Minggu, 07 Jun 2026 06:27 WIB

Stigma Autisme Sebagai Penyakit Harus Ditinggalkan, Intervensi Dini Lebih Utama

Mohammad Cahyadi dan Chusnur Ismiati Hendro, dengan dipandu moderator Vety Veronica, menjadi pembicara dalam Jagongan Bareng "Autisme Dengan dan Kita" yang digelar di Rumah Literasi Digital (RLD), Senin (29/9/2025). (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)
Mohammad Cahyadi dan Chusnur Ismiati Hendro, dengan dipandu moderator Vety Veronica, menjadi pembicara dalam Jagongan Bareng "Autisme Dengan dan Kita" yang digelar di Rumah Literasi Digital (RLD), Senin (29/9/2025). (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

jatimnow.com - Stigma lama yang melekat pada autisme sebagai sebuah penyakit kini harus segera diganti. Menurut Founder dan CEO Malang Autism Center (MAC), Mohammad Cahyadi, autisme adalah sebuah gangguan tumbuh kembang yang membutuhkan intervensi dini, bukan pengobatan penyakit.

Pernyataan revolusioner ini disampaikan Cahyadi dalam Jagongan Bareng "Autisme Dengan dan Kita" yang digelar di Rumah Literasi Digital (RLD), Jalan Kaca Piring, no 6, Surabaya, Senin (29/9/2025). Acara ini juga menghadirkan Chusnur Ismiati Hendro, SH, MH, M.Ikom, seorang pemerhati autisme, serta dimoderatori oleh Vety Veronica, seorang praktisi humas.

Baca Juga: ORADO Jatim Buka Peluang UMKM Garap Peralatan Domino

Cahyadi, menjelaskan bahwa pandangan umum termasuk di beberapa literatur lama yang menyebut autisme sebagai penyakit sudah ketinggalan. Penyampaian tersebut tidak sejalan dengan temuan para ilmuwan dan hasil riset terbaru di Amerika Serikat.

"Secara literasi dan office mini (pengertian lama), autisme memang dinyatakan gangguan. Namun, para ilmuwan di Amerika, yang sering meneliti dan melakukan riset intensif, telah menghasilkan hipotesis bahwa autisme bukanlah penyakit," papar Cahyadi.

Setelah melakukan riset mendalam, lulusan S2 Universitas Negeri Malang itu mengungkapkan bahwa autisme adalah gangguan pada tumbuh kembang anak yang memengaruhi tiga aspek utama, yakni Bahasa dan Komunikasi, Perilaku, dan Interaksi sosial.

Founder dan CEO Malang Autism Colors (MAC), Mohammad Cahyadi. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Founder dan CEO Malang Autism Colors (MAC), Mohammad Cahyadi. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Pria kelahiran Jakarta 1968 itu juga menyoroti pentingnya deteksi dini, sebuah kemajuan signifikan dalam pemahaman autisme.

"Jika generasi sebelumnya deteksi baru bisa dilakukan pada usia 3 tahun, saat ini perkembangannya sudah berubah drastis. Gangguan tumbuh kembang ini sudah bisa dicek dan dideteksi sejak 6 bulan pertama," tandas Cahyadi.

Ia membeberkan, bahwa deteksi sedini mungkin sangat krusial, sebab begitu anak didiagnosis autisme, langkah selanjutnya bukanlah pengobatan, melainkan intervensi perilaku atau program terapi terstruktur.

"Intervensi itu kita melihatnya dari sisi treatment pada saat anak sudah dideteksi autisme. Deteksi harus dilakukan sedini mungkin," ungkap Cahyadi.

Cahyadi menuturkan, dengan membuat program intervensi perilaku segera, semua permasalahan yang timbul dari dampak autisme ini bisa berkurang banyak, sehingga harapannya anak tersebut nantinya bisa mandiri secara sosial dan juga secara ekonomi.

Pada kesempatan ini, Cahyadi menyampaikan pesan pentingnya kewaspadaan dan literasi kepada tiga kelompok orang tua dengan kebutuhan yang berbeda.

Baca Juga: Workshop Crochet Kirby di Surabaya Dorong UMKM Handmade Lokal

Pertama, bagi orang tua baru yang belum memiliki anak, ia menyarankan agar memperkaya diri dengan literasi mengenai tumbuh kembang anak secara umum. Cahyadi menekankan bahwa problematika kelahiran anak tidak terbatas pada autisme saja, melainkan juga mencakup speech delay, learning disability, dan berbagai kondisi lainnya.

Dengan semakin sadar akan potensi permasalahan yang ada, orang tua baru akan lebih siap dan terampil dalam menghadapi tantangan yang mungkin timbul.

Selanjutnya, bagi orang tua yang memiliki bayi berusia enam bulan pertama, Cahyadi mengingatkan untuk waspada terhadap perilaku-perilaku yang berbeda dan segera mencari tahu lebih lanjut jika ada tanda-tanda yang meragukan.

Ia menyarankan agar orang tua tidak ragu untuk berkonsultasi dengan dokter ahli jika mendapati tanda-tanda yang mengkhawatirkan pada tumbuh kembang anak. Deteksi dini menjadi kunci untuk memulai intervensi yang tepat dan memaksimalkan potensi anak.
Terakhir, bagi orang tua yang memiliki anak usia lanjut yang sudah mendapatkan intervensi, Cahyadi menekankan pentingnya peran aktif dalam memonitor tumbuh kembang anak setelah menjalani terapi.

Orang tua perlu terus mengamati dan mengevaluasi perkembangan anak, serta menjalin komunikasi yang baik dengan tim terapi untuk memastikan intervensi yang diberikan berjalan efektif dan sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan demikian, orang tua dapat menjadi mitra yang aktif dalam proses tumbuh kembang anak dan membantu mereka mencapai potensi terbaiknya.

Oleh karena itu, Cahyadi juga berharap agar masyarakat dapat menanggalkan stigma negatif dan beralih pada dukungan serta upaya deteksi yang lebih proaktif.

Baca Juga: Tutorial Bikin Karakter Film Konsisten Pakai AI, Hasilnya Super Nyata!

Pemerhati autisme, Chusnur Ismiati Hendro. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Pemerhati autisme, Chusnur Ismiati Hendro. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Sementara itu, Chusnur Ismiati Hendro menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat mengenai autisme.

"Kesadaran mengenai autisme dan keinginan untuk mencari solusi penanganan sangat penting agar anak-anak ini dapat mencapai potensi maksimal mereka di masa depan," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa di era digital ini, gadget dapat dimanfaatkan sebagai media deteksi dini.

"Kita bisa membuat aplikasi untuk mengidentifikasi potensi autisme pada anak sebelum mereka berkonsultasi dengan psikolog atau dokter. Dengan persiapan yang matang dan pemahaman yang baik tentang kondisi anak, kita dapat menghindari penolakan atau penyangkalan, dan segera melakukan intervensi yang diperlukan," jelasnya.

Mohammad Cahyadi, Chusnur Ismiati Hendro, dan Vety Veronica, foto bersama usai Jagongan Bareng Mohammad Cahyadi, Chusnur Ismiati Hendro, dan Vety Veronica, foto bersama usai Jagongan Bareng

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.