Kamis, 11 Jun 2026 00:26 WIB

Melongok Kebangkitan Batik Tulis di Ponorogo

  • Penulis : Mita Kusuma
  • | Minggu, 09 Des 2018 12:34 WIB
Proses pembuatan batik tulis khas Ponorogo
Proses pembuatan batik tulis khas Ponorogo

jatimnow.com - Di era tahu 1950 hingga 1980-an, Ponorogo sempat menjadi sentra batik tulis. Pada era itu, di sepanjang Jalan Batoro Katong, Kelurahan Kertosari, banyak terdapat home industry batik tulis.

Namun, dari sejumlah home industry yang ada, tersisa hanya 10 home industry batik tulis saja. 10 home industry batik tulis yang tersisa di Ponorogo tersebut tak lagi tersentral, melainkan terpencar di beberapa wilayah.

Baca Juga: Gubes Unitomo Prof Ully Dorong Batik Tulis Jadi Kekuatan Industri Fashion Dunia

Salah satu home industry batik tulis yang ada yaitu Batik Lesoeng di Jalan Jaksa Agung, Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo. Di sini, pemilik sekaligus perajin batik, Kristin Heri Purnawati sengaja membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat yang ingin melihat pembuatan batik Ponorogo secara langsung.

Batik tulis yang dikerjakan Kristin memiliki berbagai motif menarik, diantaranya batik bergambar bulu merak, dadak merak, gamelan serta berbagai pertunjukkan reog. “Saya memang sengaja membuat banyak motif. Karena ingin menghidupkan kembali batik tulis khas Ponorogo,” ungkapnya, Minggu (9/12/2018).

Ia menjelaskan, bagi masyarakat yang ingin belajar membatik bisa langsung ke tempatnya. Karena di belakang tokonya, terdpat 5-6 orang yang setiap hari memproduksi batik, mulai dari menggambar pola batik, mencanting hingga pewarnaan.

“Setiap hari boleh kok melihat ke sini. Karena membatik itu memakan waktu yang lama. Tergantung motif yang dibuat,” bebernya.

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Menurutnya, membuat batik tulis memang harus telaten. Tidak seperti batik cap atau batik sablon, yang hanya memakan waktu dua hari.

Kristin mengaku, awalnya ia membuat motif batik mataraman. Tapi keinginannya menghidupkan kembali batik tulis khas Ponorogo, membuatnya beralih membuat batik bermotif Ponorogo.

“Batik di sepanjang pulau jawa motifnya hampir sama. Mulai dari Yogyakarta, Solo, Pacitan, Ponorogo, Tulungagung higgga Trenggalek motifnya hampir sama semua. Tapi untuk Ponorogo, sekarang saya buat berbeda,” ungkapnya.

Baca Juga: Delegasi 13 Negara Ulik Inovasi Limbah Batik di SMP YPPI 1 Surabaya

Sementara, salah satu pembeli mengatakan sengaja mendatangi toko Lesoeng karena ingin melihat langsung proses pembuatan batik di sana. “Saya penasaran ingin melihat langsung pembuatan batik tulis di sini. Karena saya yakin berbeda dengan batik cap yang ada di pasaran,” tambahnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.