Jumat, 12 Jun 2026 05:48 WIB

Full Senyum Perajin Petulo Banyuwangi saat Ramadan

Proses pembuatan petulo di dapur milik Nur Hayati (Foto: Agus Winardi for jatimnow.com)
Proses pembuatan petulo di dapur milik Nur Hayati (Foto: Agus Winardi for jatimnow.com)

jatimnow.com - Petulo menjadi salah satu kudapan tradisional yang identik saat ramadan di Banyuwangi. Kudapan mirip putu mayang ini laris manis dicari pemburu takjil.

Lumer di mulut dan manis di lidah, menjadi alasan mengapa kudapan ini menempati hati para pecintanya. Ditambah kemunculannya yang diidentikkan dengan ramadan, semakin menambah rasa kangen untuk mencicipi.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

Hal itu yang menjadi berkah bagi para perajin musiman kue petulo di Banyuwangi, salah satunya Nur Hayati (50).

Ibu asal Dusun Petahunan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran ini mengaku, sejak menjelang subuh, dia sudah menyiapkan seluruh bahan pembuat petulo. Mulai dari tepung beras, tepung tapioka, santan dan gula merah.

"Siap-siapin bahan sebelum subuh. Soalnya banyak yang pesen," ungkap Nur, Sabtu (1/4/2023).

Dalam sekali produksi, Nur menghabiskan 6 kilogram tepung beras. Jumlah itu meningkat hampir dua kali lipat dari hari biasa sebelum ramadan.

"Di hari biasa buatnya gak banyak. Hanya melayani tukang sayur keliling sama pedagang pasar," jelas dia.

Saking tingginya permintaan, Nur sampai merekrut saudaranya jadi asisten dapur produksi. Termasuk menggunakan tungku cadangan untuk bisa mengukus bahan adonan.

"Tambah tungku berbahan bakar kayu. Kalau gak gitu gak nutut waktunya. Pesenan banyak," tambahnya.

Baca Juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran

Enaknya kue petulo diiringi dengan harganya yang merakyat. Seporsinya, Nur hanya membanderol dengan harga Rp2 ribu.

"Alhamdulillah, gak perlu mahal yang penting lumintu. Toh, keuntungannya bisa saya rasakan tiap tahunnya," ujarnya.

Hal serupa dirasakan Istifalah (55), perajin kue petulo asal Lingkungan Kaliasin, Kelurahan Karangrejo. Sekali produksi, dia mampu memproduksi 40 kilogram adonan. Ramadan jadi alasan di balik besarnya produksi kue petulo miliknya.

Hasilnya, rupiah deras mengalir ke dalam kantong Istifalah.

"Satu bungkus kue petulo saya jual Rp7.500 per lembar dengan isi 15. Per hari bisa dapat Rp1,5 juta," bebernya.

Baca Juga: Mandiri Gelar Safari Ramadan

Kue petulo milik Istifalah ini banyak dipesan oleh tetangga. Untuk itu ia tak perlu repot lagi menjajakan kue tersebut.

Salah satu pembeli Nur Laila (42) mengungkapkan, setiap ramadan dirinya tak pernah absen membeli kue petulo untuk hidangan berbuka puasa.

Laila menyebut, kue petulo paling enak dimakan saat masih hangat dicampur dengan santan serta gula merah dan daun pandan.

"Kue petulo emang cocok dimakan jika masih hangat," tandasnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.