Minggu, 07 Jun 2026 00:31 WIB

Reog Diklaim Malaysia, Begini Curhatan Seniman Ponorogo

Ratusan seniman Reog Ponorogo tumplek blek di Jalan Alun-alun Utara depan Patung Singa.(Foto: Mita Kusuma)
Ratusan seniman Reog Ponorogo tumplek blek di Jalan Alun-alun Utara depan Patung Singa.(Foto: Mita Kusuma)

Ponorogo - Ratusan seniman Reog Ponorogo tumplek blek di Jalan Alun-alun Utara depan Patung Singa sejak Kamis (7/4/2022) malam hingga Jumat (8/4/2022). Mereka berkumpul untuk melakukan aksi protes atas pernyataan bahwa Malaysia mau mencatatkan Reog sebagai kebudayaan negaranya ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco).

Pantauan di lokasi, para seniman membawa seluruh perangkat Reog. Termasuk gamelan untuk mengiringi tarian Reog. Tarian-tarian Reog ditampilkan. Mulai dari penari jathil, ganongan hingga puluhan dadak merak dimainkan malam itu. Mereka juga membawa banner. Di antaranya bertuliskan 'Reog Ponorogo Asli Budaya Indonesia Bukan Malaysia', 'Mas Menteri Nadiem Makariem Jangan Kau Jual Ke Malaysia' dan 'Reogku Budayaku Milik Indonesia Jangan Dijual'.

Baca Juga: Dewan Kesenian Surabaya Laporkan Dugaan Hilangnya Aset Budaya ke Polisi

Pada kesempatan ini, koordinator aksi Hadi Purnomo meminta Presiden Jokowi mengambil langkah cepat terkait eksistensi reog di mata dunia Internasional. Sesepuh reog yang biasa disapa Mbah Pur tersebut meminta Presiden Jokowi untuk mengutus Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) mendaftarkan Reog sebagai warisan budaya tak benda ke Unesco. Dia tidak ingin negara lain, terutama Malaysia, mengklaim reog milik mereka.

"Kepada Pak Nadiem Makarim yang bertanggung jawab, untuk segera mendaftarkan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya tak benda ke Unesco. Jangan sampai keduluan oleh Malaysia," ujarnya.

Baca Juga: Polemik DKS Memanas, Seniman Surabaya Turun ke Jalan

Mbah Pur menegaskan, pendaftaran Reog sebagai warisan budaya tak benda ke Unesco bersifat urgensi. Dia meminta Pemerintah Pusat untuk mendahulukan Reog untuk didaftarkan ke organisasi milik PBB itu. Sebab jika pendaftaran sampai keduluan Malaysia, masyarakat Ponorogo bahkan masyarakat Indonesia akan menyesal.

"Untuk itu, ini waktu yang tepat untuk mendaftarkan Reog ke Unesco," pungkasnya.

Baca Juga: Seniman Surabaya Besok Gelar Aksi Besar, Protes Pengusiran DKS dari Balai Pemuda

Baca Juga: Reog Ponorogo Kembali Diakui Malaysia, Ini Usaha Kang Giri

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Peringati Hari Pers Nasional, PWI Tulungagung Siapkan Literasi Media

Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyampaikan apresiasi atas dedikasi insan pers yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.