Rabu, 24 Jun 2026 01:52 WIB

Perajin di Kampung Tas Gadukan Menyusut, Ini Alasannya

Ali Fatkan saat memproduksi tas/Foto: Arry Saputra.
Ali Fatkan saat memproduksi tas/Foto: Arry Saputra.

jatimnow.com – Sejak 2010 lalu, Ali Fatkan merintis sebagai perajin tas di kampung Gadukan Baru, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya. Ia bahkan sudah menjadi generasi penerus ketiga.

Dengan modal ia pernah menjadi pekerja dan pembinaan dari pihak pemerintah seiring berjalannya waktu akhirnya memutuskan untuk memulai usahanya sendiri.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Ali mengaku, terpaksa berpindah haluan dari yang awalnya berinovasi mengikuti tren model agar tidak tertinggal dengan produk pabrikan ternama, kini hanya memenuhi permintaan para konsumen untuk setiap pemesanannya.

Baca juga: Geliat Kampung Gadukan, Tempat Perajin Tas Terbesar di Surabaya

"Kalau saya pribadi untuk pelanggan biasanya membawa contoh sendiri dengan keperluannya apa mau di buat apa,” ujar Ali.

Hal ini ia lakukan karena kondisi bahan baku yang mulai naik dan harga tas tergolong murah, serta sumber daya yang kurang memadai.

“Kami mengambil segmen menengah ke bawah dari kisaran harganya mulai Rp 25 ribu sampai Rp 60 ribu. Bahan dan aksesoris yang digunakan juga lebih tipis,” ungkapnya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Akhir Pekan Ini: Cerah

Baca juga: Perajin Tas Kampung Gadukan Bertahan dari Gempuran Tren Pabrikan

Kendala serius yang dihadapi para perajin tas saat ini adalah terbatasnya tenaga kerja (SDM) di bidang pengerjaan.

“Banyak yang dulunya orang tua mereka sebagai perajin dan tidak ada penerus dari generasinya kerena merasa kurang cocok menjadi pekerja di industri tas. Namun seiring berjalannya waktu banyak yang gulung tikar dan perajin hanya memiliki dua sampai tiga pekerja saja jadi penyelesaian tas lebih lama,” keluh bapak dua anak asal Tulungagung ini.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Untuk mengembangkan usahanya, diakui Ali tidaklah mudah. Bapak dua anak ini bahkan sempat gulung tikar hingga tiga kali pada saat memulai usahanya tersebut. “Awalnya saya gemetaran waktu menawarkan tas hasil buatan saya ke toko toko. Apalagi waktu itu saya kurang memerhatikan pengeluaran dan pemasukan," ujarnya.

Hingga saat ini, jumlah perajin di kampung tas ini kian menyusut. Dari yang awalnya 60 perajin kini mulai berkurang hingga 40 perajin saja di kampung Gadukan.

Reporter : Arry Saputra
Editor: Erwin Yohanes

Editor : Erwin Yohanes
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.