Senin, 08 Jun 2026 19:00 WIB

UIN KHAS Jember Luncurkan Program Griya Moderasi Beragama

  • Penulis : Sugianto
  • | Kamis, 07 Agu 2025 09:23 WIB
Foto : Peluncuran Griya Moderasi Beragama UIN KHAS Jember di Masjid Cheng Hoo (Syakur/jatimnow.com)
Foto : Peluncuran Griya Moderasi Beragama UIN KHAS Jember di Masjid Cheng Hoo (Syakur/jatimnow.com)

jatimnow.com,- Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember meluncurkan program Griya Moderasi Beragama. Bertempat di Masjid Muhammad Cheng Hoo Kaliwates Jember, peluncuran Program Griya Moderasi Beragama ditandai dengan aksi nyata penanaman sejumlah bibit pohon.

Rektor UIN KHAS Jember, Prof Hepni Zein mengatakan, program ini bukan sekadar wacana, namun aksi nyata dalam memupuk nilai-nilai toleransi dan kerja sama lintas iman.

Baca Juga: Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

“Saya kira ini program strategis sebagai embrio moderasi beragama yang implementatif. Tidak hanya teori, tapi betul-betul dijalankan secara nyata,” ujarnya, Rabu (6/8/2025).

Penanaman pohon menjadi simbol pengingat bahwa setiap orang, apapun agamanya, memiliki tanggung jawab terhadap kelestarian semesta.

“Maknanya itu, penanaman pohon adalah simbol kontribusi lintas agama bagi bumi dan kemanusiaan,” terangnya.

Hepni menekankan pentingnya keberlanjutan kerja sama, bukan hanya aksi sesaat. Kolaborasi harus terus dijaga dan dikembangkan secara strategis.

“Ini pintu masuk. Model kolaborasinya harus awet, tidak hanya sekali action lalu bubar,” ungkapnya.

Baca Juga: Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Program ini digagas oleh LP2M UIN KHAS Jember dan KUA Kaliwates serta melibatkan Griya, unsur lintas agama seperti Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.

Shoni Rahmatullah Amrozi, Kepala Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN KHAS Jember, menyebut peluncuran ini sebagai pembuka dari rangkaian program jangka panjang.

“Launching ini adalah awal Griya Moderasi Beragama di Kaliwates. Roadmap dan buku panduan sudah kami siapkan,” jelas Shoni.

Buku tersebut akan dirilis dan dibedah publik pada 26 Agustus 2025 sebagai bagian dari penguatan edukasi toleransi di masyarakat.

Baca Juga: Kerja Sama Sister City Jember-Jinhua Tuai Pujian Akademisi UB

“Nilai toleransi yang kami tekankan adalah cinta kasih, keadilan, kedamaian dan kebersamaan,” tuturnya.

Penyuluh Agama Kristen dari Kemenag Jember, Yoseph Deswanto mengapresiasi keterlibatan aktif lintas iman, khususnya dalam gerakan eko-teologi yang menyentuh aspek spiritual dan lingkungan. Pihaknya berencana mengajak pimpinan gereja dan sekolah teologi untuk mendukung gerakan eko-teologi sebagai bagian dari moderasi beragama yang menyentuh akar rumput. Menurutnya, selain diskursus akademik, aksi nyata juga penting. Termasuk melibatkan aktivis lingkungan dari berbagai agama di Jember.

“Targetnya adalah menyebarkan pemahaman kesatuan dalam eko-teologi secara luas,” pungkasnya.

Editor : Bramanta
Berita Terbaru

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.

Umat Buddha di Tulungagung Ikuti Ritual Atthami Puja di Candi Sanggrahan

Ritual tersebut merupakan perayaan penting dalam agama Buddha yang menghormati kelahiran, pencerahan, dan parinirvana Sang Buddha Gautama.