Minggu, 07 Jun 2026 11:29 WIB

Kisah Larangan Menikah Warga 2 Desa di Ponorogo

Balai Desa Sedah, Kecamatan Jenangan, Ponorogo. (Foto-foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)
Balai Desa Sedah, Kecamatan Jenangan, Ponorogo. (Foto-foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)

Ponorogo - Kisah dua warga desa di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur yang pantang bersatu karena tersandung kisah leluhurnya, benar adanya.

Kisah itu dipegang teguh warga Desa Sedah dan Desa Pintu. Pemimpin dan warga desa sepaham, jika memaksakan untuk menikah, maka hubungan rumah tangganya tidak akan bertahan lama atau akan mendatangkan malapetaka.

Baca Juga: Sinopsis Film Eva, Kisah Nyata yang Diangkat ke Layar Lebar

Desa Sedah dan Desa Pintu berada di Kecamatan Jenangan. Larangan menikah itu bermula dari kisah jejaka asal Dusun Ngadiro, Desa Pintu, yang bernama Setrowijoyo.

Setrowijoyo kala itu berniat menikahi putri cantik dari Desa Sedah yang bernama Sri Tanjung.

Namun, Bhatara Warno, bapak Sri Tanjung, tidak merestuinya karena calon menantunya itu dikenal berwatak pemarah, kejam dan keras.

"Ketika anak gadisnya dilamar oleh Setrowijoyo, Bhatara Warno tidak suka dengan wataknya dan tidak ingin anak gadisnya dinikahi, tetapi tidak berani menolak lamaran tersebut karena merasa kalah kesaktian," ucap Kepala Dusun Ngadiro, Imam Basuki.

Supaya Setrowijoyo mundur niatan melamar Sri Tanjung, Bhatara Warno mengajukan syarat pitu (tujuh). Syaratnya adalah membangun taman suruh yang diapit dua gunung, membuat lumpang dan alu, membuat payung temanten, dan paku untuk memaku gunung.

"Apabila ketujuh syarat terpenuhi dalam waktu semalam, maka Setrowijoyo boleh menikahi Sri Tanjung. Karena begitu tergila-gila pada Sri Tanjung, syarat yang begitu berat disanggupi," urai Basuki.

Setrowijoyo pun memanggil bangsa jin guna meminta bantuan mengerjakan semua syarat yang diberikan sang calon mertua. Dan benar saja, dalam semalam ia berhasil memenuhi syarat pitu yang diminta Bhatara Warno.

Balai Desa Pintu, Jenangan, Ponorogo.Balai Desa Pintu, Jenangan, Ponorogo.

Baca Juga: Kang Giri Kirim Usulan UMK Ponorogo 2024 ke Pemprov Jatim

Usai menyampaikan kabar ke Bhatara Warno, sang calon mertua pun datang diiringi keluarga dan tetangga. Mereka mengamati satu per satu ketujuh syarat yang diberikan.

Usai meneliti syarat yang dipenuhi Setrowijoyo, Bhatara Warno mengatakan bahwa yang dikerjakan Setrowijoyo hanyalah permainan anak kecil, karena terbuat dari batu saja.

Merasa dipermalukan, Setrowijoyo pun marah. Ia menanyakan sekali lagi apakah dirinya bisa menikahi Sri Tanjung.

"Bhatara Warno menjawab untuk menanyakan sendiri pada Sri Tanjung," jelas Basuki.

Sayangnya Sri Tanjung tidak menanggapi dan membuat Setrowijoyo murka. Sri Tanjung diubahnya menjadi batu dan dibuang ke wilayah Gunung Gawe. Alu, payung, dan lainnya dibuang semua.

Baca Juga: Dewan Pengupahan Kabupaten Ponorogo Usul Kenaikan UMK 3,98 Persen

Payung dan paku dibuang ke gunung yang kemudian dikenal dengan Gunung Sepaku. Sedangkan Bhatara Warno sendiri ngrogo sukmo (melepas sukma dari raga) dan menghilang. Namun kemudian ia tidak bisa kembali dan mati disusul Setrowijoyo.

"Dari kisah itu antara warga Desa Pintu dan Desa Sedah tidak bisa bersatu," terang Basuki.

Menurut Basuki, pernah sekali warga dua desa nekat untuk menikah. Namun akhirnya keduanya bercerai.

"Ada satu pasangan itu saja yang berani. Lainnya ndak ada," pungkasnya.

Editor : Arina Pramudita
Berita Terbaru

Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi nyata antara koperasi, petani, dan pelaku industri.

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.