jatimnow.com - Gempuran moda transportasi yang bisa dipesan serba online serta mudahnya masyarakat mendapatkan kredit kendaraan bermotor membuat angkutan dalam kota (angkot) di Jombang kian terkikis.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jombang, Budi Winarno menjelaskan, berdasarkan data yang dimiliki dinasnya, hingga Tahun 1999 ada 25 trayek angkutan umum di wilayahnya.
Baca juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir
"Namun sejak Tahun 2005 sampai 2010, dengan perkembangan transportasi roda dua, otomatis animo masyarakat terkait dengan angkutan massal yang digunakan masyarakat ini menurun," ungkap Budi, Rabu (25/1/2023).
Selain itu, lanjut Budi, banyak armada-armada baru yang menawarkan kenyamanan untuk penumpang.
"Seperti bus antar kota, dilanjutkan lagi dengan elf-elf dan sebagainya. Maka secara otomatis dari trayek yang 25 itu, pada Tahun 2005 sampai 2010 sudah berkurang tinggal hingga 8 trayek," papar dia.
Berkurangnya trayek yang saat ini hanya tersisa 8 juga diikuti jumlah angkot.
"Jumlah angkutan dari 183 armada itu sekarang tinggal 87 armada. Dan dari 87 armada itu tingkat operasinya itu tidak bisa 100 persen. Hanya sekitar 45 hingga 60 persen," beber Budi.
Baca juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang
Saat ini, para pemilik armada yang dulunya tergabung dalam organisasi angkutan darat (organda), juga sudah berdiri sendiri.
"Pemilik angkutan itu dulu tergabung dalam organda, sekarang organda sudah tidak ada lagi. Secara normatif angkutan itu milik pribadi-pribadi. Sehingga sangat bergantung pada driver," ujarnya.
Menurutnya, para driver angkot baru beroperasi ketika mendapat peluang. Sehingga tingkat operasi angkot di Jombang dipastikan tidak sampai 100 persen.
Baca juga: Jombang Terancam Krisis Mikroplastik, Limbah Domestik Jadi Biang Kerok
Budi menjelaskan, untuk trayek angkot dalam kota, biasanya driver sudah mendapat pelanggan tetap, seperti anak sekolah.
"Kalau yang trayek dalam kota, biasanya itu sudah abonemen, untuk anak-anak sekolah. Jadi hanya jam keberangkatan dan pulang sekolah, karena sudah langganan," tambah dia.
Editor : Narendra Bakrie