Senin, 08 Jun 2026 09:07 WIB

Kurikulum Bisa Berubah, Tapi Guru yang Menentukan Arah

  • Penulis :
  • | Selasa, 11 Nov 2025 19:55 WIB
Mochammad Fuad Nadjib. (Foto/Dokumentasi Pribadi)
Mochammad Fuad Nadjib. (Foto/Dokumentasi Pribadi)

jatimnow.com - Sejak Indonesia merdeka, kurikulum pendidikan telah mengalami tak kurang dari dua belas kali perubahan. Mulai dari Rentjana Pelajaran 1947, Rentjana Terurai 1952, Rentjana Pendidikan 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994 dan Suplemen 1999, Kurikulum 2004 (KBK), KTSP 2006, Kurikulum 2013, hingga yang terbaru Kurikulum Merdeka.

Setiap perubahan tentu memiliki tujuan baik: menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan zaman, teknologi, serta kebutuhan sosial masyarakat.

Baca Juga: Inspirasi Schools Bangun Pembelajaran Global Berbasis Karakter

Namun, seringnya pergantian kurikulum juga memunculkan persoalan baru, ketidaksiapan guru dan sekolah dalam beradaptasi, ketimpangan sumber daya, dan kurangnya kesinambungan implementasi.

Kurikulum Merdeka, misalnya, yang dirancang untuk memberikan fleksibilitas dalam pembelajaran dan menumbuhkan kreativitas murid, hingga kini masih menghadapi banyak tantangan.

Sebagian guru belum memahami sepenuhnya filosofi dan pendekatan kurikulum ini, sehingga pelaksanaannya belum seragam di berbagai daerah.

Akibatnya, semangat “merdeka belajar” terkadang hanya berhenti pada tataran slogan, belum menjadi budaya belajar yang hidup di ruang kelas.

Kini, pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto (2024–2029), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memperkenalkan konsep “Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)”. Model ini merupakan hasil riset akademisnya dan menekankan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada pemahaman mendalam, bukan sekadar hafalan.

Meskipun bukan kurikulum baru secara formal, pendekatan ini mulai diimplementasikan di berbagai lembaga pendidikan dan menjadi arah baru dalam pengembangan profesional guru.

Namun, di tengah semangat perubahan sistem, muncul pertanyaan mendasar, “yang perlu dibenahi itu kurikulumnya atau gurunya?” Sebab, sebaik apa pun kurikulum dirancang, tanpa guru yang kompeten dan berjiwa pendidik, semuanya akan berakhir di atas kertas.

Al-Qur’an telah memberi pelajaran penting tentang hal ini. Dalam Surah Ar-Rahman, Allah berfirman:

اَلرَّحْمٰنُۙ ۝١ عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ ۝٢

Artinya: Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih), Telah mengajarkan Al-Qur’an. (Q.S. Arrahman Ayat 1-2)

Baca Juga: Calon Guru Berprestasi, Mahasiswi Unusa Juara Jujitsu Nasional

Perhatikan urutannya: pertama disebut “Ar-Rahman”, sifat kasih sayang, barulah “Allama” (mengajarkan). Artinya, kasih sayang mendahului proses mengajar.

Metode, sistem, atau kurikulum hanyalah alat, ruh dari pendidikan sesungguhnya adalah kasih sayang dan keteladanan guru. Guru yang penuh kasih, sabar, dan tulus akan mampu menghidupkan pelajaran, apa pun kurikulumnya.

Karena itu, esensi pendidikan bukan pada sistemnya, melainkan pada siapa yang mengajarkan. Guru adalah penentu keberhasilan proses belajar. Kurikulum bisa saja berubah mengikuti zaman, tetapi guru yang baik selalu menjadi jantung dari pendidikan.

Maka, pembenahan pendidikan Indonesia seharusnya dimulai dari penguatan kapasitas dan profesionalisme guru, bukan sekadar mengganti kurikulum.

Guru yang tidak mau belajar dan tidak mengembangkan diri sejatinya telah berbuat dzalim, bukan kepada orang lain, tetapi kepada generasi yang ia didik.

Seorang dokter yang tidak memahami ilmu kesehatan tentu membahayakan pasiennya. Begitu pula guru, bagaimana mungkin ia membentuk karakter dan kecerdasan murid jika ia sendiri tidak memahami esensi pembelajaran?

Baca Juga: Lupakan Soft Skills! Prof Yusak Unusa Ungkap Rahasia Softbrain Engineer 2026

Menjadi guru berarti siap untuk terus belajar. Dunia berubah cepat, teknologi berkembang pesat, dan tantangan pendidikan semakin kompleks.

Guru tidak lagi cukup hanya mengajar di kelas, tetapi juga harus menjadi fasilitator, pembimbing, dan inspirator bagi muridnya.

Pendidikan tidak cukup berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus menyentuh ranah nilai, sikap, dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, perubahan kurikulum boleh terus dilakukan untuk menyesuaikan zaman, tetapi jangan lupa: ruh pendidikan tetap ada pada sosok guru. Sehebat apa pun sistem, secanggih apa pun teknologi, tidak akan berarti tanpa guru yang berilmu, berakhlak, dan berhati “Ar-Rahman”.

Penulis: Mochammad Fuad Nadjib
Penghulu Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sidoarjo
Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah al-Maidah Durungbedug

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Melihat Jejak Soekarno di Surabaya Melalui Pameran "Aku Arek Suroboyo"

Tema "Aku Arek Suroboyo" dipilih untuk menegaskan identitas Bung Karno sebagai putra daerah yang tumbuh dan ditempa di Surabaya sebelum menjadi tokoh besar Indonesia.

1.232 Atlet Taekwondo Bertarung di Ksatria Nusantara PBTI Series Kediri

Para atlet diharapkan dapat menjadi bibit-bibit terbaik Indonesia yang akan mewakili bangsa pada berbagai ajang internasional.

Menkop Bantah Isu Jual Beli Titik Koperasi Merah Putih, Sempat Viral di Kediri

Menkop Ferry menargetkan seluruh bangunan Koperasi Merah Putih, gerai usaha, serta fasilitas pendukung koperasi desa dapat selesai pada Agustus mendatang.

Turnamen Gerindra Cup U17 di Kediri Dimulai, Wadah Pembinaan Pesepakbola Muda

“Saya berharap dari stadion (Brawijaya) ini akan lahir pemain-pemain handal yang nantinya bisa memperkuat Indonesia," kata Anwar Sadad.

Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi nyata antara koperasi, petani, dan pelaku industri.

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.