Sabtu, 06 Jun 2026 07:57 WIB

Melihat Tradisi Serba Jawa di Ponpes Tawangsari Tulungagung

Para santri Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat Jawa saat belajar
Para santri Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat Jawa saat belajar

jatimnow.com - Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Tulungagung mempunyai tradisi unik. Mereka mewajibkan santrinya untuk mengenakan pakaian adat Jawa, lengkap dengan blangkon.

Pengasuh Madarasah Diniyah Zumrotus Salamah, Abdillah Subkhi menuturkan, penggunaan pakaian adat Jawa itu merupakan upaya pengurus madrasah, agar para santri tidak lupa jati dirinya sebagai masyarakat Jawa.

Baca Juga: Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Abdillah menambahkan, penggunaan pakaian adat Jawa ini sudah dilakukan sejak empat tahun lalu. Para santri diajak untuk mempunyai rasa memiliki dan bangga terhadap kebudayaan serta tradisi masyarakat Jawa.

"Mereka dilibatkan dalam rangka melestarikan tradisi dan budaya, dengan mengenakan pakaian adat ini. Kebijakan ini merupakan bentuk arahan kepada santri untuk menumbuhkan rasa ikut memiliki kebudayaan Jawa," ujar Abdillah, Rabu (23/10/2019).

Baca Juga: Datangi DPRD, PPPK Paruh Waktu di Tulungagung Wadul Gaji Tak Layak

Para Siswa Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat JawaPara Siswa Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat Jawa

Meski bergitu, materi yang diajarkan di madrasah ini, tidak berbeda dengan lainnya. Selain baca tulis Al Quran, sejumlah kitab klasik seperti Taklimut Mutaalim dan Aqidatul Awam, juga diajarkan. Yang membedakan yaitu proses menyamaikan materi, yaitu guru atau ustaz menggunakan bahasa Jawa.
"Percakapan antara santri dan guru juga menggunakan Bahasa Jawa. Mereka dilarang untuk menggunakan bahasa lain. Jadi pengenalan terhadap jati diri mereka, kita ajarkan sejak dini, sehingga saat sudah dewasa, mereka tidak kehilangan jati dirinya sebagai masyarakat Jawa," tambahnya.

Baca Juga: Penutupan Jalan Utama Tulungagung - Trenggalek Tertunda, Ini Alasannya

Penggunaan pakaian adat Jawa itu, dirasa oleh santri tidak merepotkan. Meski terlihat sedikit ribet, mereka mengaku nyaman mengenakan pakaian tersebut.

"Selain bisa belajar ilmu agama, kita juga ikut serta melestarikan budaya Jawa," ungkap salah satu santri, Muhammad Millahul Barik.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

BMKG imbau warga selalu waspada potensi perubahan cuaca yang bisa terjadi kapan pun.