiam, tinggal di pondok bambu sempit bersama neneknya sejak balita, sementara ayahnya merantau ke Kalimantan tanpa kabar selama satu dekade.

"Kondisi ekonomi yang sulit adalah faktor nyata yang menggerus kesejahteraan mental anak. Saat kebutuhan dasar sulit terpenuhi, anak-anak sering kali menyerap stres dan kecemasan orang dewasa di sekitarnya," ujar Prof Bagong.

Menurutnya, anak-anak di wilayah terpencil kerap kali luput dari pantauan psikologis karena akses layanan yang terbatas. Isolasi geografis dan sosial membuat mereka tidak memiliki ruang untuk mengadukan beban emosional yang mereka pikul.

Baca Juga: Cegah Depresi Pelajar, Psikolog Desak Sekolah Rombak Total Sistem Well-being

Prof Bagong menyebut peran keluarga dan warga sekitar sangat krusial dalam mendeteksi perubahan perilaku anak.

Ia melihat ada celah besar dalam penanganan kesehatan mental di tingkat akar rumput, terutama bagi anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua lengkap.

"Anak yang tinggal di daerah pelosok sering dianggap tangguh secara alami, padahal mereka mungkin merasa terisolasi tanpa dukungan memadai. Kesehatan mental mereka harus mulai dijadikan prioritas, bukan lagi isu sampingan," tegasnya.

Baca Juga: Kekerasan di Daycare, Psikolog Ingatkan Bahaya Trauma Anak dan Mom-Shaming

Sebagai solusi jangka panjang, Prof Bagong mendorong pemerintah untuk membangun community support system melalui lembaga sosial lokal.

Jaringan ini diharapkan mampu menjangkau tiap keluarga di wilayah terpencil guna memberikan intervensi emosional sebelum terlambat.

Tragedi anak di NTT ini menjadi pengingat pahit bahwa kemiskinan bukan hanya soal urusan perut, melainkan juga ancaman serius bagi ketahanan jiwa generasi muda Indonesia.

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.