Selasa, 21 Jul 2026 23:17 WIB

Melihat Tradisi Serba Jawa di Ponpes Tawangsari Tulungagung

Para santri Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat Jawa saat belajar
Para santri Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat Jawa saat belajar

jatimnow.com - Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Tulungagung mempunyai tradisi unik. Mereka mewajibkan santrinya untuk mengenakan pakaian adat Jawa, lengkap dengan blangkon.

Pengasuh Madarasah Diniyah Zumrotus Salamah, Abdillah Subkhi menuturkan, penggunaan pakaian adat Jawa itu merupakan upaya pengurus madrasah, agar para santri tidak lupa jati dirinya sebagai masyarakat Jawa.

Baca Juga: Dugaan Korupsi Kanjengan, Mantan Bupati Tulungagug Maryoto Diperiksa Kejaksaan

Abdillah menambahkan, penggunaan pakaian adat Jawa ini sudah dilakukan sejak empat tahun lalu. Para santri diajak untuk mempunyai rasa memiliki dan bangga terhadap kebudayaan serta tradisi masyarakat Jawa.

"Mereka dilibatkan dalam rangka melestarikan tradisi dan budaya, dengan mengenakan pakaian adat ini. Kebijakan ini merupakan bentuk arahan kepada santri untuk menumbuhkan rasa ikut memiliki kebudayaan Jawa," ujar Abdillah, Rabu (23/10/2019).

Baca Juga: Sensus Ekonomi di Tulungagung Sudah Capai 45 Persen, Bulan Depan Rampung

Para Siswa Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat JawaPara Siswa Madrasah Diniyah Zumrotus Salamah di Pondok Pesantren Tawangsari, Tulungagung menggunakan pakaian adat Jawa

Meski bergitu, materi yang diajarkan di madrasah ini, tidak berbeda dengan lainnya. Selain baca tulis Al Quran, sejumlah kitab klasik seperti Taklimut Mutaalim dan Aqidatul Awam, juga diajarkan. Yang membedakan yaitu proses menyamaikan materi, yaitu guru atau ustaz menggunakan bahasa Jawa.
"Percakapan antara santri dan guru juga menggunakan Bahasa Jawa. Mereka dilarang untuk menggunakan bahasa lain. Jadi pengenalan terhadap jati diri mereka, kita ajarkan sejak dini, sehingga saat sudah dewasa, mereka tidak kehilangan jati dirinya sebagai masyarakat Jawa," tambahnya.

Baca Juga: 88 Persen SD di Tulungagung Gagal Penuhi Pagu Saat SPMB

Penggunaan pakaian adat Jawa itu, dirasa oleh santri tidak merepotkan. Meski terlihat sedikit ribet, mereka mengaku nyaman mengenakan pakaian tersebut.

"Selain bisa belajar ilmu agama, kita juga ikut serta melestarikan budaya Jawa," ungkap salah satu santri, Muhammad Millahul Barik.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.