Kamis, 25 Jun 2026 01:49 WIB

Kisah Putri Kiai Gede dan Seruling Merdu di Telaga Bungah Gresik

Telaga Dusun Dukuh, Desa/Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik yang diperkirakan menjadi tempat tenggelamnya Putri Kiai Gede
Telaga Dusun Dukuh, Desa/Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik yang diperkirakan menjadi tempat tenggelamnya Putri Kiai Gede

jatimnow.com - Desa/Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik tak akan lepas dari nama Kiai Gede, salah satu santri Sunan Giri yang melakukan syiar Islam di kawasan tersebut. Berkat jasanya sekitar 500 tahun lalu, hingga kini masyarakat Bungah begitu menghormatinya.

Dalam buku Sang Gresik Bercerita Lagi (SGBL) yang diterbitkan Yayasan Mataseger (Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik), dikisahkan cerita tentang dua anak Kiai Gede yang meninggal dunia pada usia muda.

"Kiai Gede punya dua anak. Pertama adalah laki-laki, dia bergabung dengan tentara Kerajaan Demak yang berperang melawan Portugis di kawasan Malaka. Namun dia tidak pernah kembali karena Demak mengalami kekalahan. Bisa jadi dia meninggal di medan perang," kata Ketua Yayasan Mataseger, Kris Adji, Minggu (19/4/2020).

Sedangkan anak kedua Kiai Gede adalah seorang perempuan. Ketika anaknya itu menginjak dewasa Kiai, Gede berniat menjodohkannya dengan salah satu santri asal Desa Bedanten, yang wilayahnya masih termasuk dalam Kecamatan Bungah.

"Karena sang putri telah memiliki kekasih, tawaran Kiai Gede pun ditolak lembut. Meski begitu Kiai Gede bersikap bijaksana dengan menghargai pilihan putrinya," terang Kris.

Makam Putri Kiai GedeMakam Putri Kiai Gede

Hingga pada suatu hari putri Kiai Gede itu kehilangan alat pintal benang miliknya. Setelah dicari ke mana-kemana, tapi alat pintal itu tak kunjung ditemukan. Setelah lelah mencari, putri Kiai Gedhe putus asa dan akhirnya membuat sayembara.

"Dalam sayembara tersebut, putri Kiai Gede berucap bagi siapa saja yang menemukan alat pintalnya. Jika perempuan akan dijadikan saudara dan jika laki-laki akan dia jadikan suami," ucap pria yang berprofesi sebagai guru di SMA NU 1 Gresik itu.

Selang beberapa waktu setelah sayembara diumumkan, seorang pemuda menemukan alat pintal putri Kiai Gede yang hilang. Namun betapa terkejutnya putri Kiai Gede begitu mengetahui jika pemuda yang menemukan alat pintalnya itu adalah santri Kiai Gede asal Desa Bedanten yang sebelumnya akan dijodohkan dengannya.

Janji telah terucap, meski dengan berat hati putri Kiai Gedhe pasrah menerima santri asal Desa Bedanten itu sebagai calon suaminya. Suasana hati putri Kiai Gede masih diselimuti kesedihan karena harus memutus hubungan asmara dengan kekasihnya yang selama ini dia cintai.

Putri Kiai Gede terus dihantui perasaan bersalah hingga menjelang hari pernikahan. Hingga pada sebuah sore ketika putri Kiai Gedhe beserta dua santri perempuan hendak mandi di sebuah telaga yang berada di antara Dusun Kaliwot dan Dusun Dukuh, putri Kiai Gede mendengar suara seruling yang begitu merdu, tapi iramanya menyayat hati.

"Karena penasaran, putri Kiai Gede lantas mencari dari mana asal suara seruling tersebut. Dalam pencarian itu putri Kiai Gede semakin terbawa perasaan sedih hingga dia tak menyadari dirinya telah berada di tengah telaga. Dia pun tenggelam," tutur Kris.

Melihat kejadian itu, dua santri perempuan yang menemaninya panik kemudian berlari memanggil Kiai Gede. Tak lama Kiai Gede bersama warga tiba di telaga untuk mencari. Beberapa saat kemudian warga berhasil menemukan putri Kiai Gede di dasar telaga dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

"Anehnya ketika jasad sang putri hendak dibawa pulang, Kiai Gede dan warga tidak sanggup mengangkat. Sepertinya sang putri ingin jasadnya dimandikan di telaga tersebut," ujarnya.

Seusai dimandikan, Kiai Gede berniat membawa jenazah putrinya ke rumah untuk di salatkan dan dimakamkan di belakang masjid Bungah. Namun kejadian ganjil kembali terjadi, jenazah itu terasa sangat berat hingga tak ada yang sanggup mengangkatnya.

"Namun saat diangkat menuju arah utara, tiba-tiba jenazah putri Kiai Gede menjadi ringan sehingga warga yang mengangkat tak mengalami kesulitan lagi. Akhirnya putri Kiai Gede di salatkan sekaligus dimakamkan di utara telaga yang kini masuk wilayah Dusun Dukuh," tutur Kris.

Kris menambahkan, dari cerita di atas bisa diambil kesimpulan bahwa bisa jadi Kiai Gede Bungah tak lagi memiliki generasi penerus dikarenakan dua anaknya telah meninggal dunia pada usia muda.

Putranya meninggal saat berperang membela Kerajaan Demak melawan Portugis di Malaka. Sementara putrinya meninggal karena tenggelam di telaga.

"Begitulah kurang lebih kisah singkat putri Kiai Gede yang tenggelam akibat terhipnotis suara seruling yang menyayat hati. Kabarnya setiap tahun warga Dusun Dukuh selalu memperingati haul putri Kiai Gede tersebut," pungkas Kris Adji.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.